![]() |
| Tim BNPB bersama aparatur desa turun langsung memimpin proses pembersihan kayu gelondongan di kawasan Kampung Toweren, Aceh Tengah. |
TAKENGON, KabarViral79.Com - Di bawah naungan perbukitan dataran tinggi Gayo, hamparan hijau Kampung Toweren biasanya menyuguhkan ketenangan khas alam pegunungan.
Namun akhir November 2025, ketenangan itu berubah menjadi kepanikan ketika hujan ekstrem akibat Siklon Senyar mengguyur wilayah hulu dalam durasi panjang. Lereng-lereng bukit di kawasan Lut Tawar tak mampu lagi menahan limpasan air.
Apa yang menyusul bukan sekadar banjir biasa. Arus air berkecepatan tinggi membawa massa lumpur disertai ratusan gelondongan kayu hutan, menghantam permukiman dan menyapu lahan persawahan urat nadi ekonomi masyarakat Aceh Tengah.
Sawah yang Berubah Menjadi “Hutan Kayu”
Pasca banjir, lanskap Toweren berubah drastis. Pada petak-petak sawah yang biasanya hijau, kini terhampar pemandangan tak lazim: tumpukan batang-batang kayu besar yang saling berhimpitan, bercampur sedimen lumpur tebal.
Para petani hanya bisa berdiri terpaku, menyaksikan lahan mata pencaharian mereka berubah menyerupai “hutan mini” yang tumbuh dalam semalam.
Bukan hanya aktivitas bertani terhenti; sebagian warga harus menunda masa tanam hingga waktu yang belum dapat dipastikan.
"Kami tidak tahu harus mulai dari mana. Kayunya terlalu besar, lumpurnya terlalu tebal," ujar seorang petani yang ikut menyaksikan proses pembersihan.
BNPB Turun Tangan, Pemulihan Dimulai
Menyadari urgensi situasi, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bergerak cepat. Pada Minggu, 22 Februari 2026 kemain, tim BNPB bersama aparatur desa turun langsung memimpin proses pembersihan.
Prioritas utama: membebaskan lahan pertanian dari himpitan kayu dan mengeruk endapan lumpur agar masa tanam dapat kembali dikejar.
Material kayu dievakuasi ke lahan-lahan kosong yang lebih stabil, jauh dari area persawahan. Upaya ini menjadi langkah awal membuka akses dan menentukan pola kerja gotong-royong untuk beberapa hari ke depan.
![]() |
| Tim BNPB bersama aparatur desa turun langsung memimpin proses pembersihan kayu gelondongan di kawasan Kampung Toweren, Aceh Tengah. |
Masyarakat Mengubah Bencana Menjadi Berkah
Di tengah kelelahan memulihkan kampung, masyarakat Toweren menunjukkan daya adaptasi yang luar biasa. Kayu-kayu gelondongan yang terbawa banjir tidak dijadikan beban, melainkan peluang.
Warga memilah kayu yang layak pakai untuk memperbaiki rumah yang rusak, membuat pagar, hingga menjadi persediaan kayu bakar.
“Setidaknya ada yang bisa dimanfaatkan dari apa yang dibawa air,” ucap Aman Sunardi seorang warga yang tengah menata gelondongan untuk digunakan sebagai bahan bangunan.
Strategi memanfaatkan material sisa bencana bukan hanya menghemat biaya perbaikan rumah, tetapi juga mempercepat pemulihan tanpa harus menunggu bantuan material dari luar.
Tantangan Besar, Optimisme Lebih Besar
Meski gotong-royong sudah berjalan, volume kayu yang besar dan luasnya area terdampak menjadi tantangan utama.
BNPB bersama lintas Kementerian dan lembaga sudah berkomitmen menambah alat berat untuk mempercepat proses pembersihan sebuah kebutuhan mendesak mengingat banyak kayu berdiameter besar mustahil dipindahkan secara manual.
Sinergi antara pemerintah, aparat, dan masyarakat menjadi modal utama bangkitnya Toweren.
Optimisme mulai tumbuh bahwa hamparan sawah yang kini tertutup lumpur dapat kembali subur, dan tumpukan kayu sisa banjir justru bisa menjadi pijakan awal membangun kembali desa.
Toweren kini bukan hanya cerita tentang banjir bandang, tetapi tentang ketangguhan sebuah kampung yang memilih bangkit, mengolah luka menjadi daya, dan menata masa depan dari serpihan bencana. (Joniful Bahri)

