-->

Berita Terbaru

Subscribe Here!

Enter your email address. It;s free!

Delivered by FeedBurner

Ramadan di Bawah Terpal: Kisah Pengungsi Bireuen yang Menanti Janji Pemerintah yang Tak Kunjung Datang

By On Jumat, Februari 27, 2026

Warga terdampak banjir di Bireuen masih bertahan di tenda-tenda darurat, terlebih saat bulan Ramadan. Sejauh ini, Pemkab Bireuen belum mengusulkan pembangunan hunian sementara (Huntara). 

BIREUEN, KabarViral79.Com - Di bawah terpal lusuh yang tertiup angin malam, ratusan warga korban banjir dan tanah longsor di Kabupaten Bireuen, Aceh, menjalani Ramadan dalam kondisi yang jauh dari layak. 

Sementara hunian sementara (Huntara) dan hunian tetap (Huntap) yang dijanjikan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bireuen belum juga terlihat wujudnya, masyarakat terus bertahan dalam tenda darurat, berjuang antara hujan dan panas. 

Di Desa Balee Panah, Kecamatan Juli, suara rintik hujan yang menetes ke dalam tenda menjadi menu sehari-hari. 

Anak-anak meringkuk dalam selimut tipis, sementara orang dewasa mengipas asap kompor sambil menunggu waktu berbuka. 

Di bawah terpal yang bocor, Ramadan berubah menjadi ujian panjang yang seolah tanpa ujung. 

“Kalau hujan, lantai tenda jadi becek. Kalau panas, rasanya seperti terbakar,” keluh seorang ibu yang tinggal bersama tiga anaknya. 

Rumah Hilang, Janji Tak Terlihat

Bencana pada 26 November 2025 lalu menghancurkan hunian, tanah, dan harta warga. Namun hingga Februari 2026, mereka masih hidup dalam tenda darurat yang seharusnya hanya untuk hitungan minggu. 

Huntara tidak dibangun, sedangkan Huntap hanya dalam bentuk tiga rumah contoh yang bahkan belum layak huni. 

Warga terdampak banjir di Bireuen masih bertahan di tenda-tenda darurat, terlebih saat bulan Ramadan. 

“Kami kehilangan semuanya. Tanah pun tak ada lagi. Kalau Huntara dibangun, kita tak harus begini,” ucap seorang warga di Kecamatan Juli. 

Informasi di lapangan menunjukkan pengungsi tersebar di 28 desa di tujuh kecamatan, di antaranya Kutablang, Peusangan, Peusangan Selatan, Peusangan Siblah Krueng, Jangka, Juli, dan Jeumpa. 

Mereka bertahan dengan peralatan seadanya, kompor, ember, dan pakaian yang ditumpuk dalam kardus. 

Huntap Contoh yang Tak Bisa Ditempati

Di Desa Balee Panah, tiga rumah percontohan Huntap berdiri, tapi hanya sebagai bangunan kosong tanpa air bersih dan listrik. Warga menduga rumah itu lebih sebagai formalitas daripada upaya nyata. 

“Kalau memang serius membangun 1.000 Huntap tahap pertama, kenapa baru tiga unit dan itu pun tak selesai? Ini seperti memberi harapan palsu,” kritik warga. 

Ramadan yang Basah dan Gerah

Sahur dilakukan dalam gelap, berbuka dijalani dengan piring di atas pangkuan sambil menghindari rembesan air hujan. 

Para lansia harus tidur di tanah lembap, sementara anak-anak sering terbangun karena udara panas atau dingin malam. 

“Anak saya sampai batuk-batuk karena tidur di lantai tenda,” tutur seorang ayah yang tampak pasrah. 

Warga terdampak banjir di Bireuen masih bertahan di tenda-tenda darurat, terlebih saat bulan Ramadan. 

Ketika Para Camat Tampil Suci, Warganya Menderita

Di tengah penderitaan ini, muncul kegelisahan lain dari para pengungsi. Mereka menilai sebagian Camat seolah tampil sebagai sosok paling peduli di depan publik, padahal realitas di lapangan menunjukkan minimnya inisiatif dan empati. 

“Para Camat jangan merasa sok suci. Jangan cuma datang foto-foto dan pura-pura peduli. Kami hidup di bawah tenda berbulan-bulan dan mereka tahu itu,” ujar seorang pengungsi dengan nada kecewa. 

Warga menyebut, bantuan data dan usulan pembangunan sering tidak disampaikan dengan serius. Ada Camat yang hanya memberi laporan seadanya, tanpa memperjuangkan nasib pengungsi secara sungguh-sungguh. 

“Kalau Camat benar-benar kerja, tidak mungkin kami masih hidup begini,” tambah seorang ibu yang sudah tiga bulan tidur di tanah. 

Pemkab Harus Bangun, Bukan Sekadar Berjanji

Kritik mengalir tidak hanya kepada Pemkab, tetapi juga kepada perangkat kecamatan yang dianggap lambat dan tidak sensitif terhadap penderitaan warganya. 

Membangun Huntara seharusnya menjadi langkah paling realistis dan mendesak. Pemerintah tidak boleh menyandarkan solusi pada Huntap yang belum jelas waktunya. Sementara itu, setiap hari ada anak-anak yang tumbuh di dalam tenda, ada ibu-ibu yang berbuka sambil menadah air bocor, dan ada lansia yang menunggu malam sambil menahan dingin. 

“Sudah lama kami sabar. Tapi kalau pemerintah terus lambat, sampai kapan harus begini?” tanya seorang warga dengan mata berkaca-kaca. 

Ramadan bagi pengungsi Bireuen bukan hanya tentang puasa. Ini tentang bertahan hidup. Tentang menunggu janji yang tak kunjung datang. Tentang berharap pemerintah dari kabupaten hingga camat turun tangan bukan cuma dengan kata-kata, tapi dengan aksi nyata. 

Sebab tenda-tenda yang berdiri hari ini, bukan sekadar tempat berteduh. Mereka adalah bukti nyata bahwa para korban bencana sedang menunggu pemerintah untuk benar-benar hadir. (Joniful Bahri)

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »