-->

Berita Terbaru

Subscribe Here!

Enter your email address. It;s free!

Delivered by FeedBurner

HRD Apresiasi Komitmen Presiden Prabowo dalam Pemulihan Pasca Bencana Aceh

By On Senin, Maret 30, 2026

Anggota Komisi V DPR RI Fraksi PKB, Ruslan M. Daud sampaikan apresiasi komitmen Presiden Prabowo Subianto, terkait percepatan pemulihan pasca bencana banjir dan longsor di Aceh pada silaturahmi, halal bihalal, dan coffee morning bersama insan pers di Banda Aceh, Senin, 30 Maret 2026. 

BANDA ACEH, KabarViral79.Com - Anggota Komisi V DPR RI Fraksi PKB, Ruslan M. Daud menyampaikan apresiasi terhadap komitmen Presiden Prabowo Subianto dalam percepatan pemulihan pasca bencana banjir dan longsor di Aceh

Apresiasi tersebut disampaikan dalam kegiatan silaturahmi, halal bihalal, dan coffee morning bersama insan pers di Banda Aceh, Senin, 30 Maret 2026. 

Ruslan, yang juga Ketua DPW PKB Aceh itu menilai, pemerintah pusat telah bekerja maksimal dalam proses rehabilitasi dan rekonstruksi, serta menunjukkan kepedulian langsung kepada masyarakat terdampak. 

“Kami mengapresiasi kinerja Presiden dan jajaran menteri yang dinilai sangat serius dalam menangani pemulihan pascabencana di Aceh. Kehadiran langsung di tengah masyarakat menjadi bukti nyata perhatian pemerintah,” ujarnya. 

Ia menambahkan, intensitas kunjungan Presiden ke Aceh mencerminkan keseriusan dalam memastikan proses pemulihan berjalan cepat dan tepat sasaran. 

Bahkan, kata dia, Presiden tetap menyempatkan diri hadir di tengah pengungsi saat momentum Idul Fitri

“Presiden hadir langsung di tengah masyarakat pengungsi saat Lebaran. Ini memberikan semangat sekaligus menunjukkan bahwa negara benar-benar hadir,” ujarnya. 

Meski demikian, ia mengakui masih terdapat sejumlah kendala di lapangan, khususnya terkait penanganan pengungsi yang belum sepenuhnya tertangani. 

Ruslan menyoroti masih adanya warga yang bertahan di tenda pengungsian di sejumlah daerah, termasuk di Kabupaten Bireuen, akibat belum tersedianya hunian sementara

“Faktanya masih ada masyarakat yang tinggal di tenda. Ini menjadi perhatian bersama agar penanganan bisa lebih optimal,” ujarnya. 

Ia menjelaskan, salah satu penyebab keterlambatan penyediaan hunian sementara adalah belum optimalnya usulan dari pemerintah daerah kepada pemerintah pusat. 

“Koordinasi antara pemerintah daerah dan pusat perlu diperkuat, agar kebutuhan masyarakat, terutama hunian sementara, bisa segera terpenuhi,” katanya. 

Ruslan berharap, sinergi yang lebih baik antara pemerintah pusat dan daerah dapat mempercepat proses rehabilitasi dan rekonstruksi, sehingga masyarakat terdampak dapat segera kembali menjalani kehidupan secara normal. (Joniful Bahri)

Grand Final Turnamen Sepak Bola Karang Taruna Cup Desa Cimandiri 2026 Berlangsung Sukses dan Kondusif

By On Senin, Maret 30, 2026

LEBAK, KabarViral79.Com  – Turnamen sepak bola bergengsi Karang Taruna Cup Desa Cimandiri 2026 resmi berakhir. Pertandingan grand final yang mempertemukan tim-tim terbaik desa tersebut berjalan sukses, aman, dan kondusif di Lapangan Sepak Bola Pasir Kanyere, Desa Cimandiri, Kecamatan Panggarangan, Kabupaten Lebak, Senin (30/03/2026). 

Partai puncak ini menyedot perhatian besar masyarakat. Ratusan warga memadati area lapangan untuk memberikan dukungan sekaligus memeriahkan jalannya pertandingan. Turut hadir dalam acara tersebut jajaran Pemerintah Desa Cimandiri, lembaga desa, serta unsur TNI/Polri yang mengawal ketat keamanan selama laga berlangsung. 

Dalam laga pamungkas tersebut, tim kesebelasan Argensi berhasil keluar sebagai juara setelah menundukkan tim Paska dengan skor tipis 1-0. Kedua tim merupakan perwakilan bertalenta dari Desa Cimandiri. 

Ketua Karang Taruna Desa Cimandiri sekaligus Ketua Panitia Penyelenggara, Ujang Maulana, menyatakan bahwa turnamen ini merupakan agenda tahunan yang bertujuan untuk mempererat tali silaturahmi antarwarga melalui olahraga. 

"Alhamdulillah, turnamen tahun ini berjalan dengan aman, tertib, dan kondusif hingga babak final. Ini adalah wadah olahraga bagi masyarakat yang rutin kami selenggarakan setiap tahun," ujar Ujang Maulana. 

Lebih lanjut, Ujang menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh pihak yang telah mendukung penuh kesuksesan acara, mulai dari pembukaan hingga penutupan. 

"Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Pemerintah Desa Cimandiri serta jajaran TNI dan Polri yang telah hadir mengawal pertandingan. Terima kasih juga kepada seluruh partisipan yang telah membantu sehingga acara ini terselenggara dengan sukses," tutupnya. (Cup/Uday)

Mimpi Besar Garuda dari Banten: Andra Soni dan Erick Thohir Resmi Buka Liga 4

By On Senin, Maret 30, 2026

TANGERANG, KabarViral79.Com - Gubernur Banten, Andra Soni bersama Ketua Umum Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) Erick Thohir secara resmi membuka Liga 4 Piala Gubernur Banten, di Stadion Benteng Ribon, Kota Tangerang, Minggu, 29 Maret 2026. 

Gelaran itu ditandai dengan pelemparan bola kepada para penonton. 

Turut hadir Ketua PSSI Banten Pilar Saga Ihsan, Ketua KONI Banten Agus Rasyid, Walikota Tangerang Sachrudin, Bupati Tangerang Maesyal Rasyid, Walikota Tangerang Selatan Benyamin Davnie serta tamu undangan lainnya. 

Liga yang diikuti oleh puluhan tim sepak bola lokal itu merupakan salah satu bentuk pembinaan yang dilakukan oleh Gubernur Andra Soni bersama PSSI Banten untuk mencetak para atlet yang unggul di masa depan. 

"Setiap saya keliling dan bertemu dengan anak-anak, rata-rata mereka ingin menjadi pemain sepak bola ketika saya tanya cita-citanya. Maka dari itu, saya ingin ke depan lebih banyak lagi dilakukan pertandingan, liga maupun turnamen seperti ini," ujar Andra Soni. 

Andra Soni melihat, di Banten banyak berdiri Sekolah Sepak Bola (SSB) dengan berbagai jenjang dan tingkatan. Melihat fakta itu, ia ingin terus ada pembinaan agar lebih optimal. Sehingga, dari pembinaan yang terarah itu semakin banyak atlet-atlet baru yang bermunculan. 

"Saya ingin nanti banyak anak-anak Banten yang menjadi pemain sepak bola profesional dan bermain di stadion-stadion besar. Maka dari itu, saya ingin liga Banten ini setara dengan liga lainnya," ujarnya. 

Di tempat yang sama, Ketua Umum PSSI, Erick Thohir mengatakan, Liga 4 Piala Gubernur Banten ini bisa menjadi momentum kebangkitan sepak bola di Provinsi Banten. 

Melihat semangat Gubernur Andra Soni, ia meyakini akan semakin banyak atlet-atlet sepak bola unggulan dari Banten. 

"Suatu saat nanti saya yakin akan ada penerus mereka yang dari Banten, menjadi Timnas Garuda," ujarnya. (Welfendry) 

SBY Kenang Sosok Eks Menhan Juwono Sudarsono: Pemikir Handal di Bidang Pertahanan

By On Senin, Maret 30, 2026

Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). 

JAKARTA, KabarViral79.Com - Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menghadiri persemayaman jenazah mantan Menteri Pertahanan (Menhan), Juwono Sudarsono, di Kantor Kementerian Pertahanan (Kemenhan), Minggu pagi, 29 Maret 2026. 

SBY mengenang sosok Juwono sebagai salah satu putra terbaik bangsa. 

Dia mengaku telah mengenal almarhum sejak masih menjadi perwira muda. 

"Saya mengenal almarhum secara pribadi, ini ceritanya sejak saya masih menjadi perwira muda, saya letnan kolonel dari satuan tempur, tapi pernah menjadi dosen Seskoad. Saya mulai berkomunikasi dengan beliau,” ujar SBY. 

Ia mengatakan, Juwono merupakan sosok intelektual yang memiliki gagasan besar bagi Indonesia, khususnya di bidang hubungan internasional dan pertahanan. 

“Beliau salah satu pemikir, dosen, bahkan Dekan FISIP UI waktu itu, tapi ideas-nya, pemikirannya cemerlang untuk Indonesia, untuk dunia, hubungan internasional dan pertahanan,” ujarnya. 

Menurutnya, kesamaan pandangan antara dirinya dan Juwono menjadi dasar kuat kerja sama keduanya, terutama dalam mendorong reformasi militer di era 1998. 

“Setelah bersahabat cukup dekat, saya sering berdiskusi, yaitu bagaimana pandangan militer dan pandangan sipil disatukan. Ketika saya mengemban tugas waktu itu, 1998 di era Reformasi, agar TNI kembali ke jati dirinya, tidak berpolitik praktis, tapi sebagai kekuatan pertahanan yang diandalkan, Mas Juwono memiliki pandangan yang sama,” ujarnya. 

Kedekatan itu berlanjut saat SBY menjabat sebagai Presiden dan menunjuk Juwono sebagai Menteri Pertahanan. 

Ia menyebut, berbagai langkah strategis dilakukan bersama, termasuk modernisasi alat utama sistem persenjataan (alutsista). 

“Ketika menjadi Menteri Pertahanan, kita terus lakukan sesuatu untuk modernisasi kekuatan pertahanan kita, pengembangan alutsista kita agar di tingkat ASEAN kekuatan militer kita terus meningkat kemampuannya,” tuturnya. 

SBY juga menceritakan andil besar Juwono dalam menggagas berdirinya Universitas Pertahanan Indonesia

"Salah satu yang kami pikirkan dulu, dengan Pak Juwono dan kemudian dengan Pak Purnomo Yusgiantoro sebagai Menteri Pertahanan, bagaimana Indonesia memiliki Universitas Pertahanan. Jangan sampai kita belajarnya malah ke negara lain, padahal kita kaya dengan pengalaman perang,” jelasnya. 

Kontribusi Juwono, kata dia, tidak hanya di bidang pertahanan, tetapi juga diplomasi yang menurutnya sama penting bagi Indonesia di tengah dinamika global. 

"Bagi saya waktu itu pertahanan dan diplomasi sama-sama pentingnya. Dunia seperti ini Indonesia memerlukan para diplomat yang tough, yang smart, yang mengerti dunia dan Indonesianya,” pungkasnya. (*/red)

Prabowo Tiba di Tokyo, Bakal Temui Kaisar dan PM Jepang

By On Senin, Maret 30, 2026

Presiden RI, Prabowo Subianto tiba di Jepang dalam rangka kunjungan resmi kenegaraan, pada Minggu, 29 Maret 2026. 

JAKARTA, KabarViral79.Com - Presiden Republik Indonesia (RI), Prabowo Subianto melakukan kunjungan resmi ke Jepang untuk menemui Kaisar Naruhito dan Perdana Menteri (PM) Sanae Takaichi, Minggu, 29 Maret 2026. 

Prabowo tiba di Bandara Haneda, Tokyo, pukul 19.15 waktu setempat. 

Prabowo menggunakan pesawat kepresidenan Garuda. 

Prabowo terlihat menggunakan jas biru gelap lengkap dengan peci. Di bandara, Prabowo disambut State Minister for Foreign Affairs of Japan Horii Iwao, Kepala Protokol Negara Jepang Miyashita Tadayuki, Direktur Jenderal Kemlu Jepang, Mr. Miyamoto, Direktur Asia Tenggara 1 Kemlu Jepang Hokugo Kyoko, Direktur Asia Tenggara 2 Kemlu Jepang Izuchi Kazushi, Duta Besar RI untuk Jepang Nurmala Kartini Sjahrir, Atase Pertahanan RI di Tokyo Laksma TNI Hidayaturrahman. 

Prabowo kemudian memasuki mobil Kepresidenan untuk menuju tempat penginapan. 

Di tempat penginapan, Prabowo disambut para Menteri, pihak Kedutaan hingga Diaspora Indonesia di Jepang. 

Turut mendampingi Prabowo dalam kegiatan di Jepang, di antaranya Menteri Luar Negeri Sugiono, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri KP Sakti Wahyu Trenggono, Menkomdigi Meutya Hafid, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, serta Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya. 

Teddy mengatakan, Prabowo dijadwalkan melakukan sejumlah agenda penting dalam kunjungan resmi di Jepang, salah satunya memenuhi undangan pertemuan Kaisar Naruhito di Imperial Palace

Kunjungan ini diharapkan memperkuat hubungan bilateral serta meningkatkan kerja sama strategis antara Indonesia dan Jepang

"Salah satunya adalah Presiden Prabowo akan melakukan state call kepada Kaisar Jepang Naruhito," kata Teddy. 

Prabowo juga diagendakan untuk melakukan pertemuan dengan PM Sanae Takaichi yang akan berlangsung di Akasaka Palace, Tokyo

Pertemuan tersebut diharapkan menjadi momentum strategis untuk memperkuat kerja sama di berbagai bidang. 

Setelah mengunjungi Jepang, Prabowo akan melanjutkan lawatannya ke Seoul, Korea

Rangkaian lawatan ini diharapkan menjadi bagian dari diplomasi aktif Indonesia dalam memperkuat posisi strategis di kawasan Asia Timur. (*/red)

6.308 WNI Terlibat Sindikat Online Scam di Kamboja, 2.528 Dipulangkan Bertahap

By On Senin, Maret 30, 2026

WNI terlibat sindikat Online Scam di Kamboja dipulangkan bertahap. 

JAKARTA, KabarViral79.Com - Warga Negara Indonesia (WNI) terlibat sindikat penipuan online atau daring di Kamboja mencapai 6.308 orang. 

Jumlah tersebut tercatat sejak 16 Januari hingga 26 Maret 2026. 

“Dari jumlah tersebut, dalam periode 30 Januari hingga 26 Maret 2026, KBRI Phnom Penh telah memfasilitasi kepulangan sebanyak 2.528 WNI ke Indonesia secara bertahap,” demikian keterangan Kementerian Luar Negeri (Kemlu) melalui Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Phnom Penh dalam laman resminya dikutip, Minggu, 29 Maret 2026. 

KBRI terus menjalin koordinasi erat dengan Pemerintah Kamboja untuk memperoleh penghapusan denda overstay

Sampai dengan 26 Maret 2016, Pemerintah Kamboja telah memberikan penghapusan denda overstay bagi 4.361 WNI. 

Selain itu, KBRI juga telah menerbitkan Surat Perjalanan Laksana Paspor (SPLP) bagi 2.346 WNI yang tidak memiliki dokumen perjalanan. 

“Dengan dukungan Pemerintah Kamboja, KBRI Phnom Penh memfasilitasi penampungan sementara bagi WNI yang mengalami keterbatasan finansial selama menunggu proses kepulangan. Saat ini, sekitar 300 WNI masih berada di penampungan sementara,” tulis Kemlu. 

Kemlu juga menyampaikan bahwa lonjakan kedatangan WNI yang meminta bantuan langsung ke KBRI Phnom Penh terjadi dalam dua setengah bulan terakhir, seiring dengan intensifikasi operasi pemberantasan sindikat penipuan daring oleh Pemerintah Kamboja sejak pertengahan Januari 2026. 

“Hingga kini, arus kedatangan WNI ke KBRI Phnom Penh masih terus berlangsung,” tulis keterangan Kemlu. 

Pemerintah Kamboja, ungkap Kemlu, telah menargetkan wilayahnya bebas dari aktivitas sindikat penipuan daring sebelum perayaan Tahun Baru Khmer pada pertengahan April 2026. 

Target tersebut turut berkontribusi pada meningkatnya jumlah WNI yang keluar dari jaringan tersebut. 

Kemlu pun memastikan bahwa KBRI Phnom Penh menegaskan komitmennya untuk terus memberikan pelindungan kepada seluruh WNI, tanpa mengesampingkan aspek penegakan hukum. 

"KBRI juga berkoordinasi dengan aparat penegak hukum di Indonesia untuk melakukan pemeriksaan terhadap WNI eks sindikat penipuan daring, khususnya untuk mengidentifikasi tingkat keterlibatan WNI dalam aktivitas ilegal tersebut,” tulis Kemlu. (*/red)

Juwono Sudarsono: Arsitek Reformasi Pertahanan Indonesia

By On Senin, Maret 30, 2026

Eks Menhan Juwono Sudarsono

Oleh: WT. Daniealdi

Dalam suasana duka yang masih terasa setelah kepergian Juwono Sudarsono pada 28 Maret 2026, kita sebetulnya diajak untuk melampaui sekadar mengenang sosok. 

Lebih dari itu, ini adalah momen untuk menengok kembali kedalaman pemikirannya, yang diam-diam telah menjadi fondasi penting bagi arah reformasi pertahanan Indonesia setelah runtuhnya Orde Baru

Juwono bukan figur teknokrat biasa. Sebagai Guru Besar Ilmu Hubungan Internasional di Universitas Indonesia, dengan gelar doktor dari London School of Economics, ia memiliki pijakan akademik yang kokoh. 

Namun, yang membuatnya menonjol adalah kemampuannya menjembatani dunia teori dan praktik, sesuatu yang jarang dimiliki banyak akademisi. 

Ia hadir di saat yang tepat, ketika Indonesia tengah menjalani transisi demokrasi yang rentan, dengan beban sejarah panjang relasi sipil-militer yang tidak seimbang akibat warisan dwifungsi ABRI

Dari sanalah lahir pemikiran-pemikiran strategis yang tidak berhenti di ruang kuliah atau jurnal ilmiah, tetapi diterjemahkan menjadi kebijakan nyata. 

Setidaknya, ada empat pilar utama yang merangkum kontribusi intelektualnya, yakni: supremasi sipil, konsep Minimum Essential Forces (MEF), pertahanan non-militer, dan pembangunan fondasi institusional pemikiran strategis melalui Universitas Pertahanan (Unhan) RI

Banyak yang tidak menyadari saat ini, bahwa keempatnya saling terkait dan membentuk satu bangunan utuh tentang bagaimana seharusnya pertahanan negara dikelola dalam sistem demokrasi modern. 

Pertanyaannya hari ini menjadi relevan sekaligus reflektif: sejauh mana gagasan-gagasan itu masih hidup – bahkan mungkin semakin penting – di tengah tantangan Indonesia menuju 2045? 

Menegakkan Supremasi Sipil

Pilar pertama, sekaligus yang paling menentukan, adalah supremasi sipil. Dalam dua periode jabatannya sebagai Menteri Pertahanan – 1999-2000 di era Presiden Abdurrahman Wahid dan 2004–2009 di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono – Langkah-langkah strategis yang ditawarkan Juwono – perlahan tapi pasti – telah menjadi simbol berakhirnya dominasi militer selama empat dekade (1959–1999). 

Namun, perannya tidak berhenti pada simbolisme. Ia mendorong perubahan konkret, seperti: pemisahan fungsi TNI yang berfokus pada pertahanan eksternal dan Polri yang menangani keamanan dalam negeri, penghapusan bertahap dwifungsi ABRI, serta penegasan netralitas politik militer. 

Dalam kerangka teori, pendekatan ini sejalan dengan pemikiran Samuel P. Huntington dalam The Soldier and the State (1957), yang membedakan antara kontrol sipil objektif dan subjektif. 

Bagi Huntington, kontrol sipil yang sehat justru lahir dari militer yang profesional dan apolitis, bukan dari intervensi politik yang berlebihan. 

Juwono mengadopsi prinsip ini dengan cara yang khas Indonesia. Ia berulang kali menegaskan bahwa reformasi militer sejati bergantung pada kekuatan sipil yang kredibel. 

Artinya, supremasi sipil tidak cukup hanya secara formal, ia harus ditopang oleh kapasitas, integritas, dan legitimasi dari aktor-aktor sipil itu sendiri. 

Dalam berbagai kajian pasca-1998, seperti yang ditulis Marcus Mietzner dan Kusnanto Anggoro, peran Juwono bahkan disebut sebagai katalis penting yang memungkinkan transformasi TNI menuju institusi yang lebih profesional. 

Meski demikian, proses ini tidak berjalan tanpa hambatan. Juwono mengakui adanya resistensi internal, termasuk persoalan klasik anggaran pertahanan yang “bocor dan boros”, di mana pengeluaran di luar APBN pernah mencapai lebih dari 70 persen. 

Di titik ini, supremasi sipil bukan hanya soal kekuasaan, tetapi juga soal tata kelola. 

Minimum Essential Forces (MEF)

Pilar kedua adalah Minimum Essential Forces (MEF). Gagasan ini tampak sederhana, tetapi justru di situlah letak kekuatannya. 

MEF tidak berbicara tentang membangun kekuatan militer sebesar mungkin, melainkan sebesar yang diperlukan; Minimum, tetapi esensial. 

Dalam praktiknya, ini adalah bentuk perencanaan berbasis kemampuan (capability-based planning), bukan berbasis ancaman semata. 

Indonesia, dengan karakter sebagai negara kepulauan dan dengan keterbatasan anggaran – yang secara historis hanya sekitar 0,7–1 persen PDB – tidak mungkin meniru model kekuatan militer negara besar. 

Karena itu, Juwono menawarkan pendekatan yang realistis sekaligus rasional. Konsep ini kemudian diadopsi secara resmi pada era Yudhoyono dan hingga kini tetap menjadi acuan pembangunan kekuatan TNI. 

Yang menarik, Juwono juga menekankan pentingnya transparansi dalam pengadaan alutsista dan upaya mengurangi korupsi. 

Dengan begitu, pertahanan diposisikan sebagai public goods – layanan publik yang menopang stabilitas, bukan sekadar proyek belanja negara. 

Pertahanan Non-Militer

Pilar ketiga adalah gagasan pertahanan non-militer. Di sinilah terlihat keluasan pandangan Juwono. 

Ia memahami bahwa ancaman terhadap negara tidak lagi hanya berbentuk invasi militer. 

Ancaman bisa datang dari kelemahan sumber daya manusia, ketertinggalan teknologi, ketimpangan sosial, hingga rapuhnya nilai-nilai kebangsaan. 

Karena itu, ia mendorong pendekatan pertahanan komprehensif, atau yang sering disebut sebagai “total defence”. 

Dalam kerangka ini, pertahanan mencakup pembangunan manusia, penguatan ilmu pengetahuan, keadilan sosial, dan nation and character building. 

Gagasan ini bahkan mendahului diskursus global tentang hybrid warfare dan whole-of-society approach, di mana ancaman non-tradisional seperti siber, ekonomi, dan budaya menjadi semakin dominan. 

Dengan kata lain, bagi Juwono, pertahanan bukan monopoli militer. Ia adalah urusan seluruh bangsa. 

Membangun Universitas Pertahanan RI

Pilar keempat adalah pembangunan institusi pemikiran strategis, yang paling konkret diwujudkan melalui pendirian Universitas Pertahanan Indonesia pada 2009. 

Ini bukan sekadar proyek kelembagaan, melainkan bagian dari visi jangka panjang. 

Juwono melihat kebutuhan mendesak akan pusat pendidikan pertahanan yang tidak hanya militeristik, tetapi juga multidisipliner. 

Ia ingin melahirkan generasi baru yang memahami pertahanan dari berbagai perspektif, mulai dari pemikiran strategis, politik, ekonomi, hingga budaya, serta mampu menjembatani relasi sipil dan militer secara sehat. 

Dalam konteks ini, Unhan menjadi lebih dari sekadar kampus. Ia adalah ruang reproduksi gagasan, tempat di mana pemikiran strategis terus diperbarui dan diuji. 

Sebuah think tank yang diharapkan mampu menjaga kesinambungan reformasi pertahanan di masa depan. 

Melanjutkan Warisan

Jika dilihat secara utuh, keempat pilar ini saling menguatkan. 

Supremasi sipil memberikan fondasi politik, MEF menawarkan kerangka strategis yang realistis, pertahanan non-militer memperluas cakupan ancaman, dan Unhan memastikan keberlanjutan pemikiran. 

Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa gagasan-gagasan ini bersifat prediktif. Memasuki periode 2025–2045, Indonesia menghadapi lanskap yang semakin kompleks, di mana persaingan kekuatan besar di Indo-Pasifik, ancaman siber, hingga dampak perubahan iklim terhadap keamanan maritim. 

Dalam situasi seperti ini, pemikiran Juwono justru terasa semakin relevan. Bahkan, beberapa studi tentang reformasi militer di Asia Tenggara – seperti karya Croissant dan Kuehn – menempatkan Indonesia sebagai salah satu contoh transisi yang relatif berhasil, di mana supremasi sipil dapat ditegakkan tanpa memicu instabilitas besar. 

Namun, refleksi yang jujur juga menuntut kita melihat batas-batasnya. Supremasi sipil, misalnya, masih menghadapi ujian: apakah aktor sipil hari ini cukup kuat dan kompeten untuk menjalankan peran tersebut? 

MEF membutuhkan konsistensi anggaran, sementara pertahanan non-militer menuntut koordinasi lintas sektor yang tidak selalu mudah diwujudkan. 

Di titik inilah kepergian Juwono terasa sebagai panggilan refleksi. Warisannya bukan sesuatu yang selesai. Ia bukan monumen, melainkan kerangka berpikir yang harus terus diuji, disesuaikan, dan diperbarui. 

Pada akhirnya, Juwono mengajarkan satu hal mendasar, bahwa pertahanan negara tidak bisa hanya bertumpu pada kekuatan senjata. Ia harus dibangun di atas keseimbangan antara sipil yang visioner dan militer yang profesional. 

Di tengah suasana duka, pertanyaan yang tersisa justru jauh lebih mendalam: apakah kita mampu merawat warisan itu dengan kesungguhan yang sama? 

Jika jawabannya ya, maka Juwono tidak benar-benar pergi. Ia tetap hidup dalam setiap kebijakan pertahanan yang menjunjung kedaulatan, transparansi, dan keberlanjutan. 

Terimakasih dan Selamat Jalan Profesor Juwono Sudarsono.

Penulis adalah pemerhati masalah politik, pertahanan-keamanan, dan hubungan internasional

Sumber: kompas.com