-->

Berita Terbaru

Subscribe Here!

Enter your email address. It;s free!

Delivered by FeedBurner

Lebaran di Bawah Bayang Perang: Konflik Global Mengetuk Pintu Dapur

By On Minggu, Maret 15, 2026

Foto ilustrasi. 

Oleh: Dikdik Sadikin

Di bulan Ramadhan, biasanya kita menghitung hari menuju takbir. Tahun ini, sebagian orang juga menghitung kurs. Angka-angka berderet di layar ponsel: Rp 16.800, Rp 16.900, bahkan sempat menembus Rp 17.000 per dolar AS

Nilai tukar rupiah yang melemah itu bukan sekadar grafik ekonomi. Ia adalah gema jauh dari langit Timur Tengah. 

Dari rudal yang melintas antara Israel dan Iran, dari kapal tanker yang menunggu di Selat Hormuz. Perang selalu dimulai jauh dari dapur kita. Namun, ia sering berakhir di sana. 

Perang antara Amerika Serikat–Israel dan Iran telah mengubah pasar global menjadi ruang cemas. 

Harga minyak dunia melonjak, bahkan sempat melewati 100 dollar AS per barel akibat gangguan pasokan dan ancaman terhadap jalur pelayaran energi. 

Indonesia, negara yang masih mengimpor sebagian besar energi, tidak punya banyak pilihan selain menanggung riaknya. 

Anggaran negara Indonesia tahun 2026 dihitung dengan asumsi harga minyak sekitar 70 dollar AS per barel. Setiap kenaikan 1 dollar AS saja bisa menambah beban subsidi sekitar Rp 10,3 triliun, sementara tambahan pendapatan negara hanya sekitar Rp 3,6 triliun. Selisihnya menjadi lubang fiskal sekitar Rp 6,7 triliun (Indonesia Business Post, 2026). 

Di sinilah perang berubah menjadi angka. Ekonom sering menyebutnya cost-push inflation, kenaikan harga yang didorong biaya produksi, bukan permintaan. 

Namun, bagi keluarga yang menunggu THR, istilah itu terdengar terlalu dingin. Yang terasa hanya harga-harga yang pelan-pelan naik. Seperti kata ekonom John Maynard Keynes: “The market can stay irrational longer than you can stay solvent.” (Keynes, 1930-an, dikutip luas dalam literatur ekonomi modern). 

Pasar global, yang kadang tampak seperti makhluk tanpa wajah, lebih cepat bereaksi terhadap rudal daripada doa. 

Menjelang Idul Fitri, ekonomi Indonesia biasanya bergerak seperti arus mudik: deras, ramai, dan penuh harapan. Konsumsi rumah tangga melonjak. Pedagang pasar menambah stok. Namun, tahun ini suasananya sedikit berbeda. Ketika konflik Timur Tengah memanas, investor global cenderung meninggalkan negara berkembang dan memegang dolar AS yang dianggap lebih aman. 

Itulah sebabnya rupiah tertekan dan pasar saham Indonesia sempat jatuh lebih dari 3 persen dalam satu sesi perdagangan akibat sentimen geopolitik global. 

Di ruang pasar, ketakutan bergerak lebih cepat daripada kapal tanker. Bandingkan dengan negara lain. Jepang, misalnya, juga menghadapi kenaikan biaya impor akibat melemahnya yen dan lonjakan harga energi. 

Bahkan indeks harga impor Jepang naik sekitar 2,8 persen pada Februari 2026, menandakan tekanan inflasi dari luar negeri (Reuters, 2026). 

Inggris juga menghadapi ancaman yang sama: konflik Timur Tengah diperkirakan bisa mendorong inflasi mereka naik hingga sekitar 3 persen (The Guardian, 2026). Perang yang sama, tetapi dampak yang berbeda. 

Ada satu titik kecil di peta dunia yang tiba-tiba menjadi penting: Selat Hormuz. Sekitar 20 persen perdagangan energi dunia melewati jalur sempit ini. Jika jalur itu terganggu oleh perang atau blokade, harga energi global bisa melonjak tajam (Reuters, 2023). 

Di Jakarta, jaraknya lebih dari tujuh ribu kilometer. Namun, efeknya bisa terasa di warung gorengan. 

Jika minyak dunia naik, pemerintah harus memilih: menaikkan harga BBM atau memperbesar subsidi. 

Hingga menjelang Lebaran 2026, pemerintah memilih menahan harga bahan bakar agar konsumsi masyarakat tidak terguncang. 

Pilihan itu seperti menahan napas: memberi waktu, tetapi tidak menghilangkan masalah. Namun, di sinilah sebenarnya ada ruang harapan. Indonesia tidak sepenuhnya rapuh. 

Cadangan devisa Bank Indonesia masih relatif kuat, ekonomi domestik masih ditopang konsumsi dalam negeri, dan tradisi berbagi saat Lebaran—zakat, sedekah, dan THR—selalu menjadi bantalan sosial yang tidak tercatat dalam statistik ekonomi, tetapi nyata dalam kehidupan masyarakat. 

Ada ironi dalam situasi ini. Di Timur Tengah, rudal menyalakan langit malam. Di Indonesia, lampu-lampu pasar Ramadhan tetap menyala. 

Orang membeli kurma, sarung, dan tiket mudik. Sementara grafik ekonomi di layar Bloomberg bergerak seperti elektrokardiogram planet ini. 

Albert Camus pernah menulis: “The tragedy of the world is that it is both reasonable and unreasonable.” (Albert Camus, The Myth of Sisyphus, 1942). Perang sering tampak rasional bagi para jenderal, tetapi absurd bagi rakyat yang hanya ingin hidup biasa. 

Di ujung Ramadhan, kita biasanya berbicara tentang kemenangan: kemenangan melawan diri sendiri, melawan nafsu. Namun, ekonomi global mengingatkan bahwa manusia belum pernah benar-benar menang melawan konflik. 

Rudal di Timur Tengah dapat menggerakkan kurs di Jakarta. Kapal tanker yang tertahan di Hormuz bisa memengaruhi harga minyak goreng di pasar desa. Namun, ada satu hal yang tidak pernah berubah: daya tahan masyarakat. 

Lebaran selalu datang membawa pelajaran yang lebih tua dari geopolitik: bahwa harapan sering tumbuh bukan dari stabilitas dunia, melainkan dari solidaritas manusia. 

Ketika harga-harga naik, orang Indonesia biasanya menjawabnya dengan cara sederhana: berbagi makanan, membuka pintu rumah bagi keluarga, dan mengubah meja makan menjadi ruang kebersamaan. 

Dalam tradisi Islam, Nabi Muhammad pernah mengingatkan: “Barang siapa memberi makan orang yang berbuka puasa, maka ia mendapat pahala seperti orang yang berpuasa itu.” (HR. Tirmidzi). 

Mungkin di situlah penghiburan kecil di tengah dunia yang gelisah: bahwa kebaikan sehari-hari sering lebih kuat daripada gejolak pasar. 

Dunia hari ini memang seperti jaringan saraf yang sangat peka. Satu luka kecil di satu ujungnya bisa terasa di ujung lain. Namun, menjelang Idul Fitri, ketika orang-orang menyiapkan pakaian baru dan anak-anak menunggu amplop THR, kita kembali diingatkan pada satu hal lama: Perdamaian—lebih dari minyak, lebih dari dolar—adalah komoditas paling mahal di dunia. Dan, karena itu, juga menjadi paling layak diperjuangkan. 

Penulis adalah adalah seorang auditor berpengalaman yang purnabakti dari Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP)

Sumber: kompas.com

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »