-->

Berita Terbaru

Subscribe Here!

Enter your email address. It;s free!

Delivered by FeedBurner

Dokter Perempuan di Gayo Lues Ditemukan Tewas di Kamar Terkunci, Polisi Selidiki Dugaan Pembunuhan

By On Minggu, Maret 22, 2026

Tim Inafis Polres Gayo Lues yang dipimpin Satuan Reserse Kriminal mengevakuasi jasad korban ke RSU Muhammad Ali Kasim Gayo Lues guna keperluan visum.  

GAYO LUES, KabarViral79.ComSeorang dokter perempuan ditemukan tewas di dalam kamar rumahnya di Desa Raklunung, Kecamatan Blangkejeren, Kabupaten Gayo Lues, Aceh, Sabtu, 21 Maret 2026.

Korban diduga meninggal akibat tindak kekerasan dan kini dalam penyelidikan pihak kepolisian

Korban diketahui bernama Susi Astuti (inisial S.H.), yang selama ini membuka praktik umum di kediamannya. 

Jasad korban ditemukan sekitar pukul 10.55 WIB di kamar lantai dua rumahnya dalam kondisi mengenaskan. 

Penemuan jasad pertama kali dilaporkan oleh adik kandung korban, Norman, yang datang untuk bersilaturahmi menjelang Hari Raya Idul Fitri

“Saya datang sekitar pukul 09.30 WIB. Pintu belakang rumah sudah terbuka sedikit. Saya panggil-panggil, tapi tidak ada jawaban,” ujar Norman. 

Ia kemudian masuk ke dalam rumah dan sempat mencari korban di lantai bawah, namun tidak ditemukan. Saat naik ke lantai dua, Norman mencium bau menyengat yang berasal dari salah satu kamar. 

Di depan kamar tersebut, pintu ditemukan dalam kondisi terkunci dari luar dengan kunci masih tergantung. Setelah dibuka, korban ditemukan sudah tidak bernyawa dalam posisi terlentang dengan kepala tertutup kain selimut. 

Peristiwa itu kemudian dilaporkan ke pihak Kepolisian. 

Tim Inafis Polres Gayo Lues yang dipimpin Satuan Reserse Kriminal langsung turun ke lokasi untuk melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) dan mengevakuasi jasad korban ke RSU Muhammad Ali Kasim Gayo Lues guna keperluan visum. 

Berdasarkan hasil pemeriksaan awal, korban diperkirakan telah meninggal dunia sekitar lima hingga tujuh hari sebelum ditemukan. 

Kondisi jasad saat ditemukan sudah mulai membusuk.

Pemeriksaan medis juga menemukan sejumlah tanda kekerasan pada tubuh korban. 

Mulut korban disumpal menggunakan kain menyerupai jilbab berwarna hitam, kedua tangan diikat ke belakang menggunakan kabel, serta terdapat luka di bagian pinggang kiri yang diduga akibat benda tajam. 

Kapolres Gayo Lues, AKBP Hyrowo, S.I.K., melalui Kasatreskrim Iptu Muhammad Abidinsyah, S.H., M.H., mengatakan, pihaknya masih melakukan penyelidikan untuk mengungkap pelaku dan motif kejadian. 

“Kami telah melakukan olah TKP, mengamankan barang bukti, serta memeriksa sejumlah saksi. Saat ini kami fokus pada pengungkapan pelaku,” ujarnya. 

Polisi juga mengungkapkan bahwa tiga hari sebelum penemuan, Norman sempat mengantarkan paket milik korban dan meletakkannya di tangga rumah. Paket tersebut masih berada di lokasi yang sama saat korban ditemukan. 

Diketahui, korban merupakan seorang dokter yang tinggal sendiri di rumahnya dan telah lama menjanda. 

Selain itu, korban juga dikenal membuka praktik layanan kesehatan di rumah yang berada di pinggir Jalan Nasional Blangkejeren, Kutacane

Hingga kini, aparat Kepolisian masih terus mendalami kasus tersebut dan mengimbau masyarakat yang memiliki informasi terkait untuk segera melapor guna membantu proses penyelidikan. (Joniful Bahri)

Pemkab Bireuen Jelaskan Alasan Pembelian Sapi Meugang dari Luar Daerah

By On Minggu, Maret 22, 2026

Juru Bicara Pemkab Bireuen, Muhajir Juli. 

BIREUEN, KabarViral79.Com Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bireuen memberikan penjelasan terkait kebijakan pembelian sebagian sapi meugang dari luar daerah dalam penyaluran bantuan kemasyarakatan Presiden untuk masyarakat terdampak bencana. 

Juru Bicara Pemkab Bireuen, Muhajir Juli menyampaikan bahwa keputusan tersebut diambil dengan mempertimbangkan keterbatasan waktu, efisiensi harga, serta menjaga stabilitas pasar daging di daerah. 

Ia menjelaskan, bantuan sebesar Rp2.250.000.000 dari Presiden Republik Indonesia (RI)!telah ditransfer ke Rekening Kas Umum Daerah (RKUD) Kabupaten Bireuen pada Selasa, 17 Maret 2026, sekitar pukul 15.00 WIB. 

Dana tersebut diperuntukkan bagi pembelian sapi meugang untuk 91 desa yang terdampak bencana. 

Pada malam harinya, pemerintah daerah mengikuti rapat virtual bersama Wakil Gubernur Aceh, Fadhullah, yang membahas petunjuk penggunaan bantuan tersebut. 

Dalam pertemuan itu ditegaskan bahwa bantuan harus disalurkan dalam bentuk daging, bukan uang tunai, sesuai Surat Edaran Menteri Dalam Negeri tertanggal 12 Februari 2026. 

Namun, setelah rapat tersebut, rangkaian hari libur nasional langsung berlangsung, yakni cuti bersama Nyepi pada 18 Maret, Hari Raya Nyepi pada 19 Maret, serta cuti bersama Idul Fitri pada 20 Maret 2026. Kondisi ini membuat waktu persiapan menjadi sangat terbatas. 

“Dengan tenggat waktu yang singkat, kami harus memastikan daging meugang tetap sampai ke masyarakat tepat waktu,” ujar Muhajir. 

Melalui rapat terbatas, pemerintah daerah memutuskan pengadaan sapi dilakukan dengan komposisi 60 ekor dari luar Aceh dan 32 ekor dari dalam Kabupaten Bireuen. 

Keputusan ini diambil karena keterbatasan pasokan lokal yang mampu memenuhi kriteria, seperti berat, umur, dan harga sapi. 

Selain itu, pembelian dalam jumlah besar di dalam daerah dikhawatirkan akan mengganggu ketersediaan dan memicu kenaikan harga daging di pasar lokal menjelang Idul Fitri. 

Adapun harga pembelian sapi berada pada kisaran Rp 22 juta hingga lebih dari Rp 30 juta per ekor, disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing desa berdasarkan jumlah penduduk. 

"Harga tersebut telah mencakup Pajak Pertambahan Nilai (PPN) Pasal 22, infaq, serta biaya pendukung lainnya," ucap Muhajir Juli. 

Dalam proses distribusi, satu ekor sapi dilaporkan mati. Pemerintah daerah telah mengambil langkah cepat dengan menggantinya, sehingga total sapi yang didistribusikan menjadi 92 ekor untuk 91 desa terdampak. 

Pemkab Bireuen memastikan seluruh bantuan dapat tersalurkan tepat sasaran dan tidak mengganggu momentum tradisi meugang bagi masyarakat. (Joniful Bahri)

KPK Alihkan Penahanan Mantan Menag Yaqut Jadi Tahanan Rumah

By On Minggu, Maret 22, 2026

Yaqut Cholil Qoumas mengenakan rompi tahanan usai menjalani pemeriksaan di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Kamis, 12 Maret 2026. 

JAKARTA, KabarViral79.Com - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menyampaikan bahwa mantan Menteri Agama (Menag), Yaqut Cholil Qoumas, tidak lagi menjalani penahanan di Rumah Tahanan (Rutan) KPK. Yaqut kini berstatus tahanan rumah sejak Kamis, 19 Maret 2026. 

"Benar, penyidik melakukan pengalihan jenis penahanan terhadap tersangka saudara YCQ, dari penahanan di Rutan KPK menjadi tahanan rumah sejak Kamis malam, 19 Maret 2026," ujar Juru Bicara KPK, Budi Prasetyo, Sabtu, 21 Maret 2026. 

Menurut Budi, pengalihan penahanan tersebut merupakan permohonan yang disampaikan pihak keluarga Yaqut sejak 17 Maret 2026. Permohonan itu kemudian ditelaah oleh penyidik. 

"Permohonan tersebut ditelaah dan dikabulkan dengan pertimbangan sesuai Pasal 108 ayat (1) dan (11) Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2025 tentang KUHAP," ujarnya. 

Pengalihan jenis penahanan Yaqut menjadi tahanan rumah bersifat sementara. KPK juga memastikan tetap melakukan pengawasan secara ketat. 

"Selama menjalani tahanan rumah, KPK tetap melakukan pengawasan melekat dan pengamanan terhadap yang bersangkutan," kata Budi. 

"Kami pastikan proses pengalihan penahanan sementara ini telah sesuai dengan ketentuan dan prosedur penyidikan," imbuhnya. 

Seperti diketahui, para tahanan KPK melaksanakan Salat Idul Fitri 1447 H di Gedung Merah Putih KPK, Sabtu, 21 Maret 2026. 

Ibadah tersebut difasilitasi sebagai bagian dari layanan keagamaan bagi para tahanan. 

Sejumlah tahanan yang terlihat mengikuti salat Id, di antaranya Bupati Pati nonaktif Sudewo, Bupati Bekasi Ade Kuswara Kunang, serta mantan staf khusus Yaqut, Ishfah Abidal Aziz alias Gus Alex. 

Selain itu, tampak pula Irvian Bobby Mahendro, Bupati nonaktif Lampung Tengah Ardito Wijaya, dan mantan Sekretaris Mahkamah Agung (MA), Nurhadi. 

Namun, dari para tahanan tersebut, tidak terlihat Yaqut Cholil Qoumas. 

Pada Sabtu siang, 21 Maret 2026, Silvia Rinita Harefa, Istri mantan Wakil Menteri Ketenagakerjaan Immanuel Ebenezer alias Noel, turut mempertanyakan keberadaan Yaqut. 

Ia menyebut Yaqut tidak terlihat sejak Kamis malam, 19 Maret 2026. 

"Semua tahanan sebenarnya tahu, hanya saja mereka bertanya-tanya. Katanya ada pemeriksaan, tapi tidak mungkin menjelang malam takbiran ada pemeriksaan sampai hari ini belum kembali," kata Silvia di Rutan KPK. 

Menurut Silvia, Yaqut sempat dijemput pada Kamis malam untuk pemeriksaan. Namun, sejak saat itu keberadaannya tidak terlihat hingga pelaksanaan Salat Id. 

"Iya, Kamis malam sebelum Jumat. Katanya mau diperiksa. Tapi saat Salat Id, kata orang-orang di dalam, beliau tidak ada," ujarnya. (*/red)

Jokowi Hadiri Halalbihalal Bersama Prabowo di Istana

By On Minggu, Maret 22, 2026

Presiden ke-7 RI Joko Widodo menghadiri Halalbihalal dalam rangka Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah bersama Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka, Jakarta, Sabtu, 21 Maret 2026.  

JAKARTA, KabarViral79.Com - Presiden ke-7 Republik Indonesia (RI), Joko Widodo (Jokowi) menghadiri Halalbihalal dalam rangka Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah bersama Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka, Jakarta, Sabtu, 21 Maret 2026. 

Berdasarkan foto yang dibagikan Sekretariat Presiden, Presiden Prabowo menyambut langsung kedatangan Jokowi di halaman Istana, Sabtu sore.  

Jokowi datang bersama Istrinya, Iriana, dan anak bungsunya, Kaesang Pangarep yang juga merupakan Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI). 

Sebelum Jokowi, Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan keluarganya diketahui tiba di Istana terlebih dahulu. 

Belum diketahui pasti apakah Presiden Prabowo menerima rombongan SBY dan Jokowi dalam satu waktu dan satu ruangan atau tidak. Pihak Sekretariat Presiden belum mengonfirmasi. 

Dalam kedua pertemuan silaturahmi itu, Prabowo tampak didampingi anak tunggalnya, Didit Hediprasetyo.

Momentum silaturahim itu, menurut Istana, tidak hanya menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga memperlihatkan kebersamaan para pemimpin dalam suasana Lebaran. 

Kehadiran para tokoh bangsa itu juga dinilai mencerminkan kesinambungan kepemimpinan nasional yang tetap terjalin erat dalam suasana kekeluargaan. (*/red)

Sambut Wisatawan Libur Lebaran, Gubernur Andra Soni: Perkuat Pengamanan di Jalur Wisata Banten

By On Minggu, Maret 22, 2026

Gubernur Banten, Andra Soni.  

SERANG, KabarViral79.Com - Gubernur Banten, Andra Soni memastikan kesiapan sektor pariwisata di Provinsi Banten dalam menyambut libur Idul Fitri 1447 Hijriah

Berbagai langkah telah dilakukan melalui koordinasi lintas sektor guna menjamin keamanan, kenyamanan, dan kelancaran aktivitas masyarakat selama masa libur lebaran. 

"Kami melakukan koordinasi dengan seluruh pihak, termasuk dengan pihak Kepolisian dan yang lainnya," kata Andra Soni usai melaksanakan Salat Idul Fitri, di Alun-alun Barat Kota Serang, Sabtu, 21 Maret 2026. 

Menurut Andra Soni, usai pelaksanaan pengamanan dan pengaturan arus mudik dilanjutkan dengan Salat Idul Fitri yang berlangsung dengan lancar, pemerintah kini fokus pada pengamanan dan pengaturan di destinasi wisata yang menjadi tujuan masyarakat untuk berlibur. 

“Fokus pertama kita kemarin adalah pengamanan arus mudik dan pelaksanaan Salat Id. Setelah itu, kami melanjutkan dengan pengamanan dan pengaturan lalu lintas di wilayah-wilayah tempat wisata,” ujarnya. 

Provinsi Banten sendiri merupakan salah satu destinasi wisata favorit di kawasan aglomerasi Jakarta. Oleh sebab itu, diperlukan kesiapan ekstra dalam menghadapi lonjakan kunjungan wisatawan begitu musim liburan. 

“Banten menjadi salah satu tujuan utama masyarakat untuk berlibur. Oleh karena itu, kami berharap pengaturan di lapangan dapat berjalan dengan lancar berkat kerja sama yang baik antara pemerintah, aparat keamanan, dan dukungan masyarakat,” ujarnya. 

Gubernur Andra Soni juga mengapresiasi seluruh aparatur yang telah berperan aktif dalam pengamanan arus mudik Lebaran 2026. 

Apalagi, kata dia, keberadaan Pelabuhan Merak, Banten, menjadi salah satu titik krusial dalam pergerakan pemudik nasional

“Alhamdulillah, seluruh proses berjalan dengan lancar berkat perencanaan yang matang dan kolaborasi yang kuat,” ujarnya.

Andra Soni juga mengimbau masyarakat untuk selalu memantau informasi dari sumber resmi pemerintah selama melakukan liburan. Ini dilakukan semata-mata untuk menjaga ketertiban agar libur Lebaran dapat dinikmati dengan aman dan nyaman. 

“Harapan kami, masyarakat dapat melaksanakan aktivitas liburan dengan tenang dan nyaman,” ujarnya. (Welfendry)

Prabowo Rayakan Lebaran di Aceh Tamiang, Lanjut Sapa Warga di Istana Negara

By On Minggu, Maret 22, 2026

Presiden Prabowo Subianto usai melaksanakan Salat Idul Fitri 1447 Hijriah bersama ribuan jemaah di Masjid Darussalam, Aceh Tamiang, Aceh, Sabtu, 21 Maret 2026. 

JAKARTA, KabarViral79.Com - Presiden Prabowo Subianto menyapa warga di Aceh dan Jakarta saat momen hari Lebaran

Prabowo tampak menyalami warga dan membagikan paket sembako.

Pantauan awak media, Sabtu, 21 Maret 2026, Prabowo menjalani Salat Idul Fitri di Masjid Darussalam, Aceh Tamiang, Aceh, sejak pukul 07.10 WIB. 

Prabowo turut mengikuti khutbah yang disampaikan oleh Khotib Kapten Inf Zulkhaizir. 

Setelah pelaksanaan Salad Id, selawat dilantunkan seraya jemaah berdiri untuk bersalaman. Para jemaah pun berbaris untuk bersalaman langsung dengan Prabowo di dekat mimbar Masjid. 

Setelah halalbihalal dengan masyarakat, Prabowo kemudian membagikan paket sembako langsung kepada warga. 

Terlihat paket itu dibungkus menggunakan tas berkelir biru yang diserahkan langsung kepada masyarakat. 

Setelah itu Prabowo sempat mengecek hunian sementara (Huntara) yang berada di dekat Masjid. Telihat bangunan Huntara itu telah rapi dan sudah ditinggali warga terdampak bencana. 

Prabowo didampingi Mendagri Tito Karnavian, Mensesneg Prasetyo Hadi, Menlu Sugiono, Wamentan Sudaryono, Gubernur Aceh Muzakir Manaf (Mualem), dan Seskab Teddy Indra Wijaya. 

Prabowo mengapresiasi berbagai pihak yang telah bekerja mempercepat pemulihan bencana di Aceh Tamiang. Dia mengatakan, penanganan bencana di lokasi ini sangat cepat. 

"Perbaikannya, pemulihannya sangat cepat. Alhamdulilah hampir 100 persen," ujar Prabowo usai Salat Id. 

Prabowo mengatakan, saat ini sudah tidak ada lagi pengungsi di Aceh Tamiang yang tinggal di tenda. Mereka sudah beralih ke hunian tetap atau sementara yang didirikan pemerintah. 

"Di tenda sudah nggak ada lagi, 100 persen semua sudah keluar dari tenda. Masuk ke hunian sementara atau hunian tetap," ujarnya. 

Prabowo berterima kasih kepada seluruh petugas yang bekerja dalam pemulihan bencana Sumatera

Dia menyebut, perbaikan saat ini mulai dirasakan warga.

"Saya sangat bangga, terima kasih kepada semua petugas, semua apparat dari TNI-Polri dari BNPB, PU, Pemda semua K/L yang kerja luar biasa. Mereka kerja luar biasa bantu rakyat di Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat dan provinsi lainnya," tutur Prabowo. 

Tak lama setelah itu, Prabowo pun langsung terbang ke Jakarta. Prabowo kembali ke Istana Negara

Presiden Prabowo Subianto didampingi putranya Didit Hediprasetyo menghadiri kegiatan Open House Lebaran di Istana Negara, Jakarta, Sabtu, 21 Maret 2026. 

Sapa Warga Saat Open House

Prabowo didampingi putranya Didit Hediprasetyo menghadiri kegiatan Open House Lebaran di Istana Negara, Jakarta. 

Prabowo dan Didit tampak menyapa secara langsung. 

Pantauan awak media di lokasi, Prabowo tiba di tenda halaman tengah Istana sekitar pukul 15.00 WIB. 

Prabowo mengenakan baju koko putih didampingi Didit yang menggunakan koko biru. 

Keduanya tampak berjalan di tengah warga yang tengah berada di lokasi. 

Prabowo tampak mengelilingi jalur antrean sajian makanan dan menyalami warga.

Warga di lokasi antusias menyambut kedatangan Prabowo. Mereka yang sedang makan seketika berhenti dan berdiri menyaksikan Prabowo. Para warga mengulurkan tangannya untuk bisa bersalaman dengan Prabowo. 

"Pak Prabowo, Pak Prabowo," terdengar teriakan warga bersahutan. 

"Hidup Pak Prabowo," timpal warga lain. 

Mereka juga mengabadikan momen kedatangan Prabowo. Didit sesekali tampak melayani ajakan warga untuk berswafoto. 

Terlihat Mensesneg Prasetyo Hadi dan Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya juga turut mendampingi Prabowo. Setelah salaman selesai, Prabowo dan Didit kembali ke Istana Merdeka. 

Acara Open House dibuka sejak pukul 12.30 WIB. Warga yang hadir diatur masuk secara bergantian guna menjaga ketertiban. 

Pengunjung diarahkan masuk melalui Wisma Negara menuju halaman tengah Istana, lokasi utama penyajian makanan. 

Warga terlihat tertib mengikuti arahan petugas saat memasuki area tersebut. 

Di tenda yang telah disiapkan, tersedia beragam hidangan khas Lebaran, seperti lontong, sate, dan rendang. 

Selain itu, tersedia pula aneka makanan lain seperti nasi dengan lauk pauk, siomay, bakso, hingga mie ayam. 

Tak hanya makanan berat, berbagai camilan dan minuman juga disajikan untuk para pengunjung. 

Warga tampak antusias mengantre untuk memilih dan mencicipi hidangan yang tersedia. 

Selain itu, anak-anak yang hadir juga mendapatkan pembagian mainan. 

Suasana Open House semakin terasa hangat dan khidmat dengan lantunan lagu-lagu selawat yang mengiringi jalannya acara. (*/red)

Salat Id di Kramatwatu, Wabup Najib Hamas Ajak Lanjutkan Kebaikan Selama Ramadan

By On Minggu, Maret 22, 2026

Wakil Bupati (Wabup) Serang, Muhammad Najib Hamas melaksanakan Salat Idul Fitri 1447 Hijriah di Alun-alun Kecamatan Kramatwatu, Sabtu, 21 Maret 2026.  

SERANG, KabarViral79.Com - Wakil Bupati (Wabup) Serang, Muhammad Najib Hamas melaksanakan Salat Idul Fitri 1447 Hijriah di Alun-alun Kecamatan Kramatwatu, Sabtu, 21 Maret 2026. 

Mengenakan baju koko biru, Najib Hamas didampingi sang istri Tifa Hensifa Hanum Najib

Turut mendampingi Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Serang Zaldi Dhuhana, Asda II Febriyanto, Wakil Ketua DPRD Kabupaten Serang Abdul Gofur, dan para Kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di lingkungan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Serang, serta pejabat Badan Usaha Milik Daerah (BUMD). 

"Hari ini saya mewakili Ibu Bupati didampingi Pak Sekda dan Pak Asda, saya merasa bersyukur dan bahagia bisa membersamai Salat Id di Alun-alun Kramatwatu," ujar Najib Hamas. 

Najib Hamas mengatakan, hari ini adalah momentum kebersamaan bahwa ramadan telah berlalu, dan kemudian membuka lembaran baru kembali kepada fitri. 

"Semoga atas semua ibadah kita yang sudah dilaksanakan selama ramadhan di terima oleh Allah SWT, dan semua kembali kepada fitrah, yaitu memberikan kebaikan yang terus menerus berkelanjutan. Ini adalah bagian dari upaya ikhtiar untuk menjadikan mewujudkan Kabupaten Serang bahagia," tuturnya. 

Najib Hamas mengajak kepada masyarakat Kabupaten Serang untuk bersama-sama melanjutkan kebaikan-kebaikan yang dilakukan di bulan ramadhan, dan pererat tali silaturrahim persaudaraan antar sesama agar semua menjadi satu keluarga besar Kabupaten Serang. 

"Kemudian juga sampaikan doa terbaik kepada orangtua yang sudah mendahului, dan juga para guru, para pimpinan agar semuanya menjadi satu kesatuan untuk menjadi energi positif untuk mewujudkan Kabupaten Serang bahagia," pungkasnya. 

Hal senada disampaikan Sekda Kabupaten Serang, Zaldi Dhuhana. Ia berharap, pada momen Idul Fitri ini menjadi sebuah evaluasi untuk masyarakat Kabupaten Serang hingga hari kemenangan menjadikan masyarakat agar saling memaafkan. Kemudian menciptakan situasi yang kondusif, untuk bisa meraih berbagai kemajuan dan lain sebagainya. 

"Yang kita harapkan ini menjadi momen masyarakat Kabupaten Serang memiliki spirit untuk menang dalam segala hal di momen Hari Raya Idul Fitri ini," ujarnya. (*/red)

Pulang ke Desa: Menenangkan Diri atau Sekadar Sembunyi?

By On Minggu, Maret 22, 2026

Sejumlah calon penumpang bersiap menaiki bus Antar Kota Antar Provinsi (AKAP) di Terminal Pulo Gebang, Jakarta

Oleh: Udin Suchaini

Di tengah kejenuhan kota yang dipenuhi ritme hustle culture, desa setiap Lebaran selalu menemukan momentumnya sebagai tujuan pulang. 

Ia bukan lagi sekadar ruang produksi pangan, melainkan menjadi ruang jeda, tempat orang-orang kota menanggalkan sejenak identitas sibuknya. 

Dalam narasi populer, desa tampil sebagai oase: udara bersih, relasi yang hangat, ritme hidup melambat, seolah mampu mengembalikan keutuhan jiwa yang terkoyak oleh tekanan urban. 

Namun, pertanyaannya tetap sama: apakah kepulangan ke desa benar-benar menghadirkan pemulihan, atau sekadar ritual tahunan untuk menenangkan diri sebelum kembali pada luka yang belum pernah benar-benar diselesaikan? Atau justru menambah luka baru? 

Fenomena ini tidak lahir dari ruang hampa. Kota memang semakin mahal secara emosional. Kesuksesan diukur dari produktivitas tanpa jeda, sementara tubuh dan mental menjadi korban yang tak tercatat. 

Maka, ketika desa menawarkan slow living, ia tampak seperti antitesis yang masuk akal, bahkan terasa seperti jawaban. 

Lanskap hijau, ritme hidup yang tidak tergesa, serta relasi sosial yang hangat terbukti mampu meredakan stres, meningkatkan hormon kebahagiaan, dan mengembalikan rasa memiliki yang hilang di kota. 

Namun, di balik romantisme itu, ada paradoks modalnsosial yang jarang dibicarakan: kita melihat desa sebagai tempat singgah, bukan sebagai sistem sosial yang utuh. 

Kita datang untuk healing, tetapi lupa bahwa desa bukan ruang netral. Ia memiliki aturan, ekspektasi, dan tekanan sosialnya sendiri. 

Anonimitas Dingin vs Komunal Invasif

Data pada Publikasi Statistik Modal Sosial 2021 yang dikeluarkan BPS menunjukkan bahwa perbedaan antara desa dan kota bukan lagi sekadar soal gedung tinggi dibandingkan dengan sawah hijau. 

Melainkan soal bagaimana manusia mengelola kewarasan dan modal sosial yang siap kita tanggung. 

Di desa, tingkat kepercayaan pada tetangga tinggi, tapi takut perbedaan. 

Data menunjukkan penduduk desa memiliki Indeks Modal Sosial lebih tinggi (72,68) dibanding orang kota (71,57). 

Di desa, "Rasa Percaya" adalah mata uang utama. Anda bisa jatuh pingsan di jalan dan dalam hitungan detik, belasan tangan akan menolong Anda.  

Namun, ada harganya, toleransi di desa justru lebih rendah (57,77). Di samping itu, kesamaan akan lebih mudah diterima. 

Begitu ada pendatang yang berbeda, entah soal keyakinan, gaya hidup, atau pilihan politik, kehangatan itu bisa berubah menjadi dinginnya pengucilan. 

Sementara, kota yang warganya heterogen memiliki nilai toleransi yang lebih tinggi (59,39), tempat di mana orang tidak peduli pada keyakinan orang lain.

Selama seseorang tidak parkir sembarangan di depan pagar mereka, atau mengusik urusan rumah tangga orang lain, ketenangan akan tetap terjaga. 

Di desa, hubungan sosial jauh lebih dekat dan emosional, tapi juga bisa terasa sangat masuk ke ranah pribadi. Privasi hampir tidak benar-benar ada. 

Tetangga bisa datang tanpa janji, tahu banyak hal tentang kehidupan kita, bahkan hal-hal kecil sekalipun. 

Namun di sisi lain, justru merekalah yang paling cepat hadir saat kita butuh bantuan, misalnya ketika sakit atau sedang kesulitan. 

Sementara di kota, hubungan sosial cenderung bersifat privat dan impersonal. Orang berinteraksi seperlunya, sekadar fungsi. 

Kita bisa tinggal bertahun-tahun tanpa benar-benar mengenal tetangga sendiri, tapi justru lebih akrab dengan kurir paket yang sering datang. 

Sederhananya, kalau di kota orang bisa hidup “sendiri di tengah keramaian”, maka di desa hidup terasa “bersama, tapi sulit benar-benar sendiri”. 

Di kota, tekanan datang dari target dan waktu. Di desa, tekanan datang dari manusia lain. Tinggal di desa, bukan berarti desa sepenuhnya lebih ringan. Narasi slow living sering terdengar indah, tapi bagi banyak warga desa, itu tidak sepenuhnya nyata. 

Hidup tetap penuh perjuangan, bekerja di sawah dengan penghasilan yang tidak pasti, bergantung pada musim dan kondisi alam. 

Selain itu, ada beban lain yang sering luput dari perhatian: “ongkos rukun.” Kalau di kota uang habis untuk kebutuhan gaya hidup dan pajak, di desa uang sering habis untuk menjaga hubungan sosial, seperti menghadiri hajatan, memberi amplop, dan berbagai sumbangan. 

Ini bukan sekadar pilihan, melainkan semacam kewajiban tidak tertulis. Tidak ikut serta bisa berujung pada gosip atau penilaian negatif dari lingkungan. 

Budaya guyub rukun memang menciptakan kehangatan dan solidaritas, tetapi di sisi lain juga bisa menjadi tekanan. 

Kehadiran dalam acara sosial terasa wajib, “ngamplop” menjadi tiket untuk tetap diterima, dan ruang pribadi hampir tidak benar-benar ada. 

Pilihan sulit jika ke desa untuk menghindari tekanan datang dari ritme hidup yang keras. 

Orang dikejar target, terjebak kemacetan, dan perlahan terkuras secara mental demi mengejar standar hidup seperti UMR. 

Hustle culture membuat hidup terasa seperti perlombaan tanpa garis akhir, melelahkan, tapi sulit dihentikan. 

Sementara desa tidak selalu menyembuhkan, karena justru kedekatan sosial lah yang mengawasi. 

Paradoks Healing

Di sinilah paradoks healing culture muncul. Banyak orang kota mencari ketenangan di desa karena lelah dengan tekanan eksternal, tetapi justru masuk ke dalam tekanan sosial yang lebih halus dan personal. 

Jika kota menghukum kegagalan dengan ketertinggalan, desa menghukum perbedaan dengan stigma. 

Padahal orang datang dari kota mencari ketenangan dari tekanan individualistik, tapi sering tidak siap menghadapi tekanan kolektif yang jauh lebih halus dan lebih sulit ditolak. 

Secara teoritis, ini bisa dijelaskan melalui perspektif bomodal sosial. Desa memiliki bonding social capital yang sangat kuat, ikatan internal yang menciptakan kepercayaan tinggi dan solidaritas luar biasa. 

Sayangnya, bonding social capital yang dipopulerkan secara jelas oleh Robert Putnam, dengan fondasi teoritis dari Pierre Bourdieu dan James Coleman, seperti pedang bermata dua. 

Ia menciptakan masyarakat yang hangat, solid, dan penuh empati, tetapi dalam saat yang sama bisa menjadi sistem yang eksklusif, menekan, dan anti-perbedaan. 

Parahnya, kekuatan ini sering tidak diimbangi dengan bridging social capital, yaitu kemampuan menerima perbedaan. 

Akibatnya, siapa pun yang “tidak sama” akan kesulitan menemukan ruang aman. Identitas privat harus dinegosiasikan, bahkan dikorbankan, demi harmoni kolektif. 

Bridging kunci kemajuan hubungan sosial, tetapi bukan sumber ketenangan. 

Sekarang, momen Idul Fitri menjadi panggung paling jujur dari dinamika ini. 

Mudik yang sering dikemas sebagai perjalanan spiritual dan emosional, sejatinya juga merupakan ritual legitimasi sosial. 

Kesuksesan harus dipertontonkan, meski sering kali semu karena membawa beban baru saat kembali ke kota. 

Banyak perantau pulang dengan membawa citra “berhasil”, sementara di baliknya tersembunyi tekanan ekonomi dan psikologis yang belum selesai. 

Ironisnya, desa yang menjadi tempat healing justru menjadi arena kompetisi simbolik baru: siapa yang paling berhasil, siapa yang paling dermawan, siapa yang paling layak dihormati. 

Namun, bukan berarti desa harus ditolak sebagai ruang pemulihan. Yang perlu dikoreksi adalah cara kita memaknainya. 

Healing bukan soal berpindah lokasi, melainkan kemampuan mengelola diri. Desa bisa menjadi ruang refleksi, tetapi bukan solusi instan. 

Tanpa kesiapan beradaptasi dengan norma sosialnya, “ketenangan” yang dicari bisa berubah menjadi keterasingan baru. 

Lebih jauh, fenomena ini seharusnya menjadi alarm, bukan tren. 

Jika desa terus diposisikan sebagai pelarian, maka kita sedang menghindari akar masalah: sistem kerja yang eksploitatif, standar kesuksesan yang tidak manusiawi, dan kota yang gagal menjadi ruang hidup yang layak. 

Alih-alih terus menjual narasi healing, kita perlu bertanya lebih radikal: mengapa hidup normal saja kini membutuhkan pelarian? Desa tidak salah. 

Kota pun tidak sepenuhnya keliru. Yang bermasalah adalah cara kita membangun makna tentang hidup yang “layak dijalani”. 

Selama kesuksesan masih diukur dari kelelahan, maka healing akan selalu menjadi kebutuhan, sementara desa akan terus dijadikan ilusi yang menenangkan, meski tidak selalu menyembuhkan. 

Akhirnya, mohon maaf lahir dan batin akan selalu menjadi ukuran, setiap ketersinggungan dalam bersosialisasi diakhiri dengan maaf-maafan. 

Penulis adalah Praktisi Statistik Bidang Pembangunan Desa

Sumber: kompas.com

Gubernur Andra Soni Salat Idul Fitri di Alun-alun Serang, Ajak Pererat Silaturahmi dan Persaudaraan

By On Minggu, Maret 22, 2026

Gubernur Banten, Andra Soni melaksanakan Salat Idul Fitri 1447 Hijriah bersama masyarakat, di Alun-Alun Barat Kota Serang, Sabtu, 21 Maret 2026.  

SERANG, KabarViral79.Com - Gubernur Banten, Andra Soni melaksanakan Salat Idul Fitri 1447 Hijriah bersama masyarakat, di Alun-Alun Barat Kota Serang, Sabtu, 21 Maret 2026. 

Momentum tersebut berlangsung khidmat dan penuh kebersamaan, menandai kemenangan umat Muslim setelah menjalani ibadah puasa selama bulan Ramadan

“Atas nama Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten dan masyarakat Banten, kami mengucapkan Minal aidin wal faizin, mohon maaf lahir dan batin,” ujar Andra Soni. 

Andra Soni juga menyampaikan rasa syukur atas kelancaran pelaksanaan salat Idulfitri. 

Hadir dalam kesempatan tersebut, Ketua DPRD Banten Fahmi Hakim, Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Provinsi Banten, Ketua Tim Penggerak (TP) PKK Tinawati Andra Soni, Walikota Serang Budi Rustandi dan Wakil Walikota Serang Nur Agis Aulia, serta Forkopimda Kota Serang. 

"Idul Fitri juga menjadi momentum untuk mempererat tali silaturahmi, saling memaafkan, serta memperkuat ukhuwah di antara kita," kata Andra Soni. 

Menurut Andra Soni, momen Hari Raya Idul Fitri dapat dijadikan sebagai sarana untuk memperbaiki diri, mempererat persaudaraan, serta menumbuhkan kembali nilai-nilai kebersamaan dan kepedulian sosial. 

"Idul Fitri adalah momentum kembali kepada fitrah dan menjadi pribadi yang lebih baik," ucapnya. 

Andra Soni juga mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak dan masyarakat Provinsi Banten yang telah menjaga kondusivitas selama bulan Ramadan hingga pelaksanaan Idul Fitri. 

"Kami juga mengucapkan terima kasih kepada seluruh masyarakat yang selama ini terus menjaga kondusivitas. Sekali lagi saya ucapkan minal aidin wal faizin, mohon maaf lahir dan batin," ujarnya. (Welfendry)

Iran Gelar Salat Id di Lapangan Terbuka saat Perang dengan AS-Israel

By On Minggu, Maret 22, 2026

Warga Iran mengikuti Salat Idul Fitri, menandai berakhirnya bulan suci Ramadan, di Masjid Agung Mosalla di Teheran, Sabtu, 21 Maret 2026.  

JAKARTA, KabarViral79.Com - Ribuan umat Muslim di Iran melaksanakan Salat Idul Fitri yang jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026. 

Salat Id menandai berakhirnya puasa bulan Ramadan di tengah berkecamuknya perang di Timur Tengah. 

Dilansir dari AFP, Sabtu, 21 Maret 2026, warga Iran melaksanakan Salat Idul Fitri, menandai berakhirnya bulan suci Ramadan sehari setelah sebagian besar negara muslim lainnya. 

Saat fajar, kerumunan jemaah berkumpul di Masjid Agung Imam Khomeini di pusat Teheran, yang dinamai menurut nama pendiri Republik Islam tersebut. 

Karena keterbatasan ruang, banyak jamaah melaksanakan Salat di luar, dengan televisi pemerintah menayangkan gambar-gambar area yang ramai di sekitar Masjid, meskipun ada risiko serangan. 

Ibu Kota Iran telah dibombardir hampir setiap hari sejak serangan gabungan Amerika Serikat (AS)-Israel memulai perang pada 28 Februari, yang menewaskan para Pejabat Tinggi, termasuk Pemimpin Tertinggi Republik Islam tersebut. 

Serangan pada Jumat malam, 20 Maret 2026, kembali menargetkan beberapa distrik di Teheran dan sekitarnya, serta Kota Isfahan di pusat, menurut Kantor Berita Fars

Televisi Iran juga menayangkan warga Salat Id di tempat lain di negara itu, termasuk di Arak di bagian tengah, Zahedan di tenggara, dan Kota Abadan di barat. (*/red) 

Puan Harap Momen Idul Fitri Pererat Kebersamaan Bangsa

By On Sabtu, Maret 21, 2026

Ketua DPR RI, Puan Maharani

JAKARTA, KabarViral79.Com - Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Republik Indonesia (RI), Puan Maharani menyampaikan selamat Idul Fitri 1 Syawal 1447 Hijriah kepada seluruh masyarakat Indonesia. 

Dia berharap, momen Lebaran 2026 dapat mempererat kebersamaan bangsa untuk membangun Indonesia yang lebih baik. 

"Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah. Minal Aidin Wal Faizin, mohon maaf lahir dan batin," ujar Puan dalam keterangan tertulisnya, Jumat, 20 Maret 2026

Puan juga mengajak umat Muslim untuk menyambut Hari Kemenangan dengan sukacita setelah sebulan lamanya menjalankan ibadah puasa. 

"Ramadan telah menempa diri kita, membersihkan jiwa dan menjernihkan hati. Kini, Idul Fitri hadir membawa kita kembali pada kesucian diri. Di Hari yang fitri ini, marilah kita saling membukakan pintu maaf," tuturnya. 

Meski ada perbedaan Hari Raya Idul Fitri, Puan mengajak semua pihak untuk terus menjaga kebersamaan dan selalu membangun toleransi. 

Diketahui sebelumnya, pemerintah resmi menetapkan Idul Fitri 1 Syawal 1447 Hijriah atau Lebaran 2026 pada Sabtu, 21 Maret 2026. Sementara Muhammadiyah menetapkan awal bulan Syawal 1447 H jatuh pada hari Jumat, 20 Maret 2026. 

"Mari kita mempererat kebersamaan, dan memperkuat semangat gotong royong demi membangun Indonesia yang lebih baik," ujar Puan. 

Puan juga mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk memperkuat kepedulian dan kebersamaan. 

"Di momen Idul Fitri ini, mari kita meningkatkan rasa empati kepada sesama, terutama bagi mereka yang kekurangan dan membutuhkan," ujarnya. 

Puan juga menilai aksi kepedulian sangat penting, apalagi dunia tengah dilanda berbagai dinamika geopolitik yang mempengaruhi stabilitas ekonomi global termasuk perekonomian Indonesia. 

Dia juga mendorong pemerintah untuk semakin peka dalam memperjuangkan kesejahteraan rakyat. 

"Rakyat masih terus menaruh harapan besar agar negara hadir, khususnya di saat-saat rakyat paling membutuhkan," ucapnya.

Puan juga meminta pemerintah memastikan kelancaran momen Idul Fitri. 

"Mulai dari kelancaran umat Muslim dalam merayakan Hari Idul Fitri, kelancaran transportasi dan semua infrastruktur arus mudik-arus balik, hingga kepastian keamanan dan kenyamanan masyarakat saat libur Lebaran," jelasnya. 

Kepada seluruh rakyat Indonesia, Puan mengucapkan selamat bersilaturahmi bersama keluarga di momen libur Lebaran 2026. 

"Semoga seluruh umat Muslim menyambut Hari Kemenangan dengan gembira. Dan bagi seluruh masyarakat, selamat berkumpul dengan keluarga di momen libur Lebaran ini," pungkasnya. (*/red)

Klaim Angka Kecelakaan dan Fatalitas Turun, Kakorlantas: Mudik Aman dan Bahagia

By On Sabtu, Maret 21, 2026

Kakorlantas Polri, Irjen Agus Suryonugroho saat Konferensi Pers di Polda Metro Jaya, Jakarta, Jumat malam, 20 Maret 2026. 

JAKARTA, KabarViral79.Com - Korps Lalu Lintas (Korlantas) Polri mengklaim angka kecelakaan lalu lintas selama pelaksanaan arus mudik Lebaran 2026 mengalami penurunan, seiring situasi keamanan yang disebut tetap kondusif. 

Kakorlantas Polri, Irjen Agus Suryonugroho mengatakan, hingga saat ini, tidak terdapat peristiwa menonjol selama Operasi Ketupat 2026 berlangsung. 

"Sampai saat ini kami sampaikan kepada seluruh media bahwa peristiwa menonjol sampai saat ini tidak ada. Dari harkamtibmas cukup kondusif," ujar Agus saat Konferensi Pers di Polda Metro Jaya, Jakarta, Jumat malam, 20 Maret 2026. 

Menurutnya, dari sisi keamanan, keselamatan, ketertiban, dan kelancaran lalu lintas (kamseltibcarlantas), terjadi penurunan angka kecelakaan dibandingkan periode mudik tahun sebelumnya. 

"Peristiwa jumlah kecelakaan itu turun 3,12 persen. Peristiwa fatalitas korban, korban meninggal dunia dibandingkan tahun 2025, ada penurunan 24,68 persen," ujarnya. 

Capaian tersebut, kata Agus, tidak lepas dari kerja sama berbagai pihak, termasuk kehadiran personel di lapangan melalui pos pengamanan (Pospam), pos pelayanan, dan pos terpadu yang tersebar di sejumlah titik. 

Ia menegaskan, Operasi Ketupat merupakan operasi kemanusiaan yang mengedepankan aspek keselamatan masyarakat selama perjalanan mudik. 

"Hal yang perlu kami laporkan bahwa Operasi Ketupat adalah operasi kemanusiaan. Yang paling terpenting adalah aman dan selamat," tegasnya. 

Ia menambahkan, pengamanan Operasi Ketupat mencakup lima klaster utama, yakni jalan arteri, jalan tol, pelabuhan penyeberangan, tempat ibadah, dan lokasi wisata. 

Polri berharap kondisi kondusif ini dapat terus dipertahankan hingga arus balik Lebaran, sehingga masyarakat dapat kembali ke tempat asal dengan aman. 

“Operasi Ketupat adalah bagaimana kita hadir di lapangan untuk memastikan bahwa semua perjalanan adalah bahagia. Semua perjalanan adalah rindu. Rindu pada kampung halaman, rindu pada keluarga, dan kembalinya selamat," pungkasnya. (*/red)

Prabowo: Selamat Idul Fitri, Mari Perkuat Persatuan di Tengah Tantangan Bangsa

By On Sabtu, Maret 21, 2026

Presiden Prabowo mengucapkan selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah bagi umat muslim di Indonesia. 

JAKARTA, KabarViral79.ComPresiden Prabowo Subianto mengajak masyarakat menjadikan momentum Idul Fitri 1447 Hijriah, sebagai ajang memperkuat persatuan di tengah berbagai tantangan. 

Prabowo juga menyampaikan rasa syukurnya karena masih diberikan kesempatan merayakan hari kemenangan setelah menjalani ibadah puasa Ramadan selama 30 hari. 

“Saya, Prabowo Subianto, Presiden Republik Indonesia, atas nama pribadi, keluarga, dan Pemerintah Republik Indonesia, mengucapkan selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah. Mohon maaf lahir dan batin, minal aidin wal faizin,” kata Prabowo melalui kanal YouTube Sekretariat Presiden, Jumat, 20 Maret 2026. 

Menurutnya, Idul Fitri harus dimaknai sebagai momen saling memaafkan sekaligus mempererat persatuan sebagai satu bangsa. 

"Mari kita manfaatkan momen Idul Fitri ini untuk saling memaafkan, mempererat silaturahmi, dan memperkuat persatuan sebagai satu bangsa di tengah berbagai tantangan yang kita hadapi,” ujarnya. 

“Marilah kita terus memperkuat kebersamaan sebagai satu keluarga besar bangsa Indonesia,” sambungnya. 

Dia juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bekerja lebih keras, saling membantu, serta bersama-sama membangun Indonesia yang lebih adil, sejahtera, dan kuat. 

“Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menerima amal ibadah kita semua dan senantiasa melimpahkan rahmat serta berkah-Nya kepada bangsa Indonesia,” tuturnya. (*/red)

Mudik Performatif, Mudik Kamuflase, dan Ancaman Mudik Ekstraktif

By On Sabtu, Maret 21, 2026

Ilustrasi arus mudik lebaran 2026. 

Oleh: Ija Suntana

Di permukaan, mudik terlihat sebagai peristiwa sederhana. Orang pulang menemui orang tua, saudara, dan kampung halaman. Namun, mudik sebenarnya adalah peristiwa sosial yang sarat dengan status, strategi sosial, dan bahkan masa depan. 

Dalam praktiknya, gaya mudik perantau dapat dilihat setidaknya dalam tiga tipe. Pertama, mudik performatif. Dalam tipe ini, pulang kampung menjadi panggung untuk menampilkan keberhasilan hidup di kota. Penampilan diatur sedemikian rupa. 

Pakaian baru, kendaraan yang terlihat mapan, gawai mahal, dan oleh-oleh yang melimpah. Tidak jarang ada yang rela menyewa telepon genggam mahal agar tampak lebih “sukses”. 

Mudik tipe ini menjadi semacam presentasi sosial. Seseorang ingin memperlihatkan bahwa perjalanan merantau tidak sia-sia, ada hasilnya. 

Kedua, mudik kamuflase. Jika yang pertama menaikkan citra, yang kedua justru menurunkannya. 

Sebagian perantau sengaja tampil biasa saja ketika pulang kampung. Bukan semata-mata karena rendah hati, tetapi karena perhitungan sosial yang sangat realistis. 

Di banyak tempat, seseorang yang terlihat sukses sering dianggap memiliki kemampuan finansial yang lebih. 

Dari situlah muncul berbagai permintaan bantuan, pinjaman, atau tanggung jawab sosial tambahan. Agar tidak dibebani ekspektasi semacam itu, sebagian perantau memilih strategi sederhana, yaitu menyembunyikan tanda-tanda kemapanan. 

Ketiga, mudik strategis. Mudik tipe ini berorientasi pada makna relasi dan masa depan. Dalam tipe ini, pulang kampung bukan panggung reputasi dan bukan pula strategi menghindari tuntutan secara kamuflase. Mudik dimaknai sebagai kesempatan membaca masa depan kampung halaman. 

Pada tipe ketiga ini, perantau membawa pengalaman hidup di kota. Dalam percakapan santai di rumah keluarga atau di warung kopi desa, bisa terjadi transfer pengalaman. Informasi tentang peluang usaha atau teknologi sederhana bisa mengalir melalui percakapan informal. 

Dalam konteks pembangunan desa, mudik strategis sebenarnya dapat membantu pemerintah meningkatkan kapasitas masyarakat. 

Negara tentu memiliki program untuk meningkatkan kapasitas warga di pedesaan, tetapi jangkauannya selalu terbatas karena banyak faktor. 

Mudik, dalam batas tertentu, bisa menjadi mekanisme sosial yang membantu proses peningkatan kapasitas masyarakat desa. 

Perantau membawa pengetahuan, jaringan, dan kadang modal kecil yang dapat memicu aktivitas ekonomi lokal. 

Ancaman mudik ekstraktif Mudik strategis tidak melulu membawa dampak baik bagi masyarakat kampung. 

Kalau tidak diantisipasi dengan baik, bisa muncul tipe mudik pemicu persoalan yang tidak sederhana. Tipenya disebut mudik ekstraktif. 

Tidak sedikit kasus di mana kejadian mudik justru berujung pada pelepasan aset vital masyarakat kampung, terutama tanah, kepada pemudik. 

Ketika tanah dijual kepada pemudik—karena terdesak situasi—yang dilepaskan bukan hanya sebidang lahan, tetapi juga bagian dari masa depan ekonomi warga di kampung. Warga desa yang memiliki kebutuhan ekonomi mendesak menjual tanah mereka kepada pemudik. 

Uang hasil penjualannya digunakan untuk keperluan konsumsi—biaya renovasi rumah atau kebutuhan sehari-hari. 

Dalam waktu tidak terlalu lama, uang itu habis. Sementara tanah yang dijual telah berpindah kepemilikan secara permanen. Akibatnya, masyarakat kehilangan alat produksi yang sebelumnya menjadi penopang kehidupan mereka. 

Sementara itu, ketika hasil penjualan aset jangka panjang tidak diubah menjadi investasi produktif baru, yang muncul adalah kemiskinan kultural berkelanjutan. 

Paradoksnya sangat jelas, yaitu aset strategis hilang, tetapi tidak lahir aset produktif pengganti. 

Karena itu, jika mudik strategis akan didorong sebagai momentum membaca peluang ekonomi kampung, maka diperlukan kesadaran yang lebih dalam agar tidak berubah menjadi mudik ekstraktif. 

Investasi para pemudik di desa seharusnya tidak berubah menjadi proses konsentrasi kepemilikan aset yang justru melemahkan masyarakat lokal. 

Diperlukan model “investasi mudik” yang memungkinkan masyarakat desa tetap menjadi bagian dari pertumbuhan ekonomi. 

Perantau membawa modal sekaligus membawa perspektif baru, tapi masyarakat desa tidak sampai kehilangan aset vital (tanah). 

Alih-alih menjual tanah, warga desa dapat masuk dalam skema kemitraan dengan perantau. 

Dengan memanfaatkan program pemerintah melalui Koperasi Merah Putih—sekadar contoh—masyarakat dapat membentuk koperasi tanah yang mengelola lahan warga secara kolektif dengan menawarkan investasi kepada pemudik. 

Salah satu upaya penting yang perlu dipertimbangkan adalah bahwa pemerintah desa sebenarnya dapat membuat peraturan desa (Perdes) yang melindungi tanah strategis tertentu. 

Misalnya, pembatasan penjualan lahan pertanian strategis, kewajiban musyawarah desa sebelum penjualan lahan tertentu, dan prioritas pembelian oleh warga desa atau BUMDes. 

Langkah ini bukan melarang transaksi, tetapi mengendalikan dampaknya terhadap struktur ekonomi desa. Secara taktis, Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) dapat berperan sebagai pengelola tanah strategis agar tidak jatuh sepenuhnya ke tangan pihak luar. 

BUMDes membeli lahan strategis dengan skema saham desa atau lahan dikelola untuk usaha strategis (agrowisata atau pasar desa), sehingga aset desa tetap berada dalam kendali kolektif masyarakat. 

Mudik tidak sekadar perjalanan pulang sekelompok masyarakat, tetapi harus menjadi pertemuan antara masa lalu dan masa depan. 

Koneksitas antara nostalgia dan perhitungan ekonomi. Kampung bukan sekadar tempat kita berasal. Kampung adalah ruang masa depan yang menunggu untuk dipikirkan bersama.

Penulis adalah Pengajar pada Program Studi Hukum Tata Negara UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Sumber: kompas.com

NATO Tolak Bantu Amankan Selat Hormuz, Trump Kembali Mencak-mencak: Pengecut!

By On Sabtu, Maret 21, 2026

Presiden AS, Donald Trump

JAKARTA, KabarViral79.Com - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump mengecam keras minimnya dukungan yang diberikan negara-negara NATO kepada AS dalam perang melawan Iran, khususnya mengamankan jalur Selat Hormuz

Trump menyebut, sekutunya di NATO itu sebagai pengecut. 

"Tanpa AS, NATO hanya macan kertas," ujar Trump dalam unggahannya di Truth Social dilansir dari Channel News Asia (CNA), Jumat, 20 Maret 2026. 

Diketahui, Selat Hormuz telah diblokade Iran sejak negara itu diserang AS dan Israel pada 28 Februari silam. 

Penutupan di jalur perdagangan minyak dunia ini membuat kelangkaan dan naiknya harga minyak. 

Trump kemudian meminta sekutunya di NATO untuk turun tangan dalam mengamankan jalur Selat Hormuz dari Iran. Namun, keinginan dari Trump itu tidak digubris oleh para anggota NATO. 

"Sekarang pertempuran itu telah dimenangkan secara militer, dengan bahaya yang sangat kecil bagi mereka, mereka mengeluh tentang harga minyak yang tinggi yang terpaksa mereka bayar, tetapi tidak mau membantu membuka Selat Hormuz, manuver militer sederhana yang merupakan satu-satunya alasan tingginya harga minyak. Sangat mudah bagi mereka untuk melakukannya, dengan risiko yang sangat kecil," tulis Trump. 

"Para pengecut dan kita akan mengingatnya," imbuhnya. 

Dilansir dar AFP, Jumat, 20 Maret 2026, Inggris, Prancis, Jerman, Italia, Jepang, dan Belanda mengatakan pada Kamis, 19 Maret 2026, bahwa mereka siap berkontribusi pada upaya yang tepat untuk memastikan jalur aman melalui Selat Hormuz. 

Kelompok tersebut mengatakan mereka menyambut baik komitmen negara-negara yang terlibat dalam perencanaan persiapan, dan mereka mengutuk dengan keras serangan baru-baru ini oleh Iran terhadap kapal-kapal komersial tak bersenjata di Teluk. 

Namun Italia, Jerman, dan Prancis kemudian menjelaskan pada Kamis, 19 Maret 2026 bahwa mereka tidak berbicara tentang bantuan militer langsung, melainkan inisiatif multilateral potensial setelah gencatan senjata. (*/red)

Saat Tak Semua Bisa Pulang di Hari Idul Fitri: Kisah Sunyi dari Tenda Pengungsian Kantor Bupati Bireuen

By On Jumat, Maret 20, 2026

Memasuki lebaran Idul Fitri, warga masih menempati tenda pengungsian di halaman kantor Bupati Bireuen.  

BIREUEN, KabarViral79.Com Besok, Sabtu, 21 Maret 2026, gema Idul Fitri akan menyapa. Pendopo terbuka, open house digelar, senyum dan hidangan tersaji untuk para tamu yang datang bersilaturahmi. 

Namun di halaman Kantor Pusat Pemerintahan Kabupaten Bireuen, suasana yang berbeda justru terasa. Di sana, puluhan warga masih bertahan di bawah tenda. 

Yang satu bersiap menyambut tamu, yang lain masih menunggu kepastian. Yang satu merayakan kemenangan, yang lain masih berjuang dengan kehilangan. 

Malam itu, angin berembus pelan, menyusup di sela-sela tenda darurat yang berdiri seadanya. Di atas tikar tipis, beberapa anak terlelap, tubuh kecil mereka berusaha berdamai dengan dingin. Di dekatnya, para ibu tetap terjaga-diam, memandangi langit yang tak pernah benar-benar menjanjikan apa-apa. 

Sudah sembilan hari mereka bertahan di tempat itu. Jauh dari rumah yang dulu mereka sebut tempat pulang. Banjir tak hanya merenggut dinding dan atap, tapi juga rasa aman sesuatu yang tak mudah digantikan oleh terpal dan tiang seadanya. 

“Yang kami butuhkan bukan penjelasan panjang, tapi kepastian,” ucap seorang ibu pelan, sambil memeluk anaknya yang terbangun karena dingin malam. 

Kalimat itu sederhana, tapi menggambarkan kelelahan yang dalam lelah menunggu, lelah berharap. 

Siang hari menghadirkan wajah yang berbeda. Suara-suara mulai meninggi. Para pengungsi, bersama sejumlah warga lainnya, berdiri di depan kantor Bupati. Mereka tidak datang membawa kemarahan semata, tapi harapan yang terus mereka jaga. 

Namun yang datang sering kali hanya penjelasan yang berulang. Tentang kewenangan yang berada di pusat, tentang prosedur yang harus dilalui, tentang data yang masih diverifikasi. Sementara waktu terus berjalan, tanpa jeda. 

Memasuki lebaran Idul Fitri, warga masih menempati tenda pengungsian di halaman kantor Bupati Bireuen. 

Di sisi lain, pemerintah merasa telah berupaya. Hunian sementara disebut telah disiapkan. Proses verifikasi data telah dibuka. 

Sebagian pengungsi memilih tetap bertahan di tenda. Bukan karena menolak bantuan, melainkan karena keraguan yang belum terjawab. Mereka takut berpindah tanpa kepastian, takut kembali terjebak dalam ketidakjelasan yang sama. 

“Kami sudah capek pindah-pindah. Kami ingin tahu, kapan semua ini benar-benar selesai,” kata seorang pria paruh baya, menatap kosong keramaian di sekitarnya. 

Hari-hari terus bergulir mendekati Lebaran. Di banyak tempat, orang-orang mulai menyiapkan baju baru, kue khas, dan rencana mudik. Rumah-rumah dibersihkan, meja makan dipenuhi hidangan. 

Namun di Bireuen, sebagian warga justru masih berkutat dengan tenda, genangan, dan ketidakpastian. 

Di sudut tenda, seorang anak bertanya polos kepada ibunya, “Kita Lebaran di sini, ya?” 

Sang ibu terdiam. Tak ada jawaban. 

Barangkali, yang paling menyakitkan bukan hanya kehilangan rumah, melainkan ketika harapan perlahan memudar, digantikan oleh perasaan bahwa suara mereka tak benar-benar didengar. 

Di tengah gemerlap perayaan Idul Fitri, ada mereka yang masih bertahan dalam sunyi. 

Bahwa suatu hari nanti, mereka benar-benar bisa pulang. Dan ketika hari itu tiba, mungkin Lebaran akan kembali terasa utuh—bukan sekadar perayaan, tapi benar-benar tentang kembali ke rumah. (Joniful Bahri)