-->

Berita Terbaru

Subscribe Here!

Enter your email address. It;s free!

Delivered by FeedBurner

Aceh Perpanjang Status Tanggap Darurat Banjir dan Longsor Hingga Akhir Januari

By On Sabtu, Januari 24, 2026

Kondisi wilayah Aceh Utara pasca banjir bandang dan sejauh ini wilayah itu masih berdampak sangat parah dan belum normal. 


BANDA ACEH, KabarViral79.Com Pemerintah Aceh kembali memperpanjang status tanggap darurat bencana banjir dan longsor untuk keempat kalinya. Perpanjangan ini berlaku selama tujuh hari, terhitung mulai 23 Januari hingga 29 Januari 2026.

Dengan perpanjangan tersebut, total masa tanggap darurat bencana di Aceh telah berlangsung selama dua bulan sejak pertama kali ditetapkan pada Kamis, 27 November 2025.

Keputusan ini diambil dalam rapat Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Aceh yang digelar pada Kamis, 22 Januari 2026, menyusul masih adanya dampak banjir dan longsor di sejumlah kabupaten/kota.

Juru Bicara Pemerintah Aceh, Muhammad MTA mengatakan, perpanjangan status tanggap darurat didasarkan pada surat Menteri Dalam Negeri (Mendagri), serta hasil Rapat Koordinasi (Rakor) secara virtual dengan para Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten/Kota terdampak.

“Pertimbangan utama perpanjangan ini adalah kondisi lapangan yang masih membutuhkan penanganan terpadu, khususnya terkait pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat terdampak serta percepatan pemulihan pasca bencana,” ujar Muhammad MTA.

Pemerintah Aceh memastikan koordinasi lintas sektor terus dilakukan guna mempercepat penanganan bencana, termasuk distribusi bantuan logistik, layanan kesehatan, dan perbaikan infrastruktur terdampak. (Joniful Bahri)

Pemulihan Jalan dan Jembatan Pasca Bencana Aceh Capai Target, Akses Nasional Kembali Fungsional

By On Sabtu, Januari 03, 2026

Aparat TNI beserta masyarakat bahu membahu dalam proses pemasangan jembatan Barley di Jamur Ujung  Bener Meriah, Aceh Tengah. 

BANDA ACEH, KabarViral79.Com - Upaya pemulihan infrastruktur jalan dan jembatan pasca bencana di Provinsi Aceh terus menunjukkan kemajuan signifikan.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebut, target pemulihan jalan nasional yang ditangani Kementerian Pekerjaan Umum (PU) telah tercapai sesuai jadwal pada 30 Desember 2025.

Hingga Kamis, 01 Januari 2026, sebanyak 13 titik ruas jalan nasional telah kembali fungsional. Dari jumlah tersebut, dua ruas masih dilalui melalui jalur alternatif, di antaranya akses penghubung Bireuen–Bener Meriah dan Bener Meriah–Aceh Tengah yang dapat dilalui melalui Jembatan Weihni Enang-Enang dan Jembatan Jamu Ujung.

Sementara itu, ruas Genting Gerbang–Simpang Uning masih mengalami hambatan, namun masyarakat dapat menggunakan jalur alternatif melalui Jembatan Titi Merah. Untuk jalur Takengon–Blangkejeren, proses pemulihan masih berlangsung.

Meski demikian, konektivitas antarwilayah utama di Aceh kini kembali terhubung. Akses Banda Aceh–Medan melalui jalur timur, Banda Aceh–Nagan Raya–Medan melalui jalur barat, serta Nagan Raya–Takengon telah dapat dilalui.

Jalur Lhokseumawe–Takengon via kawasan KKA, Bireuen–Bener Meriah, dan Pidie–Takengon juga sudah fungsional meski beberapa titik jembatan masih dalam perbaikan dan dilengkapi jalur alternatif.

BNPB menilai, pulihnya jalur lintas timur, lintas tengah, lintas barat, serta jalur penghubung antarlintas akan mempercepat pemulihan sektor vital, khususnya energi, kelistrikan, dan komunikasi di wilayah terdampak seperti Bener Meriah dan Aceh Tengah.

Untuk infrastruktur jembatan, dari total 16 jembatan yang mengalami kerusakan, seluruhnya telah diselesaikan 100 persen.

Rinciannya, 12 jembatan telah fungsional di lokasi eksisting, sementara empat jembatan lainnya berfungsi melalui jalur alternatif, yakni Weihni Enang-Enang, Jamu Ujung, Titi Merah, dan Krueng Beutong.

Selain itu, dari 361 titik longsoran yang tercatat, sebanyak 360 titik atau 99,72 persen telah selesai ditangani.

Satu titik longsoran yang masih dalam pengerjaan berada di arah Jembatan Weihni Enang-Enang dan saat ini tetap dapat dilalui melalui jalur alternatif.

BNPB menegaskan, capaian ini merupakan hasil kolaborasi dan gotong royong lintas sektor. Pemerintah berharap pemulihan sektor energi dapat tercapai pada pertengahan Januari 2026 seiring semakin terbukanya akses darat.

Meski demikian, BNPB tetap mewaspadai potensi gangguan akibat faktor cuaca. Daya tampung saluran air utama sungai dan drainase primer belum sepenuhnya pulih, sehingga hujan dengan intensitas sedang hingga tinggi berpotensi menyebabkan luapan air yang dapat mengganggu hasil perbaikan infrastruktur.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, BNPB masih melaksanakan operasi modifikasi cuaca guna mendukung percepatan normalisasi sungai di sejumlah titik rawan. (Joniful Bahri)

Jamaah Pengajian Malaysia Salurkan Bantuan untuk Korban Banjir dan Longsor di Aceh

By On Senin, Desember 29, 2025

Jamaah pengajian asal Malaysia menyalurkan bantuan untuk korban bencana alam banjir dan tanah longsor di sejumlah wilayah Aceh

BANDA ACEH, KabarViral79.Com – Jamaah pengajian asal Malaysia ikut membantu korban bencana alam banjir dan tanah longsor di sejumlah wilayah Aceh selama dua hari, Sabtu-Minggu, 27-28 Desember 2025.

Bantuan yang disalurkan berupa sembako, seperti beras, telur, minyak goreng, serta pakaian, kain sarung, sajadah, dan berbagai perlengkapan ibadah lainnya.

Selain itu, jamaah pengajian Malaysia juga turut membantu pembangunan sumur bor serta perbaikan meunasah yang rusak akibat diterjang banjir.

Jamaah pengajian asal Malaysia menyalurkan bantuan untuk korban bencana alam banjir dan tanah longsor di sejumlah wilayah Aceh. 

Penyaluran bantuan dilakukan langsung oleh Waled Aiyub bin Ahmad, seorang ustaz pengajian asal Aceh yang telah lama menetap di Malaysia. 

Kegiatan kemanusiaan ini turut dibantu oleh Tgk Khanzul Kiran, tim relawan dari Malaysia dan Aceh, serta Tim Relawan H. Ruslan Daud (HRD).

Waled Aiyub kepada wartawan mengatakan, seluruh bantuan yang disalurkan merupakan hasil sumbangan para jamaah pengajian di Malaysia, baik warga asli Melayu maupun masyarakat Aceh yang menetap di Negeri Jiran.

Jamaah pengajian asal Malaysia menyalurkan bantuan untuk korban bencana alam banjir dan tanah longsor di sejumlah wilayah Aceh. 

“Alhamdulillah, selama dua hari ini kami berkeliling Aceh untuk menyalurkan bantuan ke posko-posko pengungsi dan langsung ke rumah warga yang tertimpa musibah. Kami turut berduka cita atas bencana yang menimpa saudara-saudara kami di Aceh, yang telah kehilangan jiwa dan harta benda,” ujar Waled.

Alumni Dayah Mudi Mesjid Raya Samalanga, Kabupaten Bireuen itu menegaskan, duka yang dirasakan masyarakat Aceh juga menjadi duka seluruh jamaah pengajian di Malaysia.

Ia berharap, bantuan yang diberikan dapat meringankan beban para korban bencana.

Aceh dan Malaysia adalah saudara. Sejak dahulu Aceh memiliki sejarah panjang dengan Malaysia. Karena itu, sudah sepantasnya kita saling membantu,” kata Waled Aiyub, yang saat ini sedang menempuh pendidikan doktoral (S3) di Universitas Kebangsaan Malaysia.

Di akhir kegiatan, Waled juga mengajak masyarakat Aceh yang terdampak bencana untuk tetap sabar dan tabah dalam menghadapi cobaan. Menurutnya, setiap musibah yang terjadi pasti mengandung hikmah dari Allah SWT. (Joniful Bahri)

Pemerintah Aceh Kembali Perpanjang Status Tanggap Darurat Banjir dan Longsor Hingga 8 Januari 2026

By On Sabtu, Desember 27, 2025

Pemerintah Aceh Kembali memperpanjang masa tanggap darurat bencana hidrometeorologi akibat banjir bandang dan tanah longsor. Perpanjangan kedua ini ditetapkan selama 14 hari, terhitung mulai 26 Desember 2025 hingga 8 Januari 2026

BANDA ACEH, KabarViral79.Com - Pemerintah Aceh kembali memperpanjang masa tanggap darurat bencana hidrometeorologi akibat banjir bandang dan tanah longsor.

Perpanjangan kedua ini ditetapkan selama 14 hari, terhitung mulai 26 Desember 2025 hingga 8 Januari 2026.

Juru Bicara Pemerintah Aceh, Muhammad MTA mengatakan, keputusan tersebut diambil berdasarkan hasil rapat Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Aceh yang digelar pada Kamis, 25 Desember 2025. Rapat tersebut dihadiri unsur pemerintah pusat dan pemerintah daerah.

Menurut MTA, perpanjangan status tanggap darurat didasarkan pada hasil rapat virtual bersama seluruh kabupaten dan kota terdampak bencana pada 23 Desember 2025, serta kajian terbaru dari Pos Komando Tanggap Darurat.

Rekomendasi itu kemudian diperkuat dalam rapat lanjutan yang dipimpin langsung oleh Menteri Koordinator (Menko) Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Pratikno, Kepala BNPB Suharyanto, Wakil Gubernur Aceh, serta Direktur Jenderal Bina Administrasi Kewilayahan Kementerian Dalam Negeri pada 25 Desember 2025.

"Atas dasar pertimbangan tersebut, Gubernur Aceh menetapkan Perpanjangan Kedua Status Tanggap Darurat Bencana Hidrometeorologi Aceh Tahun 2025 guna memastikan penanganan bencana berjalan optimal dan terkoordinasi," ujar MTA dalam pernyataan resminya.

Seiring dengan perpanjangan status tersebut, seluruh Satuan Kerja Perangkat Aceh (SKPA) dan pemangku kepentingan terkait diinstruksikan untuk bekerja lebih cepat, terkoordinasi, dan fokus pada pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat terdampak. 

Prioritas penanganan meliputi percepatan distribusi logistik ke lokasi pengungsian dan Gampong-gampong yang masih terisolasi, pemenuhan hak-hak dasar pengungsi sesuai standar hak asasi manusia, serta penyediaan layanan kesehatan secara optimal melalui rumah sakit, puskesmas, dan pos kesehatan lapangan.

Selain itu, Pemerintah Aceh juga diminta menyiapkan kelangsungan proses belajar-mengajar bagi anak-anak korban bencana, termasuk penyediaan perlengkapan sekolah, serta mempercepat persiapan pembangunan dan perbaikan infrastruktur pascabencana.

"Berbagai langkah pemulihan terus dilakukan di bawah supervisi Pemerintah Pusat. Semoga Aceh terus bersatu dan bangkit dari bencana ini," ujar MTA. (Joniful Bahri)

Ratusan Ribu Warga Aceh Masih Terisolir, Gubernur Akui Bantuan Belum Menjangkau Seluruh Wilayah

By On Senin, Desember 22, 2025

Gubernur Aceh, Muzakir Manaf

BANDA ACEH, KabarViral79.Com - Gubernur Aceh, Muzakir Manaf alias Mualem mengakui masih banyak daerah terdampak bencana hidrometeorologi di Aceh yang belum terjangkau bantuan secara menyeluruh.

Kondisi ini disebabkan terputusnya akses jalur darat serta keterbatasan sarana transportasi udara menuju wilayah pedalaman.

Menurut Mualem, sejumlah daerah di pedalaman Aceh Utara, Kabupaten Bener Meriah, dan Aceh Tengah hingga saat ini belum menerima bantuan sembako secara 100 persen.

"Masih ada daerah yang terisolir dan belum mendapatkan bantuan secara penuh. Tentu ini akan kita telusuri kembali dan segera kita antar bantuan ke wilayah yang belum tersentuh," kata Mualem di Banda Aceh, Sabtu, 20 Desember 2025.

Ia menjelaskan, distribusi bantuan ke daerah terisolir menghadapi berbagai kendala, terutama kondisi medan yang sulit dan berbahaya. Sejumlah wilayah hanya bisa dijangkau dengan berjalan kaki, sepeda motor, bahkan menggunakan helikopter.

"Medannya mendesak dan berbahaya. Terpaksa kita tempuh dengan berjalan kaki, sepeda motor, dan helikopter," ujarnya.

Berdasarkan data Posko Tanggap Darurat Bencana Hidrometeorologi Aceh per Sabtu, 20 Desember 2015, sebanyak 430.316 warga masih terisolir. Mereka tersebar di 41 Kecamatan pada 8 Kabupaten terdampak bencana.

Rinciannya, di Kabupaten Aceh Utara terdapat dua Kecamatan yang masih terisolir, yakni Kecamatan Sawang dan Langkahan. Di Aceh Timur, kondisi serupa terjadi di Kecamatan Serbajadi.

Sementara di Aceh Tengah, wilayah terisolir meliputi Kecamatan Bintang, Ketol, Celala, Kute Panang, Silih Nara, Rusip Antara, dan Linge.

Di Kabupaten Bireuen, daerah terdampak berada di Kecamatan Kuta Blang, Gandapura, Peusangan Siblah Krueng, Peusangan Selatan, dan Juli.

Untuk Kabupaten Gayo Lues, wilayah terisolir meliputi Kecamatan Pining, Betung, Dabun Gelang, Tripe Jaya, Blangjerango, Rikit Gaib, dan Pantan Cuaca.

Sedangkan di Kabupaten Bener Meriah, akses jalan menuju Kecamatan Syiah Utama, Pintu Rime Gayo, Gajah Putih, Permata, Timang Gajah, dan Mesida masih terputus.

Di Kabupaten Nagan Raya, daerah yang masih terisolir berada di Kecamatan Beutong Ateuh Benggala. Sementara di Aceh Tamiang, hampir seluruh wilayah pedalaman di 12 Kecamatan belum terbuka akses daratnya secara penuh.

"Penyaluran logistik ke Aceh Tamiang dilakukan melalui jalur udara dan perahu dengan menyusuri sungai. Akses darat hanya bisa dilalui di sekitar pusat Kota Kuala Simpang," jelas Mualem.

Pemerintah Aceh memastikan upaya distribusi bantuan terus dilakukan secara bertahap dengan melibatkan seluruh unsur terkait guna mempercepat penanganan warga terdampak di wilayah terisolir. (Joniful Bahri)

Video: Masyarakat Aceh Gelar Demo di Depan Masjid Raya, Tuntut Status Bencana Nasional

By On Kamis, Desember 18, 2025


BANDA ACEH, KabarViral79.Com - Sejumlah massa dari Koalisi Masyarakat Sipil Aceh Peduli Bencana Sumatera melakukan aksi demonstrasi dengan pengibaran bendera putih di depan Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, Kamis, 18 Desember 2025.

Aksi pengibaran bendera putih itu dilakukan buntut kekecewaan terhadapa penanganan bencana ekologis yang melanda Aceh. 

Mereka menilai penanganan bencana banjir bandang dan tanah longsor Aceh perlu penanganan cepat dan segera. 

Dalam aksi tersebut terdapat sejumlah spanduk yang bertuliskan agar Pemerintah Pusat 'Tetapkan Status Darurat Bencana Nasional' atas bencana ekologis yang melanda Aceh.

Bendera putih yang dikibarkan agar pemerintah perlu hadir dalam kebijakan nyata. Pemerintah juga didesak agar membuka akses terhadap komunitas nasional agar memberikan bantuan. (*/red)

PLN Terjunkan 500 Personel Pulihkan Jaringan Listrik Aceh Pasca Banjir dan Longsor

By On Rabu, Desember 03, 2025


BANDA ACEH, KabarViral79.Com - PT PLN (Persero) mengerahkan 500 personel dari berbagai unit di Indonesia untuk mempercepat pemulihan jaringan listrik yang terdampak banjir dan longsor di Aceh.

Para personel mulai diterjunkan ke sejumlah titik kritis jaringan Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) 150 kilovolt (kV) sejak Minggu, 30 November 2025.

Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo mengatakan, pengerahan tersebut dilakukan melalui jalur darat dan udara dengan dukungan penuh dari Tentara Nasional Indonesia (TNI).

"Kami sangat berterima kasih kepada TNI yang turut andil memperkuat upaya ini. Kolaborasi yang terjalin menjadi faktor penting dalam mempercepat proses pemulihan jaringan transmisi yang mengalami kerusakan," ujarnya.

Adapun titik sebaran personel PLN meliputi SUTT 150 kV Arun–Bireuen sebanyak 258 personel, SUTT 150 kV Bireuen–Peusangan sebanyak 178 personel, serta SUTT 150 kV P. Brandan–Langsa sebanyak 64 personel.

Bencana banjir dan longsor di Aceh menyebabkan sejumlah infrastruktur vital rusak serta akses jalan terputus, sehingga beberapa wilayah sulit dijangkau melalui jalur darat.

Untuk memastikan pendistribusian personel dan perlengkapan tiba tepat waktu, PLN menggandeng TNI AU mengirim pasukan dan material menggunakan helikopter.

"Distribusi melalui udara menjadi langkah strategis agar personel dan perlengkapan bisa cepat sampai ke lokasi terdampak, terutama wilayah terisolir," kata Darmawan.

Selain itu, PLN bersama TNI AD turut mengerahkan armada truk untuk menembus wilayah yang masih bisa ditempuh lewat jalur darat.

PLN memastikan pemulihan berjalan efektif agar layanan kelistrikan dapat segera dinikmati kembali oleh masyarakat yang terdampak bencana.

"Personel kami terus bekerja nonstop dengan semangat tinggi guna memastikan sistem kelistrikan Aceh pulih secara cepat dan aman," tegas Darmawan.

Sebelumnya, ratusan petugas gabungan dilepas langsung oleh Direktur Utama PLN saat apel siaga pemulihan infrastruktur listrik yang digelar di Takengon, pada Sabtu, 29 November 2025. (Joniful Bahri)