![]() |
| Memasuki lebaran Idul Fitri, warga masih menempati tenda pengungsian di halaman kantor Bupati Bireuen. |
BIREUEN, KabarViral79.Com — Besok, Sabtu, 21 Maret 2026, gema Idul Fitri akan menyapa. Pendopo terbuka, open house digelar, senyum dan hidangan tersaji untuk para tamu yang datang bersilaturahmi.
Namun di halaman Kantor Pusat Pemerintahan Kabupaten Bireuen, suasana yang berbeda justru terasa. Di sana, puluhan warga masih bertahan di bawah tenda.
Yang satu bersiap menyambut tamu, yang lain masih menunggu kepastian. Yang satu merayakan kemenangan, yang lain masih berjuang dengan kehilangan.
Malam itu, angin berembus pelan, menyusup di sela-sela tenda darurat yang berdiri seadanya. Di atas tikar tipis, beberapa anak terlelap, tubuh kecil mereka berusaha berdamai dengan dingin. Di dekatnya, para ibu tetap terjaga-diam, memandangi langit yang tak pernah benar-benar menjanjikan apa-apa.
Sudah sembilan hari mereka bertahan di tempat itu. Jauh dari rumah yang dulu mereka sebut tempat pulang. Banjir tak hanya merenggut dinding dan atap, tapi juga rasa aman sesuatu yang tak mudah digantikan oleh terpal dan tiang seadanya.
“Yang kami butuhkan bukan penjelasan panjang, tapi kepastian,” ucap seorang ibu pelan, sambil memeluk anaknya yang terbangun karena dingin malam.
Kalimat itu sederhana, tapi menggambarkan kelelahan yang dalam lelah menunggu, lelah berharap.
Siang hari menghadirkan wajah yang berbeda. Suara-suara mulai meninggi. Para pengungsi, bersama sejumlah warga lainnya, berdiri di depan kantor Bupati. Mereka tidak datang membawa kemarahan semata, tapi harapan yang terus mereka jaga.
Namun yang datang sering kali hanya penjelasan yang berulang. Tentang kewenangan yang berada di pusat, tentang prosedur yang harus dilalui, tentang data yang masih diverifikasi. Sementara waktu terus berjalan, tanpa jeda.
![]() |
| Memasuki lebaran Idul Fitri, warga masih menempati tenda pengungsian di halaman kantor Bupati Bireuen. |
Di sisi lain, pemerintah merasa telah berupaya. Hunian sementara disebut telah disiapkan. Proses verifikasi data telah dibuka.
Sebagian pengungsi memilih tetap bertahan di tenda. Bukan karena menolak bantuan, melainkan karena keraguan yang belum terjawab. Mereka takut berpindah tanpa kepastian, takut kembali terjebak dalam ketidakjelasan yang sama.
“Kami sudah capek pindah-pindah. Kami ingin tahu, kapan semua ini benar-benar selesai,” kata seorang pria paruh baya, menatap kosong keramaian di sekitarnya.
Hari-hari terus bergulir mendekati Lebaran. Di banyak tempat, orang-orang mulai menyiapkan baju baru, kue khas, dan rencana mudik. Rumah-rumah dibersihkan, meja makan dipenuhi hidangan.
Namun di Bireuen, sebagian warga justru masih berkutat dengan tenda, genangan, dan ketidakpastian.
Di sudut tenda, seorang anak bertanya polos kepada ibunya, “Kita Lebaran di sini, ya?”
Sang ibu terdiam. Tak ada jawaban.
Barangkali, yang paling menyakitkan bukan hanya kehilangan rumah, melainkan ketika harapan perlahan memudar, digantikan oleh perasaan bahwa suara mereka tak benar-benar didengar.
Di tengah gemerlap perayaan Idul Fitri, ada mereka yang masih bertahan dalam sunyi.
Bahwa suatu hari nanti, mereka benar-benar bisa pulang. Dan ketika hari itu tiba, mungkin Lebaran akan kembali terasa utuh—bukan sekadar perayaan, tapi benar-benar tentang kembali ke rumah. (Joniful Bahri)

