-->

Berita Terbaru

Subscribe Here!

Enter your email address. It;s free!

Delivered by FeedBurner

Garda Revolusi Iran Klaim Serang Kapal Tanker Minyak AS di Perairan Teluk

By On Kamis, Maret 05, 2026

Ilustrasi Konflik Iran dan AS. 

TEHERAN KabarViral79.Com - Perang antara Amerika Serikat (AS) vs Iran makin panas usai Garda Revolusi Iran melancarkan serangan rudal ke kapal tanker AS di perairan Teluk. 

Akibatnya, dilaporkan kapal tanker AS terbakar karena serangan itu. 

Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) dalam pernyataannya, seperti dilaporkan televisi pemerintah Teheran dan dilansir dari AFP, Kamis, 05 Maret 2026, mengklaim bahwa kapal tanker AS itu "terkena rudal di sebelah utara Teluk Persia". 

"Saat ini terbakar," sebut IRGC dalam pernyataannya, merujuk pada kapal tanker AS yang diserang pasukannya. 

Serangan rudal Iran terhadap kapal tanker AS ini belum dikonfirmasi secara independen.

Insiden ini terjadi ketika IRGC mengumumkan bahwa mereka kini memiliki "kendali penuh" atas perairan Selat Hormuz, yang menghubungkan Teluk Persia ke Samudra Hindia dan merupakan jalur pelayaran vital untuk minyak juga gas. 

IRGC memperingatkan, setiap kapal yang berusaha melewati jalur perairan strategis itu, berisiko mengalami kerusakan akibat rudal atau drone yang nyasar. 

Selat Hormuz ditutup sejak AS dan Israel melancarkan gelombang serangan terkoordinasi terhadap Iran pada Sabtu, 28 Februari 2026,waktu setempat. 

Iran membalas dengan serangan rudal dan drone terhadap target-target di Israel dan pangkalan-pangkalan AS di negara-negara Teluk. 

Diketahui sebelumnya, IRGC mengklaim telah menyerang sebuah kapal militer AS di Samudra Hindia, ratusan kilometer jauhnya dari perbatasan Iran. 

Kapal perusak AS yang sedang mengisi bahan bakar dari kapal tanker Amerika di Samudra Hindia itu, klaim IRGC, dihantam oleh rudal Ghadr-380 dan rudal Talaeieh. 

IRGC menyebut serangan rudal itu sebagai "serangan dahsyat" karena dilancarkan terhadap target yang berada di perairan yang berjarak lebih dari 600 kilometer dari pantai selatan Iran. 

Kapal perusak AS itu sedang mengisi bahan bakar dari kapal tanker Amerika saat dihantam rudal, maka menurut kesimpulan intelijen IRGC, serangan itu memicu "kebakaran meluas" pada kedua kapal militer tersebut, yang menyebabkan kepulan asap membubung ke langit di atas lautan. 

Namun AS belum menanggapi klaim serangan-serangan Iran tersebut. (*/red)

Iran Serang Kapal Perusak AS di Samudra Hindia dengan Dua Jenis Rudal

By On Rabu, Maret 04, 2026

Garda Revolusi Iran tembakkan roket dari sejumlah kapal dalam latihan militer di perairan Teluk pada Januari 2025. 

TEHERAN, KabarViral79.Com - Garda Revolusi Iran mengumumkan pasukannya telah meluncurkan rudal ke sebuah kapal perusak Amerika Serikat (AS) di Samudra Hindia, ratusan kilometer jauhnya dari perbatasan Iran. 

Garda Revolusi mengklaim bahwa serangan rudalnya menghantam kapal perang AS tersebut. 

Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRCG), seperti dilansir dari Kantor Berita Tasnim dan Press TV, Rabu, 04 Maret 2026, menyatakan bahwa sebuah kapal perusak AS yang sedang mengisi bahan bakar dari kapal tanker Amerika di Samudra Hindia, telah dihantam oleh rudal Ghadr-380 dan rudal Talaeieh

Serangan rudal itu dilancarkan oleh pasukan Angkatan Laut IRGC. 

Rudal Ghadr merupakan rudal balistik jarak menengah (MRBM) dengan jangkauan hingga 2.000 kilometer, yang dirancang untuk serangan presisi dan pengerahan cepat. 

Sedangkan Rudal Talaeieh merupakan sistem Rudal jelajah strategis yang mampu mencapai target hingga 1.000 kilometer jauhnya. 

Rudal ini diklaim sebagai rudal pintar yang dapat mengubah target di tengah misi, yang semakin menambah kemampuan strategisnya. 

Menurut IRGC, target serangan itu terletak di perairan yang berjarak lebih dari 600 kilometer dari pantai selatan Iran saat "serangan dahsyat" itu dilancarkan. 

Dengan kapal perusak AS itu sedang mengisi bahan bakar dari kapal tanker Amerika saat dihantam rudal, maka menurut kesimpulan intelijen IRGC, serangan itu memicu "kebakaran meluas" pada kedua kapal militer tersebut, yang menyebabkan kepulan asap membubung ke langit. 

Iran terus melancarkan serangan terhadap target-target Israel dan AS untuk membalas serangan yang dilakukan kedua negara itu sejak Sabtu lalu, 28 Februari 2026. 

Rentetan serangan AS-Israel itu menewaskan sejumlah tokoh penting dan pejabat tinggi Teheran, termasuk pemimpin tertinggi negara tersebut, Ayatollah Ali Khamenei

Laporan terbaru Bulan Sabit Merah Iran menyebutkan, sejauh ini, sedikitnya 787 orang tewas akibat gelombang serangan AS-Israel. 

Iran membalas dengan serangan Rudal dan Drone terhadap target-target di Israel dan pangkalan-pangkalan AS, serta aset militer AS, di negara-negara Teluk. 

IRGC mengumumkan pasukannya telah menyerang sejumlah target sensitif dan strategis di wilayah pendudukan Israel, selain melancarkan serangan balasan terhadap banyak kepentingan Amerika di seluruh kawasan Teluk, termasuk yang berada di Qatar, Uni Emirat Arab, dan Kuwait. 

Kapal Induk AS, USS Abraham Lincoln, yang ada di kawasan itu juga disebut menjadi target serangan IRGC, yang bertekad melanjutkan serangan hingga "kekalahan total" musuh. (*/red)

AS-Israel Terus Lancarkan Serangan, Ratusan Warga Iran Mengungsi ke Pakistan

By On Selasa, Maret 03, 2026

Ilustrasi kepulan asap di Iran

TEHERAN, KabarViral79.Com - Amerika Serikat (AS) dan Israel terus melancarkan serangan ke Iran. Sebanyak 300 warga Iran memutuskan mengungsi ke Pakistan

Dilansir dari BBC, Selasa, 03 Maret 2026, sebanyak 300 warga Iran telah tiba di Pakistan, tepatnya di Provinsi Balochistan. Provinsi ini berbatasan dengan Iran. 

Balochistan merupakan salah satu wilayah yang bergejolak. Wilayah ini merupakan rumah bagi kelompok-kelompok separatis yang melakukan pemberontakan selama beberapa dekade. 

Diketahui, para pemimpin Pakistan saat ini tengah menyeimbangkan hubungan dengan AS. Tahun lalu, Pakistan menominasikan Presiden Trump untuk Nobel Perdamaian seiring meningkatnya hubungan baik dengan AS. 

Namun, meskipun mayoritas penduduknya adalah Sunni, terdapat komunitas Syiah di Pakistan yang sangat menentang perang di Iran. 

Terbaru, Israel melancarkan serangan ke Ibu Kota Iran, Teheran. Ledakan terdengar di langit-langit Teheran. 

Israel mengklaim serangan tersebut menargetkan komandan senior Republik Islam Iran di Teheran. Namun Israel tak merinci siapa yang ditargetkan. 

Bulan Sabit Merah Iran melaporkan, jumlah korban tewas akibat gelombang serangan AS dan Israel. Lebih dari 780 orang tewas di berbagai wilayah Iran sejak rentetan serangan dilancarkan pada Sabtu, 28 Februari 2026, waktu setempat. (*/red)

Siswa Keracunan MBG di Bireuen Diduga Terima Uang Tunai Rp 200 Ribu Saat Dirawat, Pengelola Program Belum Beri Penjelasan

By On Senin, Maret 02, 2026

Siswa yang mengalami keracunan MGB hingga kini masih menjalani perawatan di Puskesmas Simpang Mamplam, Bireuen. 

BIREUEN, KabarViral79.Com - Puluhan siswa yang mengalami gangguan kesehatan usai mengonsumsi menu program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Simpang Mamplam, Kabupaten Bireuen, Aceh, dilaporkan menerima uang tunai saat menjalani perawatan medis. 

Informasi yang dihimpun menyebutkan, para siswa yang sempat dirawat di Puskesmas Simpang Mamplam masing-masing menerima uang sebesar Rp 200 ribu. 

Pemberian uang tersebut diduga berasal dari pihak pelaksana program MBG di tingkat kecamatan. 

Salah satu wali murid yang enggan disebutkan namanya membenarkan adanya pembagian uang tersebut. 

Ia menyebut, uang diberikan ketika anaknya masih berada dalam proses pemeriksaan dan perawatan di Puskesmas. 

"Saat kami di Pukesmas memang benar ada diberikan uang Rp 200 ribu. Informasinya dari pengelola MBG kecamatan untuk anak-anak yang dirawat,” ujarnya kepada wartawan, Minggu, 01 Maret 2026. 

Meski menerima uang itu, para orang tua menegaskan bahwa fokus utama tetap pada pemulihan kesehatan anak-anak mereka. 

Sebelumnya, para siswa mengalami keluhan mual, muntah, dan pusing setelah menyantap menu MBG yang dibagikan pihak sekolah. 

Hingga berita ini diturunkan, belum ada penjelasan resmi mengenai tujuan pemberian uang tersebut—apakah dimaksudkan sebagai bentuk bantuan selama perawatan atau sebagai bentuk kepedulian dari pelaksana program di lapangan. 

Pihak pengelola MBG Kecamatan Simpang Mamplam juga belum memberikan keterangan rinci terkait sumber dana maupun alasan pemberian uang tunai kepada siswa yang dirawat. 

Seperti diberitakan sebelumnya, puluhan siswa di salah satu sekolah di Simpang Mamplam harus mendapat penanganan medis akibat gejala yang diduga terkait keracunan makanan. 

Dinas Kesehatan setempat telah mengambil sampel makanan untuk diuji di laboratorium guna memastikan penyebab pasti kejadian tersebut.(Joniful Bahri)

Khamenei dan Tujuh Pejabat Tinggi Iran Terbunuh dalam Serangan AS-Israel

By On Senin, Maret 02, 2026

Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei

TEHERAN, KabarViral79.Com - Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei tewas dalam perang yang dimulai oleh serangan Israel dan Amerika Serikat (AS) ke negaranya.

elain Khamenei, sejumlah pejabat hingga putri dan cucu Khamenei juga tewas dalam serangan itu. 

Diketahui sebelumnya, Presiden AS, Donald Trump mengumumkan kematian Khamenei akibat serangan Israel dan AS di Iran, pada Sabtu, 28 Februari 2026. 

"Khameini, salah satu orang paling jahat dalam sejarah, telah mati," ujar Trump di jaringan media Social Truth miliknya, dilansir AFP. 

Pada Minggu, 01 Maret 2026, Iran mengkonfirmasi tewasnya Pemimpin Tertinggi mereka, Ali Khamenei, akibat serangan tersebut. Iran juga mengumumkan masa berkabung selama 40 hari. 

Dilansir dari CNN dan AFP, selain Khamenei, putri, menantu hingga cucu sang Pemimpin Tertinggi Iran itu juga tewas. 

Tak hanya itu, Komandan Garda Revolusi Iran, Mohammad Pakpour dan Menteri Pertahanan, Aziz Nasirzadeh juga tewas. 

Berikut daftar pejabat dan keluarga Khamenei yang tewas: 

1. Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei 

2. Komandan IRGC Mayor Jenderal, Mohammad Pakpour 

3. Sekretaris Dewan Pertahanan Iran, Ali Shamkhani 

4. Menteri Pertahanan, Aziz Nasirzadeh 

5. Pejabat Intelijen Iran, Saleh Asadi 

6. Pejabat Penelitian Iran, Hossein Jabal Amelian 

7. Pejabat Penelitian Iran, Reza Mozaffari-Nia 

8. Penghubung pertahanan senior Iran, Mohammed Shirazi 

9. Putri Khamenei 

10. Menantu Khamenei 

11. Cucu Khamenei 


(*/red)

Irak Umumkan Tiga Hari Berkabung Nasional untuk Khamenei

By On Minggu, Maret 01, 2026

Pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei

JAKARTA, KabarViral79.Com - Pemerintah Irak mengumumkan tiga hari masa berkabung nasional atas pembunuhan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei. Irak ikut berduka. 

"Dengan kesedihan dan dukacita yang mendalam, kami menyampaikan belasungkawa kepada rakyat Iran yang terhormat dan seluruh umat Islam atas kemartiran ulama dan mujahid, Pemimpin Tertinggi, Yang Mulia Ayatollah Sayyid Ali al-Husseini al-Khamenei, yang kami anggap sebagai salah satu tokoh utama keluarga Nabi," kata Juru Bicara Pemerintah Irak, Bassem Al-Awadi, dalam pernyataan yang dimuat oleh Kantor Berita Irak (INA) seperti dilansir Al-Jazeera, Minggu, 01 Maret 2026. 

Irak menyatakan, serangan ke Iran merupakan tindakan tercela. 

Irak menganggapnya sebagai pelanggaran terhadap hukum internasional

"Sebagai akibat dari agresi yang terang-terangan dan tindakan tercela yang melanggar semua norma kemanusiaan dan moral, dan jelas melanggar hukum dan konvensi internasional," ujarnya. 

Khamenei tewas dalam serangan yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel ke Iran pada Sabtu, 28.Februari 2026. 

Iran kemudian mengumumkan masa berkabung selama 40 hari dan 7 hari libur nasional untuk berduka atas tewasnya Khamenei. 

Selain itu, Iran juga meluncurkan serangan balasan ke 27 pangkalan AS di kawasan Arab. Salah satu pangkalan AS yang menjadi target serangan balasan Iran berada di Irak. (*/red) 

Video: Puluhan Siswa di Bireuen Dilarikan ke Rumah Sakit, Diduga Keracunan MBG

By On Sabtu, Februari 28, 2026

BIREUEN, KabarViral79.Com - Ratusan siswa dan siswi di kawasan Simpang Mamplam, Kecamatan Samalanga, Kabupaten Bireuen, Aceh, diduga mengalami keracunan makanan setelah menyantap hidangan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada Rabu, 26 Februari 2026 kemarin. 

Peristiwa tersebut berawal saat pembagian makanan pada jam istirahat sekolah. Selang beberapa waktu, para siswa mulai merasakan gejala seperti mual, muntah, pusing, dan sakit perut. 

Aparat Kepolisian menyatakan akan melakukan penyelidikan menyeluruh untuk memastikan sumber penyebab keracunan. 

Berdasarkan informasi di lapangan, paket makanan MBG dikirimkan ke rumah siswa pada Kamis sore sebagai penyesuaian selama bulan Ramadan

Namun sejumlah wali siswa menilai kualitas makanan yang diterima kurang layak. 

Salah seorang wali siswa menyebut paket tersebut berisi dua butir telur, dua roti kecil, lima butir kurma, satu jeruk, satu pisang, empat butir bakso, dan satu bungkus kecil kacang polong. 

“Beberapa bahan makanan terlihat kurang segar. Kami berharap ke depan kualitas makanan lebih diperhatikan,” ujarnya berharap perbaikan dan pengawasan lebih ketat terhadap kualitas pangan. 

Tim medis melaporkan sedikitnya 140 siswa telah mendapatkan penanganan medis di berbagai fasilitas kesehatan, di antaranya di RSUD dr. Fauziah, RS BMC, RS Jeumpa Hospital, RSU Pidie Jaya

Selain itu juga dirawat di Puskesmas Pandrah, Puskesmas Samalanga, dan Puskesmas Jeunieb. 

Evakuasi dilakukan cepat oleh petugas kesehatan dari berbagai wilayah barat Bireuen bersama Tim PSC 119

Hingga Jumat dini hari, 27 Februari 2026, puluhan siswa masih menjalani penanganan medis di Puskesmas Simpang Mamplam. Kondisi para siswa dilaporkan stabil dan tetap dalam pengawasan tenaga kesehatan. (Joniful Bahri) 

Ratusan Siswa di Bireuen Diduga Keracunan Paket MBG, Puluhan Dilarikan ke Rumah Sakit Umum dan Swasta

By On Jumat, Februari 27, 2026

Puluhan siswa masih menjalani penanganan medis di Puskesmas Simpang Mamplam dan sejumlah rumah sakit di Kabupaten Bireuen pasca keracunan program MBG

BIREUEN, KabarViral79.Com - Hingga Jumat dini hari, 27 Februari 2026, puluhan siswa masih menjalani penanganan medis di Puskesmas Simpang Mamplam. 

Kondisi para siswa dilaporkan stabil dan tetap dalam pengawasan tenaga kesehatan. 

Diketahui sebelumnya, ratusan siswa dan siswi di kawasan Simpang Mamplam, Kecamatan Samalanga, Kabupaten Bireuen, Aceh, diduga mengalami keracunan makanan setelah menyantap hidangan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada Rabu, 26 Februari 2026 kemarin. 

Peristiwa tersebut berawal saat pembagian makanan pada jam istirahat sekolah. Selang beberapa waktu, para siswa mulai merasakan gejala seperti mual, muntah, pusing, dan sakit perut

Aparat Kepolisian menyatakan akan melakukan penyelidikan menyeluruh untuk memastikan sumber penyebab keracunan. 

Pemerintah daerah juga diharapkan segera mengevaluasi mekanisme pelaksanaan program MBG agar kejadian serupa tidak terulang. 

Berdasarkan informasi di lapangan, paket makanan MBG dikirimkan ke rumah siswa pada Kamis sore sebagai penyesuaian selama bulan Ramadan. 

Namun sejumlah wali siswa menilai kualitas makanan yang diterima kurang layak. Salah seorang wali siswa menyebut paket tersebut berisi dua butir telur, dua roti kecil, lima butir kurma, satu jeruk, satu pisang, empat butir bakso, dan satu bungkus kecil kacang polong

“Beberapa bahan makanan terlihat kurang segar. Kami berharap ke depan kualitas makanan lebih diperhatikan,” ujarnya berharap perbaikan dan pengawasan lebih ketat terhadap kualitas pangan. 

Tim medis melaporkan sedikitnya 140 siswa telah mendapatkan penanganan medis di berbagai fasilitas kesehatan, di antaranya di RSUD dr. Fauziah, RS BMC, RS Jeumpa Hospital, RSU Pidie Jaya. 

Selain itu juga dirawat di Puskesmas Pandrah, Puskesmas Samalanga, dan Puskesmas Jeunieb. 

Evakuasi dilakukan cepat oleh petugas kesehatan dari berbagai wilayah barat Bireuen bersama Tim PSC 119. 

Armada ambulans bergerak bolak-balik mengevakuasi korban dari Puskesmas ke rumah sakit rujukan, memastikan para siswa mendapatkan perawatan optimal. 

Hingga berita ini diturunkan, pihak Dinas Kesehatan Kabupaten Bireuen dan pengelola program MBG belum memberikan keterangan resmi mengenai penyebab gangguan kesehatan massal ini. 

Penelusuran terkait sumber makanan dan rantai distribusi masih berlangsung. 

Sebelumnya diberitakan, sedikitnya 13 siswa telah lebih dulu dirawat di Puskesmas Simpang Mamplam. 

Kepala fasilitas tersebut, Suryani, menyebutkan jumlah korban terus bertambah sejak malam kejadian. 

Peristiwa ini diharapkan menjadi perhatian serius pemerintah untuk memperkuat pengawasan keamanan pangan dan memastikan distribusi program MBG tetap aman serta layak konsumsi. (Joniful Bahri)

Puluhan Siswa SD dan TK di Simpang Mamplam Diduga Keracunan Paket Makan Bergizi Gratis

By On Jumat, Februari 27, 2026

Puluhan murid SD dan TK di Simpang Mamplam, Kabupaten Bireuen, Aceh, diduga mengalami keracunan makanan setelah mengonsumsi paket MBG, Kamis malam, 26 Februari 2026. 

BIREUEN, KabarViral79.Com - Puluhan murid Sekolah Dasar (SD) dan Taman Kanak-kanak (TK), di Kecamatan Simpang Mamplam, Kabupaten Bireuen, Aceh, diduga mengalami keracunan makanan setelah mengonsumsi paket Makan Bergizi Gratis (MBG) pada Kamis malam, 26 Februari 2026. 

Kepala Puskesmas Simpang Mamplam, Suryani mengatakan, sedikitnya 13 siswa telah mendapatkan perawatan intensif di fasilitas tersebut. 

“Sekitar 13 orang lebih saat ini sudah dirawat di Puskesmas kami. Korban terus bertambah,” ujarnya kepada wartawan. 

Karena kapasitas yang terbatas, sebagian siswa juga ditangani di sejumlah Polindes di wilayah Simpang Mamplam, termasuk Polindes Peuneulet

Sejumlah pasien kemudian dirujuk ke Puskesmas lain seperti Puskesmas Pandrah dan Puskesmas Samalanga

Suryani menjelaskan, para murid mulai berdatangan setelah berbuka puasa dengan keluhan yang diduga terkait keracunan makanan. 

"Mereka diduga keracunan usai mengonsumsi MBG yang dibagikan sore hari,” katanya. 

Seorang warga Simpang Mamplam menyebutkan, selama Ramadan, paket makanan tersebut diantar langsung ke rumah para murid. 

"Mereka mengonsumsi setelah diantar ke rumah, setelah sore hari,” ujarnya. 

Puluhan murid SD dan TK di Simpang Mamplam, Kabupaten Bireuen, Aceh, diduga mengalami keracunan makanan setelah mengonsumsi paket MBG, Kamis malam, 26 Februari 2026. 

Informasi yang diperoleh media ini menyebutkan, MBG tersebut disalurkan oleh Yayasan Bumi Produksi Gizi dengan sistem distribusi door to door selama bulan puasa untuk menghindari pembagian di sekolah. 

Perwakilan Yayasan, Zamzami mengatakan, pihaknya sedang menelusuri penyebab dugaan keracunan tersebut. 

“Kami sedang mengecek di pemasok, di mana permasalahannya. Karena kami mengambil bahan dari supplier UMKM lokal. Informasi sementara mungkin di menu bakso,” jelasnya. 

Ia menambahkan, tim yayasan telah diturunkan untuk memeriksa keseluruhan rantai produksi mulai dari bahan baku hingga penyajian. 

"Apakah dari menu atau proses lainnya, semua harus dicek,” kata Zamzami. 

Menurutnya, selama Ramadan yayasan juga menyediakan menu kering sebagai alternatif, dan seluruh menu telah melalui pengawasan ahli gizi. Namun ia mengaku belum mengetahui jumlah pasti korban maupun penyebab pasti kejadian tersebut. 

“Kami berharap tidak ada korban lanjutan. Soal pertanggungjawaban, tentu kami bertanggung jawab dan akan mengevaluasi agar kejadian serupa tidak terulang,” ujarnya. 

Hingga berita ini diturunkan, jumlah murid yang diduga terdampak masih terus bertambah dan sebagian masih dalam penanganan tenaga medis. (Joniful Bahri)

Ramadan di Bawah Terpal: Kisah Pengungsi Bireuen yang Menanti Janji Pemerintah yang Tak Kunjung Datang

By On Jumat, Februari 27, 2026

Warga terdampak banjir di Bireuen masih bertahan di tenda-tenda darurat, terlebih saat bulan Ramadan. Sejauh ini, Pemkab Bireuen belum mengusulkan pembangunan hunian sementara (Huntara). 

BIREUEN, KabarViral79.Com - Di bawah terpal lusuh yang tertiup angin malam, ratusan warga korban banjir dan tanah longsor di Kabupaten Bireuen, Aceh, menjalani Ramadan dalam kondisi yang jauh dari layak. 

Sementara hunian sementara (Huntara) dan hunian tetap (Huntap) yang dijanjikan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bireuen belum juga terlihat wujudnya, masyarakat terus bertahan dalam tenda darurat, berjuang antara hujan dan panas. 

Di Desa Balee Panah, Kecamatan Juli, suara rintik hujan yang menetes ke dalam tenda menjadi menu sehari-hari. 

Anak-anak meringkuk dalam selimut tipis, sementara orang dewasa mengipas asap kompor sambil menunggu waktu berbuka. 

Di bawah terpal yang bocor, Ramadan berubah menjadi ujian panjang yang seolah tanpa ujung. 

“Kalau hujan, lantai tenda jadi becek. Kalau panas, rasanya seperti terbakar,” keluh seorang ibu yang tinggal bersama tiga anaknya. 

Rumah Hilang, Janji Tak Terlihat

Bencana pada 26 November 2025 lalu menghancurkan hunian, tanah, dan harta warga. Namun hingga Februari 2026, mereka masih hidup dalam tenda darurat yang seharusnya hanya untuk hitungan minggu. 

Huntara tidak dibangun, sedangkan Huntap hanya dalam bentuk tiga rumah contoh yang bahkan belum layak huni. 

Warga terdampak banjir di Bireuen masih bertahan di tenda-tenda darurat, terlebih saat bulan Ramadan. 

“Kami kehilangan semuanya. Tanah pun tak ada lagi. Kalau Huntara dibangun, kita tak harus begini,” ucap seorang warga di Kecamatan Juli. 

Informasi di lapangan menunjukkan pengungsi tersebar di 28 desa di tujuh kecamatan, di antaranya Kutablang, Peusangan, Peusangan Selatan, Peusangan Siblah Krueng, Jangka, Juli, dan Jeumpa. 

Mereka bertahan dengan peralatan seadanya, kompor, ember, dan pakaian yang ditumpuk dalam kardus. 

Huntap Contoh yang Tak Bisa Ditempati

Di Desa Balee Panah, tiga rumah percontohan Huntap berdiri, tapi hanya sebagai bangunan kosong tanpa air bersih dan listrik. Warga menduga rumah itu lebih sebagai formalitas daripada upaya nyata. 

“Kalau memang serius membangun 1.000 Huntap tahap pertama, kenapa baru tiga unit dan itu pun tak selesai? Ini seperti memberi harapan palsu,” kritik warga. 

Ramadan yang Basah dan Gerah

Sahur dilakukan dalam gelap, berbuka dijalani dengan piring di atas pangkuan sambil menghindari rembesan air hujan. 

Para lansia harus tidur di tanah lembap, sementara anak-anak sering terbangun karena udara panas atau dingin malam. 

“Anak saya sampai batuk-batuk karena tidur di lantai tenda,” tutur seorang ayah yang tampak pasrah. 

Warga terdampak banjir di Bireuen masih bertahan di tenda-tenda darurat, terlebih saat bulan Ramadan. 

Ketika Para Camat Tampil Suci, Warganya Menderita

Di tengah penderitaan ini, muncul kegelisahan lain dari para pengungsi. Mereka menilai sebagian Camat seolah tampil sebagai sosok paling peduli di depan publik, padahal realitas di lapangan menunjukkan minimnya inisiatif dan empati. 

“Para Camat jangan merasa sok suci. Jangan cuma datang foto-foto dan pura-pura peduli. Kami hidup di bawah tenda berbulan-bulan dan mereka tahu itu,” ujar seorang pengungsi dengan nada kecewa. 

Warga menyebut, bantuan data dan usulan pembangunan sering tidak disampaikan dengan serius. Ada Camat yang hanya memberi laporan seadanya, tanpa memperjuangkan nasib pengungsi secara sungguh-sungguh. 

“Kalau Camat benar-benar kerja, tidak mungkin kami masih hidup begini,” tambah seorang ibu yang sudah tiga bulan tidur di tanah. 

Pemkab Harus Bangun, Bukan Sekadar Berjanji

Kritik mengalir tidak hanya kepada Pemkab, tetapi juga kepada perangkat kecamatan yang dianggap lambat dan tidak sensitif terhadap penderitaan warganya. 

Membangun Huntara seharusnya menjadi langkah paling realistis dan mendesak. Pemerintah tidak boleh menyandarkan solusi pada Huntap yang belum jelas waktunya. Sementara itu, setiap hari ada anak-anak yang tumbuh di dalam tenda, ada ibu-ibu yang berbuka sambil menadah air bocor, dan ada lansia yang menunggu malam sambil menahan dingin. 

“Sudah lama kami sabar. Tapi kalau pemerintah terus lambat, sampai kapan harus begini?” tanya seorang warga dengan mata berkaca-kaca. 

Ramadan bagi pengungsi Bireuen bukan hanya tentang puasa. Ini tentang bertahan hidup. Tentang menunggu janji yang tak kunjung datang. Tentang berharap pemerintah dari kabupaten hingga camat turun tangan bukan cuma dengan kata-kata, tapi dengan aksi nyata. 

Sebab tenda-tenda yang berdiri hari ini, bukan sekadar tempat berteduh. Mereka adalah bukti nyata bahwa para korban bencana sedang menunggu pemerintah untuk benar-benar hadir. (Joniful Bahri)

Di Bawah Tenda yang Sunyi Pasca Banjir Bandang, Kisah Mantan GAM dan Keluarganya di Desa Kapa

By On Jumat, Februari 27, 2026

M Amin, istrinya, dan enam anak mereka mendiami sebuah tenda darurat sederhana berdiri rapuh pasca banjir bandang di Peusangan, Bireuen.

BIREUEN, KabarViral79.Com - Di tepian jalan Desa Kapa, Kecamatan Peusangan, Kabupaten Bireuen, Aceh, sebuah tenda darurat sederhana berdiri rapuh. 

Di situlah M Amin (44), istrinya, dan enam anak mereka termasuk seorang bayi menjalani hari demi hari sejak banjir bandang dan longsor meluluhlantakkan rumah serta tempat usaha mereka hampir tiga bulan lalu. 

Ketika Ramadan tiba, tenda itu tak lebih dari ruang bertahan hidup. Panas menyengat di siang hari, lembab dan basah ketika hujan turun, menjadi rutinitas yang tak bisa mereka tolak. 

Huntara Ditolak, Harapan Pun Menggantung

Dalam kondisi serba terbatas, keluarga ini belum juga menerima Dana Tunggu Hunian (DTH), meski dua tahap telah dicairkan pemerintah. 

Namun, yang lebih membuat mereka bingung, kebijakan mengenai Hunian Sementara (Huntara) di tingkat Gampong hingga Kabupaten justru memunculkan silang pendapat. 

M Amin, mantan kombatan GAM, tak bisa menyembunyikan rasa kecewa. Ia melihat proses komunikasi antara Keuchik, Camat, dan Kabupaten, seolah tak sinkron. Sementara korban banjir seperti dirinya justru menjadi pihak yang paling dirugikan. 

“Rumah kami hancur dihantam gelondongan kayu. Kami tinggal di tenda hampir tiga bulan. Tapi DTH tidak kami dapat, Huntara pun seperti dipermainkan,” ucapnya lirih. 

Pertemuan yang Tak Menghadirkan Suara Korban

Saat Aceh mengutus Wakil Gubernur Fadhlullah ke Kantor Camat Peusangan, harapan M Amin sempat bangkit. Ia ingin menyampaikan langsung bahwa keluarganya sangat membutuhkan Huntara. Namun harapan itu sirna begitu ia melihat forum seolah telah “siap” menolak Huntara. 

“Semua seperti sudah diatur. Keuchik-keuchik menyatakan menolak Huntara. Padahal kami, yang rumahnya hancur, sangat membutuhkannya,” ungkapnya. 

Suara Istri dan Seorang Janda Desa Kapa

Badriah, istri M Amin, tak kuasa menahan air mata ketika menceritakan kondisi anak-anaknya, terutama sang bayi. Setiap malam, mereka harus tidur berdesakan di lantai tenda yang lembab. 

“Untuk cari nafkah sulit. Tempat usaha suami saya hancur. DTH pun tidak dapat. Kami benar-benar hidup bergantung pada belas kasih,” ujarnya. 

Keluhan serupa datang dari Jamilah (60), janda yang juga tinggal di tenda darurat. Tangisnya pecah saat memohon agar pemerintah segera membangun Huntara. 

“Kalau menunggu Huntap, kami tidak tahu kapan. Tolong, kami sudah terlalu lama tinggal di tenda,” katanya. 

Keuchik Kapa: Data Sudah Diserahkan, Keputusan di Pemerintah

Keuchik Desa Kapa, Evendi menyebut, pihaknya telah mendata semua korban banjir. Namun keputusan sepenuhnya berada di tangan Pemerintah Kabupaten, Provinsi, hingga Pusat. 

“Kami sudah menjalankan kewajiban. Sisanya keputusan pemerintah,” katanya singkat. 

Menanti Negara Hadir Sepenuhnya

Menurut M Amin, pemerintah pusat melalui utusannya sering turun ke Bireuen. Namun hingga kini, belum ada yang benar-benar menyentuh warga terdampak langsung di Desa Kapa. 

Ia berharap, Gubernur Aceh, Muzakir Manaf (Mualem), bisa turun langsung untuk melihat keadaan sebenarnya. 

“Saya hanya ingin menyampaikan apa adanya. Lihatlah keadaan kami. Kami hanya ingin tempat tinggal sementara yang layak,” pintanya. 

Akhir yang Belum Mendekati Titik Terang

Di bulan Ramadan yang seharusnya menjadi bulan penuh ketenangan, keluarga M Amin justru melewati hari-hari penuh kegamangan di bawah tenda darurat yang mulai rapuh. 

Bagi mereka, Huntara bukan sekadar bangunan, melainkan wujud dari kepastian hidup, harapan baru, dan bukti bahwa negara benar-benar hadir untuk rakyatnya. 

Namun hingga kini, harapan itu masih tertahan—seperti tenda mereka yang berdiri di antara debu jalan dan dinginnya angin malam. (Joniful Bahri)

Video: Hasil Otopsi Ungkap Ada Luka Bakar pada Bocah 12 Tahun yang Tewas di Sukabumi

By On Senin, Februari 23, 2026

JAKARTA, KabarViral79.Com NS (12), seorang bocah laki-laki asal Desa Bojongsari, Kecamatan Jampangkulon, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat (Jabar), tewas secara tragis. 

Ia meninggal dunia dengan sejumlah luka lebam hingga bakar di tubuhnya. 

Hasil autopsi yang dilakukan tim forensik mengungkap adanya luka bakar di hampir seluruh bagian tubuh korban. 

Kepala Rumah Sakit Bhayangkara Tingkat II Setukpa Lemdiklat Polri Sukabumi, Kombes Carles Siagian mengatakan, proses autopsi dilakukan setelah pihaknya menerima jenazah dari Polres Sukabumi. 

Dari hasil pemeriksaan awal, ditemukan luka bakar pada sejumlah bagian tubuh korban. Luka terlihat pada anggota gerak, terutama kaki kiri, punggung, hingga area wajah. 

Ia menyebut, luka bakar tersebut tersebar di sekujur tubuh, termasuk lengan, kaki, paha, dan tangan. 

Namun demikian, pihaknya belum dapat memastikan apakah luka tersebut akibat tindak penganiayaan atau bukan. 

"Kami tidak bisa menyebutkan apakah itu kekerasan atau bukan. Sepertinya terkena panas yang menyebabkan luka bakar," ujarnya. 

Meski terdapat luka bakar, tim forensik belum dapat menyimpulkan penyebab pasti kematian korban. 

Menurut Carles, luka-luka tersebut secara teori tidak serta-merta menyebabkan kematian.

"Penyebab kematian masih belum bisa disimpulkan karena dari luka tersebut seharusnya tidak menyebabkan kematian," tuturnya. (*/red)

Petani di Bener Meriah Tewas Diserang Kawanan Gajah Liar, Polisi Imbau Warga Tidak Bertindak Sendiri

By On Sabtu, Februari 21, 2026

Seorang petani Kampung Pantanlah, Pintu Rime Gayo, Bener Meriah, Musbahar, meninggal dunia setelah diserang kawanan gajah liar pada Sabtu, 21 Februari 2026. 

BENER MERIAH, KabarViral79.Com Seorang petani asal Kampung Pantanlah, Kecamatan Pintu Rime Gayo di Bener Meriah, bernama Musbahar (53), meninggal dunia setelah diserang kawanan gajah liar pada Sabtu, 21 Februari 2026.

Korban mengembuskan napas terakhirnya di RS BMC Bireuen sekitar pukul 10.00 WIB usai mengalami luka serius akibat diinjak gajah.

Kapolres Bener Meriah melalui Kapolsek Pintu Rime Gayo, AKP Suci menjelaskan, insiden itu terjadi sekitar pukul 06.30 WIB, di kawasan Genengan, Dusun Ayu Ara.

Saat itu, kata dia, korban sedang bekerja di kebun dan berupaya mengusir seekor gajah yang masuk ke lahannya.

Namun tanpa disadari, gajah tersebut merupakan bagian dari kawanan yang berjumlah sekitar tiga ekor. Ketika mencoba menyelamatkan diri, korban terjatuh dan mengalami luka parah akibat injakan di bagian perut.

Seorang petani Kampung Pantanlah, Pintu Rime Gayo, Bener Meriah, Musbahar, meninggal dunia setelah diserang kawanan gajah liar pada Sabtu, 21 Februari 2026. 

“Warga yang mengetahui kejadian tersebut segera melakukan evakuasi dan membawa Musbahar ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan medis. Meski sempat dirawat, korban akhirnya dinyatakan meninggal dunia,” katanya. 

Kapolsek menuturkan, kawanan gajah hingga kini masih berada di sekitar area perkebunan warga. Ia mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan tindakan pengusiran mandiri apabila bertemu satwa liar, melainkan segera melapor kepada aparat desa atau pihak berwenang untuk mencegah jatuhnya korban jiwa.

Jenazah Musbahar rencananya akan dipulangkan keluarga dan dimakamkan di kampung halamannya di Kutacane.

Peristiwa tragis ini kembali menjadi pengingat serius akan meningkatnya konflik antara manusia dan gajah di wilayah tersebut, yang membutuhkan penanganan terpadu dari pemerintah dan pihak terkait. (Joniful Bahri)

Kecelakaan Maut di Tol Sibanceh, Satu Kader PKB Meninggal dan Ketua Fraksi PKB Bireuen Luka Serius

By On Selasa, Februari 17, 2026

Mobil MPV putih yang ditumpangi korban mengalami ringsek berat setelah menabrak bagian belakang sebuah truk kargo di jalur tol Sibanceh.  

BANDA ACEH, KabarViral79.Com Kecelakaan maut terjadi di ruas Tol Sigli-Banda Aceh (Sibanceh) pada Senin sore, 16 Februari 2026, menimpa rombongan kader Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) asal Bireuen. 

Dalam insiden tersebut, seorang kader PKB, Syahrizal Putra, meninggal dunia. Sementara Ketua Fraksi PKB di DPRK Bireuen, Nanda Rizka, mengalami luka serius. 

Informasi yang diterima media menyebutkan, rombongan baru saja kembali dari kegiatan Silaturahmi dan Ta’aruf Pra-Muskerwil PKB Aceh yang digelar di Hotel Hermes Palace Banda Aceh

Dalam perjalanan pulang, mobil MPV berwarna putih yang mereka tumpangi menabrak bagian belakang sebuah truk kargo di jalur tol.

Benturan keras menyebabkan Syahrizal Putra, salah satu kader aktif PKB, meninggal dunia di tempat. Jenazah almarhum kemudian dievakuasi ke RSUD dr. Zainoel Abidin untuk penanganan lebih lanjut. 

Sementara itu, Ketua Fraksi PKB Bireuen, Nanda Rizka atau yang akrab disapa Abi Nanda mengalami luka serius dan kini menjalani perawatan intensif di rumah sakit yang sama. 

Musibah ini menyisakan duka mendalam bagi keluarga besar PKB, terutama di Kabupaten Bireuen. Kepergian Syahrizal Putra menjadi kehilangan besar bagi rekan dan sahabat yang mengenalnya sebagai sosok berdedikasi dan bersemangat dalam kegiatan organisasi. 

Kecelakaan tersebut juga terpantau langsung oleh petugas di lapangan. Minibus yang ditumpangi rombongan PKB terlihat ringsek parah pada bagian depan hingga pilar tengah, mengindikasikan benturan keras akibat dugaan tabrak belakang. 

Potongan kap mesin mobil itu bahkan terlihat masih tersangkut pada besi pengaman belakang truk box yang terlibat dalam insiden. 

Petugas jalan tol bersama Kepolisian segera melakukan evakuasi kendaraan dan penanganan korban. Arus lalu lintas sempat mengalami perlambatan selama proses evakuasi berlangsung. 

Hingga berita ini diturunkan, pihak Kepolisian masih melakukan penyelidikan terkait penyebab kecelakaan dan kronologi lengkap kejadian. (Joniful Bahri)

Warga Cihara Digegerkan Penemuan Jenazah Nelayan Terlilit Jaring di Pantai Cipager

By On Jumat, Februari 13, 2026

LEBAK, KabarViral79.ComWarga pesisir Pantai Cipager, Kampung Citaritih, Desa Pondok Panjang, Kecamatan Cihara, Kabupaten Lebak, Banten, digegerkan dengan penemuan mayat laki-laki pada Kamis, 12 Februari 2026, sekitar pukul 16.00 WIB. 

Kapolsek Panggarangan, AKP Acep Komarudin membenarkan kejadian tersebut. 

Ia menjelaskan, korban bernama Dian Haerani (45), seorang nelayan setempat yang ditemukan pertama kali oleh seorang saksi bernama Ade dalam kondisi terlilit jaring rampus di pinggir pantai.

"Saksi Ade kemudian memberitahukan temuannya kepada Saudara Salman yang saat itu sedang menjaring ikan di sebelah timur pantai. Setelah dipastikan korban sudah meninggal dunia dalam kondisi terlilit jaring, saksi segera meminta pertolongan warga sekitar," ujar AKP Acep Komarudin. 

Kemudian, kata Acep Komarudin, warga mengevakuasi korban ke rumah terdekat sebelum akhirnya dibawa ke kampung halamannya di Kampung Cihuni, Desa Pagelaran, Kecamatan Malingping, untuk dimakamkan. 

Pihak Polsek Panggarangan yang tiba di rumah duka segera berkoordinasi dengan pemerintah desa dan pihak keluarga. 

Berdasarkan hasil koordinasi, lanjut Acep Komarudin, pihak keluarga menyatakan telah menerima kejadian ini sebagai musibah dan menolak untuk dilakukan autopsi.

Personel Polsek Panggarangan yang terjun ke lokasi dipimpin oleh Kanit Binmas Aiptu Cecep Rahmat Hidayat, didampingi Aipda Fery Alamsyah, Kanit Provos Aipda Dede Firmansyah, dan Bripka Sigit Dwi Purnomo.

Sejauh ini, Kepolisian telah melakukan olah TKP, mengamankan barang bukti berupa satu perangkat jaring rampus, memintai keterangan saksi, serta berkoordinasi dengan Tim Inafis Polres Lebak dan tim medis Puskesmas Cihara.

"Kami tetap melakukan penyelidikan lebih lanjut untuk mengumpulkan alat bukti dan akan melakukan gelar perkara guna memastikan kronologi peristiwa tersebut," tutup AKP Acep Komarudin. (Cup/Uday)

Video: Anak SD di NTT Bunuh Diri, Pemerintah Sampaikan Keprihatinan Mendalam

By On Kamis, Februari 05, 2026


JAKARTA, KabarViral79.Com - Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi buka suara soal kasus anak SD di NTT yang bunuh diri karena tidak mampu membeli buku dan pulpen.

Dia menegaskan, pemerintah menaruh perhartian mendalam terhadap kasus tersebut.

Pihaknya juga telah berkoordinasi dengan jajaran terkait untuk menindaklanjuti kejadian itu.

Menurutnya, kejadian itu menjadi teguran untuk meningkatkan kepedulian sosial di seluruh lapisan masyarakat.

"Jadi kami sudah berkoordinasi dengan Menteri Dalam Negeri, kami sudah berkoordinasi dengan Menteri Sosial untuk melakukan penanganan-penanganan terhadap keluarga dan terutama memikirkan supaya kejadian ini tidak terulang kembali," ujar Prasetyo kepada wartawan di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu, 04 Februari 2026. (*/red)

Video: Soal Kasus Siswa SD Bunuh Diri, Gubernur NTT Sebut Pemerintah Gagal!

By On Kamis, Februari 05, 2026

JAKARTA, KabarViral79.Com - Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Emanuel Melkiades Laka Lena mengakui bahwa pemerintahan daerah gagal lantaran siswa sekolah dasar di NTT bunuh diri karena tidak mampu beli buku dan pena.

Diketahui, anak berusia 10 tahun berinisial YBR di Desa Nenowea, Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, NTT, gantung diri di pohon cengkeh. 

Ia bunuh diri diduga kecewa tidak bisa membeli buku dan pena untuk sekolah. Kejadian itu terjadi pada Kamis, 29 Januari 2026, sekitar pukul 11.00 WITA

Dalam unggahan video di akun Instagram resmi Melki Laka Lena, @melkilakalena.official, Melki mengatakan, peristiwa ini merupakan alarm bahwa pranata sosial NTT gagal mencegah kejadian ini.

“Pranata sosial kita berarti gagal urus model begini. Pemerintahan kita juga gagal. Provinsi sama, Kabupaten Ngada juga sama. Kita punya pranata agama juga gagal, pranata budaya juga gagal sampai ada orang mati karena miskin begini,” kata dia dalam video tersebut.

Dia menegaskan kepada pejabat daerah agar kejadian ini tidak terulang. 

Ia juga memperingatkan agar Kepala Daerah dan Wakilnya, termasuk Sekretaris Daerah (Sekda), jangan menganggap ini persoalan biasa.

Melki juga memerintahkan pemerintah daerah untuk memfungsikan kembali perangkat sosial berjenjang sampai ke tingkat RT dan RW.

Ia memerintahkan perangkat daerah wajib membantu apabila ada warga yang miskin dan kesusahan. (*/red)

Lubang Raksasa di Aceh Tengah Terus Meluas, Ancam Permukiman dan Putuskan Akses Utama

By On Rabu, Februari 04, 2026

Tanah longsor yang membentuk lubang raksasa di Kampung Bah dan Desa Pondok Balik, Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah, semakin mengkhawatirkan.  

ACEH TENGAH, KabarViral79.Com Fenomena tanah longsor yang membentuk lubang raksasa di Kampung Bah dan Desa Pondok Balik, Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah, semakin mengkhawatirkan, Rabu, 04 Februari 2026.

Lubang menganga dengan kedalaman diperkirakan mencapai 100 meter itu kini hanya berjarak sekitar lima meter dari badan jalan Simpang Balik–Blang Mancung. 

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Tengah, Andalika menjelaskan, pergerakan tanah yang terjadi bukan merupakan amblesan jenis sinkhole klasik.

“Longsoran ini terbentuk akibat pergerakan material tanah secara perlahan dan berlangsung cukup lama,” ujarnya.

Fenomena serupa yang telah terpantau sejak 2013 itu kini menunjukkan perkembangan yang lebih cepat dan parah.

Perluasan lubang raksasa bahkan menyebabkan jalan utama di kawasan tersebut putus total, sehingga mengganggu aktivitas masyarakat dan meningkatkan risiko keselamatan.

Bupati Aceh Tengah, Haili Yoga menyampaikan, pemerintah daerah telah melakukan rapat koordinasi dengan tim teknis dan tenaga ahli untuk membahas langkah penanganan mendesak.

“Pergerakan tanah semakin cepat mendekati permukiman. Jika tidak ditangani segera, desa terdekat bisa terdampak langsung,” katanya.

Untuk mengantisipasi dampak lebih luas, pemerintah kabupaten meminta dukungan pemerintah provinsi dan pusat dalam upaya mitigasi jangka panjang.

Selain itu, jalur alternatif telah disiapkan agar mobilitas warga tetap berjalan di tengah kondisi jalan utama yang terputus.

Pemerintah daerah mengimbau masyarakat sekitar tetap waspada dan mengikuti arahan petugas, mengingat potensi perluasan longsor masih tinggi. (Joniful Bahri)

75 KK Warga Bumi Kasemen Lestari Mengungsi Akibat Banjir Berkepanjangan

By On Senin, Januari 12, 2026



SERANG, KabarViral79.Com – Banjir kembali melanda Perumahan Bumi Kasemen Lestari, tepatnya di RT 06 RW 04, mengakibatkan sedikitnya 75 Kepala Keluarga (KK) terpaksa mengungsi. Warga yang terdampak saat ini mengamankan diri ke Yayasan Ummatan Wasathon Banten untuk menghindari risiko yang lebih besar, Senin, (12/1/2026).

Banjir terjadi akibat tingginya curah hujan yang mengguyur wilayah tersebut, sehingga air meluap dan merendam rumah-rumah warga. Ketinggian air di beberapa titik mencapai pinggang orang dewasa, membuat aktivitas warga lumpuh dan memaksa mereka meninggalkan tempat tinggalnya.

Ketua RT 06 RW 04, Saiful Rahman, mengatakan bahwa kondisi banjir ini sudah sangat mengkhawatirkan dan membutuhkan perhatian serius dari pemerintah terkait.

“Sebanyak 75 KK terpaksa mengungsi karena rumah mereka tidak bisa ditempati. Kami sangat berharap pemerintah segera turun tangan untuk menangani banjir ini, baik penanganan darurat maupun solusi jangka panjang,” ujar Saiful Rahman.

Ia menambahkan, banjir di wilayah Perumahan Bumi Kasemen Lestari kerap terjadi saat hujan deras dan belum ada penanganan maksimal yang dirasakan warga.

“Warga sudah sering mengeluhkan kondisi ini. Kami memohon agar pemerintah tidak menunda lagi, karena keselamatan dan kenyamanan warga sangat terancam,” tambahnya.

Saat ini, warga yang mengungsi membutuhkan bantuan logistik, seperti makanan, air bersih, serta perlengkapan tidur. Warga berharap adanya respons cepat dari instansi terkait guna meringankan beban para korban banjir. (*/red)