-->

Berita Terbaru

Subscribe Here!

Enter your email address. It;s free!

Delivered by FeedBurner

Modal Usaha Buat Penyintas Bencana Sumatera, Rp 12 Triliun Sudah Disalurkan

By On Rabu, Maret 04, 2026

Ketua Satuan Tugas (Kasatgas) PRR Pasca Bencana Sumatera, Muhammad Tito Karnavian

JAKARTA, KabarViral79.Com - Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pasca Bencana Sumatera melaporkan realisasi penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) untuk penyintas bencana di Provinsi Aceh, Sumatera Utara (Sumut), dan Sumatera Barat (Sumbar). 

Berdasarkan data Satgas PRR per 17 Februari yang dipublikasikan pada 1 Maret 2026, penyaluran KUR di tiga daerah terdampak bencana Sumatera telah mencapai 206.705 debitur dengan total outstanding atau pokok pinjaman senilai Rp 12,23 triliun. 

Jumlah ini nyaris meningkat dua kali lipat jika dibandingkan progres penyaluran KUR per 26 Januari yang mencapai 111.601 debitur dengan total outstanding Rp 6,02 triliun. 

Adapun rincian penyaluran di setiap daerah terdampak bencana Sumatera, di antaranya di Aceh dengan realisasi 125.173 debitur dengan outstanding Rp 7,38 triliun. 

Kemudian Sumut dengan realisasi 53.181 debitur dengan outstanding Rp 3,06 triliun. Sementara di Sumbar dengan realisasi 28.351 debitur dengan outstanding Rp 1,79 triliun. 

Capaian peningkatan KUR ini berbanding selaras dengan transaksi UMKM melalui e-commerce seperti Tokopedia, TikTok, Shopee yang merangkak naik sekaligus menandakan pemulihan daya beli masyarakat. 

Adapun rinciannya berdasarkan data Satgas per 18 Februari yang dipublikasikan pada 3 Maret, capaian transaksi UMKM melalui e-commerce di Sumbar sebanyak 2.162.858 transaksi dengan 101 produk, Sumut 2.173.688 transaksi dengan 631 produk. Sementara Aceh 24.841 transaksi dengan 1.396 produk. 

Ketua Satuan Tugas (Kasatgas) PRR Pasca Bencana Sumatera, Muhammad Tito Karnavian mengatakan, aktivitas jual beli di pasar dan UMKM merupakan indikator kunci yang harus menjadi atensi untuk memulihkan ekonomi penyintas bencana di Sumatera. 

"Pasar dan UMKM merupakan indikator penting pergerakan ekonomi daerah. Ketika keduanya kembali hidup, maka harapan pemulihan ekonomi masyarakat semakin nyata," kata Tito dalam keterangan tertulisnya, Selasa, 03 Maret 2026. 

Sementara itu, Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto memastikan debitur penyintas bencana Aceh, Sumut, dan Sumbar akan mendapatkan relaksasi bunga KUR dalam dua tahun ini. 

Khusus untuk 2026, Airlangga mengatakan, bunga kredit KUR para korban terdampak bencana itu akan dibebaskan alias nol persen. 

Pada 2027, akan naik bertahap menjadi tiga persen, dan pada 2028 baru pulih sesuai dengan bunga normal di level enam persen. 

"Tahun pertama ini bunganya kita nol kan, di 2026. Lalu di 2027 tiga persen, dan 2028 baru kembali ke enam persen," tuturnya. (*/red)

Safari Ramadan di Cinangka, Gubernur Andra Soni Perkuat Silaturahmi dengan Masyarakat

By On Rabu, Maret 04, 2026

SERANG, KabarViral79.Com - Gubernur Banten, Andra Soni mengatakan, kegiatan Safari Ramadan bukan sekadar agenda seremonial pemerintah daerah. 

Kegiatan tersebut, kata dia, merupakan kepedulian dan memperkuat silaturahmi Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten dengan masyarakat. 

Hal itu disampaikan Andra Soni di Masjid Al-Kautsar, Desa Sindanglaya, Kecamatan Cinangka, Kabupaten Serang, Senin, 02 Maret 2026. 

“Melalui kegiatan ini, kami ingin mempererat silaturahmi, mendengarkan langsung aspirasi masyarakat, sekaligus berbagi kebahagiaan di bulan yang penuh berkah ini,” ujarnya. 

Menurut Andra Soni, Ramadan merupakan momentum untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan, memperkuat ukhuwah Islamiyah, serta menumbuhkan kepedulian sosial. 

Nilai tersebut juga menjadi landasan dalam membangun Pemprov Banten Provinsi yang maju, adil, merata, dan tidak korupsi. 

"Oleh karena itu, kami mohon doa dan dukungan masyarakat Cinangka agar kami dapat menjalankan amanah ini dengan sebaik-baiknya, penuh kejujuran dan tanggung jawab kepada masyarakat dan kepada Tuhan,” tuturnya. 

Sementara itu, Bupati Serang, Ratu Rachmatuzakiyah menyambut baik kehadiran Gubernur Banten, Andra Soni di Kecamatan Cinangka. 

Ia mengucapkan terima kasih atas berbagai program pembangunan yang diberikan Pemprov Banten di Kecamatan Anyar dan Kecamatan Cinangka. 

"Termasuk bantuan yang disalurkan dalam kegiatan Safari Ramadan di Masjid Al Kautsar," ujarnya. 

Dalam kesempatan tersebut, Gubernur Banten Andra Soni juga menyerahkan sejumlah bantuan kepada masyarakat. Terdiri atas bantuan kursi roda, tongkat ketiak, sembako, bantuan bagi guru ngaji dan marbot, bantuan sarana prasarana tempat peribadatan, serta bantuan bagi pelajar. (Welfendry)

OTT Bupati Pekalongan Fadia Arafiq, KPK Bawa 11 Orang ke Jakarta

By On Rabu, Maret 04, 2026

Bupati Pekalongan, Fadia Arafiq

JAKARTA, KabarViral79.Com Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) membawa 11 orang ke Jakarta usai Operasi Tangkap Tangan (OTT), terhadap Bupati Pekalongan, Fadia Arafiq. 

Salah satu yang turut diamankan adalah Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Pekalongan, Mohammad Yulian Akbar. 

Juru Bicara (Jubir) KPK, Budi Prasetyo, sebelumnya menyampaikan bahwa Fadia bersama dua orang lainnya masih menjalani pemeriksaan di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta. 

"Paralel dengan itu, tim saat ini juga sedang dalam perjalanan membawa 11 orang dari Pekalongan menuju Jakarta untuk dilakukan pemeriksaan lanjutan di Gedung Merah Putih KPK," kata Budi kepada wartawan, Selasa, 03 Maret 2026. 

Ia menjelaskan, dari 11 orang yang diamankan tersebut terdapat unsur Aparatur Sipil Negara (ASN) dan pihak swasta. Salah satunya merupakan Sekda Pemerintah Kabupaten Pekalongan. 

"Dari 11 orang yang diamankan dan dibawa ke KPK tersebut ada dari unsur ASN dan juga unsur swasta. Salah satunya adalah Sekda Pemkab Pekalongan,” imbuhnya. 

Diketahui sebelumnya, Fadia Arafiq terjaring OTT KPK bersama dua orang lainnya. Penangkapan dilakukan pada Selasa dini hari, 03 Maret 2026,di wilayah Semarang, Jawa Tengah (Jateng). 

“Pada dini hari tadi, tim mengamankan tiga orang, salah satunya adalah Bupati Pekalongan dan dua pihak lainnya yang merupakan orang kepercayaan serta ajudan Bupati,” ujar Budi. (*/red)

Masa Depan Politik Iran Setelah 28 Februari

By On Selasa, Maret 03, 2026

Jutaan warga Iran turun ke jalan mengecam AS dan Israel menyusul gugurnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei, dalam sebuah serangan militer terkoordinasi, pada Minggu, 01 Maret 2026.  

Oleh: Jannus TH Siahaan

Malam tanggal 28 Februari 2026, ternyata menjadi momen yang meruntuhkan salah satu pilar kekuasaan paling kokoh di Timur Tengah. 

Di tengah deru serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel yang mengguncang pusat ibu kota Iran, salah satu simbol utama dari era yang telah bertahan selama lebih dari tiga dekade berakhir secara mendadak. 

Ayatollah Ali Khamenei, pemimpin yang telah menjadi pusat gravitasi politik Iran sejak 1989, tewas dalam kompleks kantornya terletak di distrik Pasteur, pusat kota Teheran, yang dikenal sebagai Beit-e Rahbari

Kepergian sang Ayatollah tak pelak berpotensi mengancam eksistensi "sistem operasi" utama yang selama ini menggerakkan seluruh mesin birokrasi, militer, dan ideologi Republik Islam Iran

Pasalnya, posisi Khamenei dalam sistem politik Iran terbilang cukup anomali yang nyaris mustahil untuk direplikasi oleh negara manapun. 

Sebagai Pemimpin Tertinggi, Khamenei bukan hanya sebagai kepala negara secara seremonial, tapi juga pemegang otoritas absolut atas setiap kebijakan krusial, mulai dari program nuklir hingga strategi militer di luar negeri negara Mullah itu. 

Ia adalah jangkar yang menyeimbangkan berbagai faksi yang saling bertikai di Tehran, mulai dari para mullah di Qom yang berusaha sedemikian rupa menjaga kemurnian ideologinya, para teknokrat di pemerintahan sipil yang terus mencoba menyelamatkan ekonomi Iran, demikian pula para komandan militer di jajaran Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) yang memegang senjata sekaligus menguasai modal dan bisnis. 

Selama 37 tahun berkuasa, Khamenei terbilang berhasil membuktikan dirinya sebagai maestro dalam “seni bertahan hidup” di dalam politik Iran. 

Berusia 86 tahun dan bertahun-tahun mengidap sakit kanker, tapi ia berhasil menjaga stabilitas rezim melalui kombinasi antara represi sistematis dan konsolidasi kekuasaan. 

Setiap kali gejolak domestik muncul, seperti Gerakan Hijau 2009, protes ekonomi 2019, hingga gerakan "Woman, Life, Freedom" pada 2022, Khamenei selalu menggunakan IRGC dan milisi Basij sebagai instrumen pemukul yang efektif. 

Bahkan, luka dari pembantaian Januari 2026, di mana ribuan pengunjuk rasa tewas di tangan aparat, menjadi bukti terakhir bahwa bagi Khamenei, kelangsungan hidup rezim berada jauh di atas aspirasi demokratis rakyatnya. 

Strategi utama Khamenei dalam menjaga stabilitas di Iran selama ini adalah dengan sengaja melemahkan institusi sipil. 

Para presiden Iran yang silih berganti, dari yang berhaluan reformis hingga konservatif garis keras, selalu dipangkas perannya hingga hanya menjadi sekadar pelaksana teknis bagi kehendak kantor Pemimpin Tertinggi atau "Beit-e Rahbari". 

Ia menciptakan sistem yang sangat bergantung pada personanya sendiri. 

Walhasil, di saat Khamenei sudah tak ada lagi, otomatis suksesi kepemimpinan di Iran kini terjerembab ke dalam labirin yang dipenuhi ketidakpastian. 

Di saat serangan udara Amerika-Israel masih menyisakan puing di Tehran dan kemarahan rakyat masih membara di jalanan, Iran kini dipaksa menghadapi realitas transisi kepemimpinan tanpa nakhoda yang jelas. 

Konstitusi Iran memberikan mandat kepada Majelis Ahli (Assembly of Experts), sebuah badan beranggotakan 88 ulama senior, untuk memilih pengganti Pemimpin Tertinggi. 

Namun, dalam situasi darurat di mana disorientasi terjadi di dalam struktur keamanan, prosedur formal ini tentu akan menjadi sangat sulit untuk dijalankan. 

Oleh karena itu, skenario yang nampaknya paling diinginkan oleh elite mapan di Teheran adalah "Khamenei-isme tanpa Khamenei," yakni penunjukan seorang figur ulama yang akan bertindak sebagai pelaksana ideologi lama tanpa mengubah struktur kekuasaan yang ada. 

Nama-nama seperti Ayatollah Alireza Arafi, yang merupakan teknokrat ulama loyalis, atau Gholam Hossein Mohseni Ejei dari jajaran yudisial, muncul sebagai kandidat yang dianggap mampu menjaga keseimbangan faksi. 

Namun, perhatian terbesar tertuju pada Mojtaba Khamenei, putra kedua sang Ayatollah. 

Meskipun tidak memiliki kredibilitas teologis setinggi ayahnya atau pengalaman administratif formal, Mojtaba seorang politisi dan ulama kelahiran 1969 itu dikenal memiliki pengaruh besar di balik layar dalam mengelola hubungan antara kantor ayahnya dan jaringan intelijen serta ekonomi di dalam institusi elite pemerintahan Iran, IRGC. 

Masalahnya, penunjukan Mojtaba tentu akan memicu kritik tajam terkait isu kemunculan model kepemimpinan turun-temurun, hal yang justru menjadi alasan utama Revolusi 1979 dilakukan untuk menggulingkan dinasti Shah

Apalagi, tanpa legitimasi teologis yang kuat dari para ulama senior di Qom, kepemimpinan baru akan lahir dengan kerentanan luar biasa terhadap penolakan publik dan faksi internal. 

Pilihan lain yang mungkin muncul adalah pembentukan Dewan Kepemimpinan kolektif, sebuah opsi yang pernah dipertimbangkan pada tahun 1989, tapi akhirnya ditolak demi menyambut kepemimpinan baru Khamenei. 

Dewan ini bisa terdiri dari gabungan figur seperti presiden saat ini, ketua mahkamah agung, dan perwakilan dari Guardian Council

Meskipun dewan ini dapat mencegah satu orang mendominasi kekuasaan secara mutlak, risiko utamanya adalah kelumpuhan dalam pengambilan keputusan di saat krisis seperti saat ini. 

Bayang-bayang kegagalan kolektif ini membuat banyak pihak khawatir bahwa Iran akan terjerumus ke dalam perang saudara antarfaksi yang kompleks jika suksesi tidak segera diselesaikan dalam hitungan hari ke depan. 

Sehingga, di tengah ketidakpastian ini, aktor yang paling menentukan masa depan Iran bukanlah para ulama di Majelis Ahli, tapi Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). 

Selama dekade terakhir, IRGC telah bertransformasi menjadi negara di dalam negara. 

Mereka tidak hanya menguasai persenjataan strategis dan intelijen, tetapi juga mengontrol lebih dari sepertiga ekonomi Iran melalui berbagai yayasan dan kontraktor besar. 

Banyak laporan menunjukkan bahwa saat ini IRGC sedang mendesak agar penunjukan pemimpin baru dilakukan secara cepat, tidak masalah jika harus melompati prosedur konstitusional, demi mencegah disintegrasi komando militer yang mulai terfragmentasi pasca-kematian Khamenei. 

Dengan kata lain, skenario "kudeta merayap" atau pengambilalihan kekuasaan secara militer oleh IRGC boleh jadi akan semakin riil. 

Dalam skenario ini, militer mungkin akan menempatkan seorang ulama “lemah” sebagai pion atau bahkan menghapuskan jabatan Pemimpin Tertinggi demi kepemimpinan militer yang lebih efisien dan otoriter dengan dalih "keadaan darurat nasional." 

Langkah ini diambil tentu untuk mengamankan aset-aset ekonomi IRGC yang sangat banyak, baik di dalam maupun luar negeri dari ancaman reformasi, jika pemerintahan baru yang lebih reformis terbentuk. 

Namun, risiko bagi IRGC juga sangat besar. Pemerintahan militer murni biasanya akan semakin menjauhkan rezim dari basis dukungan tradisionalnya di pedesaan dan di kalangan ulama konservatif, sekaligus memicu perlawanan lebih keras dari masyarakat sipil yang memang sudah muak dengan militerisme Iran selama puluhan tahun. 

Apalagi, ketegangan di internal IRGC juga sudah mulai terlihat. Ada faksi-faksi muda yang dikabarkan mulai merasa lelah dengan korupsi elite senior dan menginginkan perubahan pragmatis demi kelangsungan hidup institusi elite Iran itu. 

Namun, ada juga faksi garis keras yang sama sekali tidak akan ragu melakukan tindakan ekstrem, termasuk menarik diri dari Traktat Non-Proliferasi Nuklir (NPT), demi mengamankan kekuasaan dari tekanan internasional. 

Jika IRGC tidak mampu mempertahankan kesatuan internalnya, maka Iran bisa saja terjerumus ke dalam konflik internal antarfaksi keamanan, sebuah situasi yang akan menciptakan kekosongan kekuasaan sekaligus akan sangat berbahaya bagi stabilitas energi dunia dan keamanan seluruh kawasan Timur Tengah. 

Ketidakpastian politik di Iran saat ini juga diperumit oleh kehadiran Presiden Masoud Pezeshkian yang dikenal sangat pragmatis. 

Pezeshkian dikabarkan berusaha mencoba memanfaatkan celah sempit pasca-Khamenei untuk mendorong agenda rekonsiliasi domestik dan normalisasi terbatas dengan dunia luar demi menyelamatkan ekonomi Iran yang kian tercekik oleh inflasi. 

Namun, upaya ini nampaknya seperti berjalan di atas seutas tali tipis. Pasalnya, jika ia terlalu vokal menuntut reformasi, maka akan dianggap sebagai pengkhianat oleh IRGC. 

Sebaliknya, jika ia hanya menjadi stempel bagi militer, maka rakyat akan sepenuhnya meninggalkannya. 

Terlebih lagi, kehadiran "Defense Council" baru yang dibentuk sebelum kematian Khamenei juga membatasi gerak sipil, karena kekuasaan terkait kendali perang kini terkonsentrasi di tangan segelintir komandan militer dan presiden, tanpa melibatkan kementerian luar negeri secara aktif. 

Dengan latar itu, jika tidak terjadi transisi secara mulus, risiko terbesar bagi masa depan Iran adalah kolaps sistemik yang tidak terkendali. 

Dan, sejarah menunjukkan bahwa pemerintahan otoriter yang sangat sentralistik cenderung menjadi rapuh ketika sosok sentralnya menghilang secara tiba-tiba. 

Jika proses suksesi berlarut-larut dan ekonomi terus memburuk, demonstrasi jalanan bisa berubah menjadi revolusi terbuka yang bisa jadi lebih besar dari tahun 2022. 

Dalam situasi tersebut, muncul risiko disintegrasi wilayah, di mana kelompok-kelompok etnis minoritas di perbatasan, seperti Kurdi dan Baloch, mungkin akan mencoba melepaskan diri dari kendali pusat di Teheran, yang akan memicu intervensi militer lebih lanjut dari negara-negara tetangga. 

Di luar skenario umum tersebut, opsi politik lain di luar keberlanjutan ideologi Khamenei kini pun mulai dibicarakan secara terbuka di ruang-ruang publik digital, termasuk kemungkinan transformasi menuju sistem republik yang lebih demokratis atau sekuler. 

Namun, jalan menuju ke sana tentu tidaklah mudah dan dipastikan akan penuh dengan rintangan, bahkan bisa berdarah-darah. 

Mesin keamanan yang dibangun Khamenei selama puluhan tahun tentu tidak akan mau menyerah begitu saja tanpa perlawanan. 

Masa depan Iran pasca-Khamenei dengan skenario ini kemungkinan besar tidak akan menghasilkan demokrasi yang instan, tapi periode transisi yang penuh kekerasan dan perebutan kekuasaan cukup keras di antara mereka yang memegang senjata dan uang. 

Pendeknya, masa depan Iran kini bergantung pada apakah para elite di Teheran lebih mengutamakan kelangsungan hidup bangsa atau kelangsungan hidup faksi mereka masing-masing. 

Tanpa Khamenei sebagai penengah tunggal, setiap langkah yang diambil oleh IRGC maupun faksi pragmatis akan menentukan apakah Iran akan bangkit sebagai kekuatan yang lebih rasional atau justru tenggelam dalam sejarah sebagai eksperimen teokrasi dengan performa buruk, lalu berakhir dengan tragis. 

Penulis adalah pengamat sosial dan kebijakan publik. 

Sumber: kompas.com

AS-Israel Terus Lancarkan Serangan, Ratusan Warga Iran Mengungsi ke Pakistan

By On Selasa, Maret 03, 2026

Ilustrasi kepulan asap di Iran

TEHERAN, KabarViral79.Com - Amerika Serikat (AS) dan Israel terus melancarkan serangan ke Iran. Sebanyak 300 warga Iran memutuskan mengungsi ke Pakistan

Dilansir dari BBC, Selasa, 03 Maret 2026, sebanyak 300 warga Iran telah tiba di Pakistan, tepatnya di Provinsi Balochistan. Provinsi ini berbatasan dengan Iran. 

Balochistan merupakan salah satu wilayah yang bergejolak. Wilayah ini merupakan rumah bagi kelompok-kelompok separatis yang melakukan pemberontakan selama beberapa dekade. 

Diketahui, para pemimpin Pakistan saat ini tengah menyeimbangkan hubungan dengan AS. Tahun lalu, Pakistan menominasikan Presiden Trump untuk Nobel Perdamaian seiring meningkatnya hubungan baik dengan AS. 

Namun, meskipun mayoritas penduduknya adalah Sunni, terdapat komunitas Syiah di Pakistan yang sangat menentang perang di Iran. 

Terbaru, Israel melancarkan serangan ke Ibu Kota Iran, Teheran. Ledakan terdengar di langit-langit Teheran. 

Israel mengklaim serangan tersebut menargetkan komandan senior Republik Islam Iran di Teheran. Namun Israel tak merinci siapa yang ditargetkan. 

Bulan Sabit Merah Iran melaporkan, jumlah korban tewas akibat gelombang serangan AS dan Israel. Lebih dari 780 orang tewas di berbagai wilayah Iran sejak rentetan serangan dilancarkan pada Sabtu, 28 Februari 2026, waktu setempat. (*/red)

Ruslan Daud Gelar Buka Puasa Bersama dan Santuni Anak Yatim di Simpang Mamplam Bireuen

By On Selasa, Maret 03, 2026

Ruslan Daud, Anggota Komisi V DPR RI dari Fraksi PKB, menggelar buka puasa bersama sekaligus menyantuni anak yatim di kediaman orang tuanya di Desa Blang Panyang, Kecamatan Simpang Mamplam, Bireuen. 

BIREUEN, KabarViral79.Com - Ruslan Daud, Anggota Komisi V DPR RI dari Fraksi PKB, menggelar buka puasa bersama sekaligus menyantuni anak yatim di kediaman orang tuanya di Desa Blang Panyang, Kecamatan Simpang Mamplam, Kabupaten Bireuen, Senin, 2 Maret 2026 kemarin. 

Kegiatan tersebut dirangkaikan dengan agenda Reses untuk menyerap aspirasi masyarakat dari Daerah Pemilihan (Dapil) Aceh II. 

Dalam pertemuan itu, politisi yang akrab disapa HRD tersebut menampung beragam kebutuhan warga, mulai dari usulan pembangunan Jalan Inpres atau Inpres Jalan Daerah (IJD), program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS), saluran irigasi pertanian, hingga program pemberdayaan masyarakat. 

HRD menegaskan komitmennya untuk memperjuangkan seluruh aspirasi tersebut di tingkat pusat. 

Selain menyerap aspirasi, HRD turut menyoroti kondisi korban banjir dan tanah longsor di Kabupaten Bireuen yang hingga kini belum mendapatkan hak-hak dasar mereka sebagai penyintas bencana. 

Ia menilai, pemerintah harus segera menindaklanjuti kebutuhan hunian layak, bantuan pemberdayaan ekonomi, jatah hidup (jadup), hingga santunan kematian bagi korban meninggal. 

Ruslan Daud, Anggota Komisi V DPR RI dari Fraksi PKB, menggelar buka puasa bersama sekaligus menyantuni anak yatim di kediaman orang tuanya di Desa Blang Panyang, Kecamatan Simpang Mamplam, Bireuen. 

“Sangat kita sayangkan, saudara-saudara kita yang terdampak sudah hampir tiga bulan pasca bencana masih tinggal di bawah tenda dan belum menerima hak-hak mereka,” ungkapnya. 

Masyarakat terdampak bencana sebelumnya berharap dapat tinggal di hunian layak selama menjalani ibadah puasa dan merayakan Idul Fitri tahun ini. 

HRD menegaskan, kegiatan buka puasa bersama yang digelar bukan hanya bentuk kepedulian di bulan suci, tetapi juga arahan dari Ketua Umum PKB, Muhaimin Iskandar untuk memperkuat silaturahmi dan mendengarkan langsung keluhan warga desa. 

“Kami selalu menyerap berbagai aspirasi masyarakat dan Insya Allah akan terus berupaya memperjuangkannya di tingkat pusat,” ujar HRD. 

Pantauan di lapangan menunjukkan suasana akrab antara HRD—yang juga Ketua DPW PKB Aceh dengan masyarakat. Ia tampak berbaur dengan warga dari berbagai desa dan kecamatan yang hadir. 

Salah seorang warga Simpang Mamplam, Zulfahmi menyampaikan apresiasi atas kepedulian HRD selama ini. 

“Pak HRD selalu memperhatikan masyarakat bawah. Sejak menjadi Bupati Bireuen hingga kini duduk di DPR RI, beliau selalu cepat tanggap membantu warga,” ujarnya. (Joniful Bahri)

Menko PMK Pratikno Salurkan Rp 86,1 Miliar Bantuan Stimulan Perbaikan Rumah untuk 4.347 KK di Bireuen

By On Selasa, Maret 03, 2026

Menko PMK Pratikno menyerahkan Bantuan Dana Stimulan Perbaikan Rumah Rusak Tahap II bagi korban bencana hidrometeorologi siklon senyar

BIREUEN, KabarViral79.Com - Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Pratikno melakukan kunjungan kerja ke Kabupaten Bireuen, Selasa, 03 Maret 2026. 

Kunjungan tersebut dalam rangka penyerahan Bantuan Dana Stimulan Perbaikan Rumah Rusak Tahap II bagi korban bencana hidrometeorologi siklon senyar. 

Dalam kesempatan itu, Menko PMK turut didampingi Sekretaris Utama BNPB Rustian, Dirjen Adwil Kemendagri Safrizal, serta Deputi Kemenko PMK Lilik Kurniawan

Mereka menyerahkan bantuan stimulan secara simbolis kepada masyarakat penerima manfaat. 

Selain itu, Menko PMK juga menyapa secara daring 13 Kabupaten/Kota di Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat yang mengikuti penyerahan dana stimulan secara serentak yang dipusatkan di Kabupaten Bireuen. 

Total bantuan stimulan perbaikan rumah rusak yang disalurkan untuk Kabupaten Bireuen mencapai Rp 86.100.000.000 bagi 4.347 KK. 

Rinciannya sebagai berikut:

Rumah Rusak Ringan: 2.954 KK × Rp 15.000.000 = Rp 44.310.000.000 

Rumah Rusak Sedang: 1.393 KK × Rp 30.000.000 = Rp 41.790.000.000 

Dalam arahannya, Menko PMK menegaskan, bantuan tersebut diharapkan dapat mempercepat pemulihan kehidupan warga. 

“Saya berharap dana stimulan ini dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk perbaikan rumah yang rusak akibat banjir. Pemerintah Pusat akan terus melakukan verifikasi agar tidak ada warga terdampak yang terlewatkan,” ujarnya. 

Pada momentum kunjungan tersebut, Bupati Bireuen juga menyalurkan santunan bagi 200 anak yatim, yang bersumber dari gaji pribadinya sebagai bentuk kepedulian sosial. 

Santunan diserahkan langsung bersama Menko PMK, Wakil Gubernur Aceh Fadhlullah, dan Bupati Bireuen. 

Acara ini turut dihadiri jajaran Forkopimda Bireuen, Tokoh Masyarakat, Ulama Karismatik, Tokoh Adat, Tokoh Pemuda, Tokoh Perempuan, Muspika, serta para Keuchik. 

Kegiatan ditutup dengan buka puasa bersama seluruh elemen masyarakat, menghadirkan suasana penuh kekeluargaan dan optimisme untuk bangkit dari dampak bencana. (Joniful Bahri)