-->

Berita Terbaru

Subscribe Here!

Enter your email address. It;s free!

Delivered by FeedBurner

Pulang ke Desa: Menenangkan Diri atau Sekadar Sembunyi?

By On Minggu, Maret 22, 2026

Sejumlah calon penumpang bersiap menaiki bus Antar Kota Antar Provinsi (AKAP) di Terminal Pulo Gebang, Jakarta

Oleh: Udin Suchaini

Di tengah kejenuhan kota yang dipenuhi ritme hustle culture, desa setiap Lebaran selalu menemukan momentumnya sebagai tujuan pulang. 

Ia bukan lagi sekadar ruang produksi pangan, melainkan menjadi ruang jeda, tempat orang-orang kota menanggalkan sejenak identitas sibuknya. 

Dalam narasi populer, desa tampil sebagai oase: udara bersih, relasi yang hangat, ritme hidup melambat, seolah mampu mengembalikan keutuhan jiwa yang terkoyak oleh tekanan urban. 

Namun, pertanyaannya tetap sama: apakah kepulangan ke desa benar-benar menghadirkan pemulihan, atau sekadar ritual tahunan untuk menenangkan diri sebelum kembali pada luka yang belum pernah benar-benar diselesaikan? Atau justru menambah luka baru? 

Fenomena ini tidak lahir dari ruang hampa. Kota memang semakin mahal secara emosional. Kesuksesan diukur dari produktivitas tanpa jeda, sementara tubuh dan mental menjadi korban yang tak tercatat. 

Maka, ketika desa menawarkan slow living, ia tampak seperti antitesis yang masuk akal, bahkan terasa seperti jawaban. 

Lanskap hijau, ritme hidup yang tidak tergesa, serta relasi sosial yang hangat terbukti mampu meredakan stres, meningkatkan hormon kebahagiaan, dan mengembalikan rasa memiliki yang hilang di kota. 

Namun, di balik romantisme itu, ada paradoks modalnsosial yang jarang dibicarakan: kita melihat desa sebagai tempat singgah, bukan sebagai sistem sosial yang utuh. 

Kita datang untuk healing, tetapi lupa bahwa desa bukan ruang netral. Ia memiliki aturan, ekspektasi, dan tekanan sosialnya sendiri. 

Anonimitas Dingin vs Komunal Invasif

Data pada Publikasi Statistik Modal Sosial 2021 yang dikeluarkan BPS menunjukkan bahwa perbedaan antara desa dan kota bukan lagi sekadar soal gedung tinggi dibandingkan dengan sawah hijau. 

Melainkan soal bagaimana manusia mengelola kewarasan dan modal sosial yang siap kita tanggung. 

Di desa, tingkat kepercayaan pada tetangga tinggi, tapi takut perbedaan. 

Data menunjukkan penduduk desa memiliki Indeks Modal Sosial lebih tinggi (72,68) dibanding orang kota (71,57). 

Di desa, "Rasa Percaya" adalah mata uang utama. Anda bisa jatuh pingsan di jalan dan dalam hitungan detik, belasan tangan akan menolong Anda.  

Namun, ada harganya, toleransi di desa justru lebih rendah (57,77). Di samping itu, kesamaan akan lebih mudah diterima. 

Begitu ada pendatang yang berbeda, entah soal keyakinan, gaya hidup, atau pilihan politik, kehangatan itu bisa berubah menjadi dinginnya pengucilan. 

Sementara, kota yang warganya heterogen memiliki nilai toleransi yang lebih tinggi (59,39), tempat di mana orang tidak peduli pada keyakinan orang lain.

Selama seseorang tidak parkir sembarangan di depan pagar mereka, atau mengusik urusan rumah tangga orang lain, ketenangan akan tetap terjaga. 

Di desa, hubungan sosial jauh lebih dekat dan emosional, tapi juga bisa terasa sangat masuk ke ranah pribadi. Privasi hampir tidak benar-benar ada. 

Tetangga bisa datang tanpa janji, tahu banyak hal tentang kehidupan kita, bahkan hal-hal kecil sekalipun. 

Namun di sisi lain, justru merekalah yang paling cepat hadir saat kita butuh bantuan, misalnya ketika sakit atau sedang kesulitan. 

Sementara di kota, hubungan sosial cenderung bersifat privat dan impersonal. Orang berinteraksi seperlunya, sekadar fungsi. 

Kita bisa tinggal bertahun-tahun tanpa benar-benar mengenal tetangga sendiri, tapi justru lebih akrab dengan kurir paket yang sering datang. 

Sederhananya, kalau di kota orang bisa hidup “sendiri di tengah keramaian”, maka di desa hidup terasa “bersama, tapi sulit benar-benar sendiri”. 

Di kota, tekanan datang dari target dan waktu. Di desa, tekanan datang dari manusia lain. Tinggal di desa, bukan berarti desa sepenuhnya lebih ringan. Narasi slow living sering terdengar indah, tapi bagi banyak warga desa, itu tidak sepenuhnya nyata. 

Hidup tetap penuh perjuangan, bekerja di sawah dengan penghasilan yang tidak pasti, bergantung pada musim dan kondisi alam. 

Selain itu, ada beban lain yang sering luput dari perhatian: “ongkos rukun.” Kalau di kota uang habis untuk kebutuhan gaya hidup dan pajak, di desa uang sering habis untuk menjaga hubungan sosial, seperti menghadiri hajatan, memberi amplop, dan berbagai sumbangan. 

Ini bukan sekadar pilihan, melainkan semacam kewajiban tidak tertulis. Tidak ikut serta bisa berujung pada gosip atau penilaian negatif dari lingkungan. 

Budaya guyub rukun memang menciptakan kehangatan dan solidaritas, tetapi di sisi lain juga bisa menjadi tekanan. 

Kehadiran dalam acara sosial terasa wajib, “ngamplop” menjadi tiket untuk tetap diterima, dan ruang pribadi hampir tidak benar-benar ada. 

Pilihan sulit jika ke desa untuk menghindari tekanan datang dari ritme hidup yang keras. 

Orang dikejar target, terjebak kemacetan, dan perlahan terkuras secara mental demi mengejar standar hidup seperti UMR. 

Hustle culture membuat hidup terasa seperti perlombaan tanpa garis akhir, melelahkan, tapi sulit dihentikan. 

Sementara desa tidak selalu menyembuhkan, karena justru kedekatan sosial lah yang mengawasi. 

Paradoks Healing

Di sinilah paradoks healing culture muncul. Banyak orang kota mencari ketenangan di desa karena lelah dengan tekanan eksternal, tetapi justru masuk ke dalam tekanan sosial yang lebih halus dan personal. 

Jika kota menghukum kegagalan dengan ketertinggalan, desa menghukum perbedaan dengan stigma. 

Padahal orang datang dari kota mencari ketenangan dari tekanan individualistik, tapi sering tidak siap menghadapi tekanan kolektif yang jauh lebih halus dan lebih sulit ditolak. 

Secara teoritis, ini bisa dijelaskan melalui perspektif bomodal sosial. Desa memiliki bonding social capital yang sangat kuat, ikatan internal yang menciptakan kepercayaan tinggi dan solidaritas luar biasa. 

Sayangnya, bonding social capital yang dipopulerkan secara jelas oleh Robert Putnam, dengan fondasi teoritis dari Pierre Bourdieu dan James Coleman, seperti pedang bermata dua. 

Ia menciptakan masyarakat yang hangat, solid, dan penuh empati, tetapi dalam saat yang sama bisa menjadi sistem yang eksklusif, menekan, dan anti-perbedaan. 

Parahnya, kekuatan ini sering tidak diimbangi dengan bridging social capital, yaitu kemampuan menerima perbedaan. 

Akibatnya, siapa pun yang “tidak sama” akan kesulitan menemukan ruang aman. Identitas privat harus dinegosiasikan, bahkan dikorbankan, demi harmoni kolektif. 

Bridging kunci kemajuan hubungan sosial, tetapi bukan sumber ketenangan. 

Sekarang, momen Idul Fitri menjadi panggung paling jujur dari dinamika ini. 

Mudik yang sering dikemas sebagai perjalanan spiritual dan emosional, sejatinya juga merupakan ritual legitimasi sosial. 

Kesuksesan harus dipertontonkan, meski sering kali semu karena membawa beban baru saat kembali ke kota. 

Banyak perantau pulang dengan membawa citra “berhasil”, sementara di baliknya tersembunyi tekanan ekonomi dan psikologis yang belum selesai. 

Ironisnya, desa yang menjadi tempat healing justru menjadi arena kompetisi simbolik baru: siapa yang paling berhasil, siapa yang paling dermawan, siapa yang paling layak dihormati. 

Namun, bukan berarti desa harus ditolak sebagai ruang pemulihan. Yang perlu dikoreksi adalah cara kita memaknainya. 

Healing bukan soal berpindah lokasi, melainkan kemampuan mengelola diri. Desa bisa menjadi ruang refleksi, tetapi bukan solusi instan. 

Tanpa kesiapan beradaptasi dengan norma sosialnya, “ketenangan” yang dicari bisa berubah menjadi keterasingan baru. 

Lebih jauh, fenomena ini seharusnya menjadi alarm, bukan tren. 

Jika desa terus diposisikan sebagai pelarian, maka kita sedang menghindari akar masalah: sistem kerja yang eksploitatif, standar kesuksesan yang tidak manusiawi, dan kota yang gagal menjadi ruang hidup yang layak. 

Alih-alih terus menjual narasi healing, kita perlu bertanya lebih radikal: mengapa hidup normal saja kini membutuhkan pelarian? Desa tidak salah. 

Kota pun tidak sepenuhnya keliru. Yang bermasalah adalah cara kita membangun makna tentang hidup yang “layak dijalani”. 

Selama kesuksesan masih diukur dari kelelahan, maka healing akan selalu menjadi kebutuhan, sementara desa akan terus dijadikan ilusi yang menenangkan, meski tidak selalu menyembuhkan. 

Akhirnya, mohon maaf lahir dan batin akan selalu menjadi ukuran, setiap ketersinggungan dalam bersosialisasi diakhiri dengan maaf-maafan. 

Penulis adalah Praktisi Statistik Bidang Pembangunan Desa

Sumber: kompas.com

Gubernur Andra Soni Salat Idul Fitri di Alun-alun Serang, Ajak Pererat Silaturahmi dan Persaudaraan

By On Minggu, Maret 22, 2026

Gubernur Banten, Andra Soni melaksanakan Salat Idul Fitri 1447 Hijriah bersama masyarakat, di Alun-Alun Barat Kota Serang, Sabtu, 21 Maret 2026.  

SERANG, KabarViral79.Com - Gubernur Banten, Andra Soni melaksanakan Salat Idul Fitri 1447 Hijriah bersama masyarakat, di Alun-Alun Barat Kota Serang, Sabtu, 21 Maret 2026. 

Momentum tersebut berlangsung khidmat dan penuh kebersamaan, menandai kemenangan umat Muslim setelah menjalani ibadah puasa selama bulan Ramadan

“Atas nama Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten dan masyarakat Banten, kami mengucapkan Minal aidin wal faizin, mohon maaf lahir dan batin,” ujar Andra Soni. 

Andra Soni juga menyampaikan rasa syukur atas kelancaran pelaksanaan salat Idulfitri. 

Hadir dalam kesempatan tersebut, Ketua DPRD Banten Fahmi Hakim, Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Provinsi Banten, Ketua Tim Penggerak (TP) PKK Tinawati Andra Soni, Walikota Serang Budi Rustandi dan Wakil Walikota Serang Nur Agis Aulia, serta Forkopimda Kota Serang. 

"Idul Fitri juga menjadi momentum untuk mempererat tali silaturahmi, saling memaafkan, serta memperkuat ukhuwah di antara kita," kata Andra Soni. 

Menurut Andra Soni, momen Hari Raya Idul Fitri dapat dijadikan sebagai sarana untuk memperbaiki diri, mempererat persaudaraan, serta menumbuhkan kembali nilai-nilai kebersamaan dan kepedulian sosial. 

"Idul Fitri adalah momentum kembali kepada fitrah dan menjadi pribadi yang lebih baik," ucapnya. 

Andra Soni juga mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak dan masyarakat Provinsi Banten yang telah menjaga kondusivitas selama bulan Ramadan hingga pelaksanaan Idul Fitri. 

"Kami juga mengucapkan terima kasih kepada seluruh masyarakat yang selama ini terus menjaga kondusivitas. Sekali lagi saya ucapkan minal aidin wal faizin, mohon maaf lahir dan batin," ujarnya. (Welfendry)

Iran Gelar Salat Id di Lapangan Terbuka saat Perang dengan AS-Israel

By On Minggu, Maret 22, 2026

Warga Iran mengikuti Salat Idul Fitri, menandai berakhirnya bulan suci Ramadan, di Masjid Agung Mosalla di Teheran, Sabtu, 21 Maret 2026.  

JAKARTA, KabarViral79.Com - Ribuan umat Muslim di Iran melaksanakan Salat Idul Fitri yang jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026. 

Salat Id menandai berakhirnya puasa bulan Ramadan di tengah berkecamuknya perang di Timur Tengah. 

Dilansir dari AFP, Sabtu, 21 Maret 2026, warga Iran melaksanakan Salat Idul Fitri, menandai berakhirnya bulan suci Ramadan sehari setelah sebagian besar negara muslim lainnya. 

Saat fajar, kerumunan jemaah berkumpul di Masjid Agung Imam Khomeini di pusat Teheran, yang dinamai menurut nama pendiri Republik Islam tersebut. 

Karena keterbatasan ruang, banyak jamaah melaksanakan Salat di luar, dengan televisi pemerintah menayangkan gambar-gambar area yang ramai di sekitar Masjid, meskipun ada risiko serangan. 

Ibu Kota Iran telah dibombardir hampir setiap hari sejak serangan gabungan Amerika Serikat (AS)-Israel memulai perang pada 28 Februari, yang menewaskan para Pejabat Tinggi, termasuk Pemimpin Tertinggi Republik Islam tersebut. 

Serangan pada Jumat malam, 20 Maret 2026, kembali menargetkan beberapa distrik di Teheran dan sekitarnya, serta Kota Isfahan di pusat, menurut Kantor Berita Fars

Televisi Iran juga menayangkan warga Salat Id di tempat lain di negara itu, termasuk di Arak di bagian tengah, Zahedan di tenggara, dan Kota Abadan di barat. (*/red) 

Puan Harap Momen Idul Fitri Pererat Kebersamaan Bangsa

By On Sabtu, Maret 21, 2026

Ketua DPR RI, Puan Maharani

JAKARTA, KabarViral79.Com - Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Republik Indonesia (RI), Puan Maharani menyampaikan selamat Idul Fitri 1 Syawal 1447 Hijriah kepada seluruh masyarakat Indonesia. 

Dia berharap, momen Lebaran 2026 dapat mempererat kebersamaan bangsa untuk membangun Indonesia yang lebih baik. 

"Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah. Minal Aidin Wal Faizin, mohon maaf lahir dan batin," ujar Puan dalam keterangan tertulisnya, Jumat, 20 Maret 2026

Puan juga mengajak umat Muslim untuk menyambut Hari Kemenangan dengan sukacita setelah sebulan lamanya menjalankan ibadah puasa. 

"Ramadan telah menempa diri kita, membersihkan jiwa dan menjernihkan hati. Kini, Idul Fitri hadir membawa kita kembali pada kesucian diri. Di Hari yang fitri ini, marilah kita saling membukakan pintu maaf," tuturnya. 

Meski ada perbedaan Hari Raya Idul Fitri, Puan mengajak semua pihak untuk terus menjaga kebersamaan dan selalu membangun toleransi. 

Diketahui sebelumnya, pemerintah resmi menetapkan Idul Fitri 1 Syawal 1447 Hijriah atau Lebaran 2026 pada Sabtu, 21 Maret 2026. Sementara Muhammadiyah menetapkan awal bulan Syawal 1447 H jatuh pada hari Jumat, 20 Maret 2026. 

"Mari kita mempererat kebersamaan, dan memperkuat semangat gotong royong demi membangun Indonesia yang lebih baik," ujar Puan. 

Puan juga mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk memperkuat kepedulian dan kebersamaan. 

"Di momen Idul Fitri ini, mari kita meningkatkan rasa empati kepada sesama, terutama bagi mereka yang kekurangan dan membutuhkan," ujarnya. 

Puan juga menilai aksi kepedulian sangat penting, apalagi dunia tengah dilanda berbagai dinamika geopolitik yang mempengaruhi stabilitas ekonomi global termasuk perekonomian Indonesia. 

Dia juga mendorong pemerintah untuk semakin peka dalam memperjuangkan kesejahteraan rakyat. 

"Rakyat masih terus menaruh harapan besar agar negara hadir, khususnya di saat-saat rakyat paling membutuhkan," ucapnya.

Puan juga meminta pemerintah memastikan kelancaran momen Idul Fitri. 

"Mulai dari kelancaran umat Muslim dalam merayakan Hari Idul Fitri, kelancaran transportasi dan semua infrastruktur arus mudik-arus balik, hingga kepastian keamanan dan kenyamanan masyarakat saat libur Lebaran," jelasnya. 

Kepada seluruh rakyat Indonesia, Puan mengucapkan selamat bersilaturahmi bersama keluarga di momen libur Lebaran 2026. 

"Semoga seluruh umat Muslim menyambut Hari Kemenangan dengan gembira. Dan bagi seluruh masyarakat, selamat berkumpul dengan keluarga di momen libur Lebaran ini," pungkasnya. (*/red)

Klaim Angka Kecelakaan dan Fatalitas Turun, Kakorlantas: Mudik Aman dan Bahagia

By On Sabtu, Maret 21, 2026

Kakorlantas Polri, Irjen Agus Suryonugroho saat Konferensi Pers di Polda Metro Jaya, Jakarta, Jumat malam, 20 Maret 2026. 

JAKARTA, KabarViral79.Com - Korps Lalu Lintas (Korlantas) Polri mengklaim angka kecelakaan lalu lintas selama pelaksanaan arus mudik Lebaran 2026 mengalami penurunan, seiring situasi keamanan yang disebut tetap kondusif. 

Kakorlantas Polri, Irjen Agus Suryonugroho mengatakan, hingga saat ini, tidak terdapat peristiwa menonjol selama Operasi Ketupat 2026 berlangsung. 

"Sampai saat ini kami sampaikan kepada seluruh media bahwa peristiwa menonjol sampai saat ini tidak ada. Dari harkamtibmas cukup kondusif," ujar Agus saat Konferensi Pers di Polda Metro Jaya, Jakarta, Jumat malam, 20 Maret 2026. 

Menurutnya, dari sisi keamanan, keselamatan, ketertiban, dan kelancaran lalu lintas (kamseltibcarlantas), terjadi penurunan angka kecelakaan dibandingkan periode mudik tahun sebelumnya. 

"Peristiwa jumlah kecelakaan itu turun 3,12 persen. Peristiwa fatalitas korban, korban meninggal dunia dibandingkan tahun 2025, ada penurunan 24,68 persen," ujarnya. 

Capaian tersebut, kata Agus, tidak lepas dari kerja sama berbagai pihak, termasuk kehadiran personel di lapangan melalui pos pengamanan (Pospam), pos pelayanan, dan pos terpadu yang tersebar di sejumlah titik. 

Ia menegaskan, Operasi Ketupat merupakan operasi kemanusiaan yang mengedepankan aspek keselamatan masyarakat selama perjalanan mudik. 

"Hal yang perlu kami laporkan bahwa Operasi Ketupat adalah operasi kemanusiaan. Yang paling terpenting adalah aman dan selamat," tegasnya. 

Ia menambahkan, pengamanan Operasi Ketupat mencakup lima klaster utama, yakni jalan arteri, jalan tol, pelabuhan penyeberangan, tempat ibadah, dan lokasi wisata. 

Polri berharap kondisi kondusif ini dapat terus dipertahankan hingga arus balik Lebaran, sehingga masyarakat dapat kembali ke tempat asal dengan aman. 

“Operasi Ketupat adalah bagaimana kita hadir di lapangan untuk memastikan bahwa semua perjalanan adalah bahagia. Semua perjalanan adalah rindu. Rindu pada kampung halaman, rindu pada keluarga, dan kembalinya selamat," pungkasnya. (*/red)

Prabowo: Selamat Idul Fitri, Mari Perkuat Persatuan di Tengah Tantangan Bangsa

By On Sabtu, Maret 21, 2026

Presiden Prabowo mengucapkan selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah bagi umat muslim di Indonesia. 

JAKARTA, KabarViral79.ComPresiden Prabowo Subianto mengajak masyarakat menjadikan momentum Idul Fitri 1447 Hijriah, sebagai ajang memperkuat persatuan di tengah berbagai tantangan. 

Prabowo juga menyampaikan rasa syukurnya karena masih diberikan kesempatan merayakan hari kemenangan setelah menjalani ibadah puasa Ramadan selama 30 hari. 

“Saya, Prabowo Subianto, Presiden Republik Indonesia, atas nama pribadi, keluarga, dan Pemerintah Republik Indonesia, mengucapkan selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah. Mohon maaf lahir dan batin, minal aidin wal faizin,” kata Prabowo melalui kanal YouTube Sekretariat Presiden, Jumat, 20 Maret 2026. 

Menurutnya, Idul Fitri harus dimaknai sebagai momen saling memaafkan sekaligus mempererat persatuan sebagai satu bangsa. 

"Mari kita manfaatkan momen Idul Fitri ini untuk saling memaafkan, mempererat silaturahmi, dan memperkuat persatuan sebagai satu bangsa di tengah berbagai tantangan yang kita hadapi,” ujarnya. 

“Marilah kita terus memperkuat kebersamaan sebagai satu keluarga besar bangsa Indonesia,” sambungnya. 

Dia juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bekerja lebih keras, saling membantu, serta bersama-sama membangun Indonesia yang lebih adil, sejahtera, dan kuat. 

“Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menerima amal ibadah kita semua dan senantiasa melimpahkan rahmat serta berkah-Nya kepada bangsa Indonesia,” tuturnya. (*/red)

Mudik Performatif, Mudik Kamuflase, dan Ancaman Mudik Ekstraktif

By On Sabtu, Maret 21, 2026

Ilustrasi arus mudik lebaran 2026. 

Oleh: Ija Suntana

Di permukaan, mudik terlihat sebagai peristiwa sederhana. Orang pulang menemui orang tua, saudara, dan kampung halaman. Namun, mudik sebenarnya adalah peristiwa sosial yang sarat dengan status, strategi sosial, dan bahkan masa depan. 

Dalam praktiknya, gaya mudik perantau dapat dilihat setidaknya dalam tiga tipe. Pertama, mudik performatif. Dalam tipe ini, pulang kampung menjadi panggung untuk menampilkan keberhasilan hidup di kota. Penampilan diatur sedemikian rupa. 

Pakaian baru, kendaraan yang terlihat mapan, gawai mahal, dan oleh-oleh yang melimpah. Tidak jarang ada yang rela menyewa telepon genggam mahal agar tampak lebih “sukses”. 

Mudik tipe ini menjadi semacam presentasi sosial. Seseorang ingin memperlihatkan bahwa perjalanan merantau tidak sia-sia, ada hasilnya. 

Kedua, mudik kamuflase. Jika yang pertama menaikkan citra, yang kedua justru menurunkannya. 

Sebagian perantau sengaja tampil biasa saja ketika pulang kampung. Bukan semata-mata karena rendah hati, tetapi karena perhitungan sosial yang sangat realistis. 

Di banyak tempat, seseorang yang terlihat sukses sering dianggap memiliki kemampuan finansial yang lebih. 

Dari situlah muncul berbagai permintaan bantuan, pinjaman, atau tanggung jawab sosial tambahan. Agar tidak dibebani ekspektasi semacam itu, sebagian perantau memilih strategi sederhana, yaitu menyembunyikan tanda-tanda kemapanan. 

Ketiga, mudik strategis. Mudik tipe ini berorientasi pada makna relasi dan masa depan. Dalam tipe ini, pulang kampung bukan panggung reputasi dan bukan pula strategi menghindari tuntutan secara kamuflase. Mudik dimaknai sebagai kesempatan membaca masa depan kampung halaman. 

Pada tipe ketiga ini, perantau membawa pengalaman hidup di kota. Dalam percakapan santai di rumah keluarga atau di warung kopi desa, bisa terjadi transfer pengalaman. Informasi tentang peluang usaha atau teknologi sederhana bisa mengalir melalui percakapan informal. 

Dalam konteks pembangunan desa, mudik strategis sebenarnya dapat membantu pemerintah meningkatkan kapasitas masyarakat. 

Negara tentu memiliki program untuk meningkatkan kapasitas warga di pedesaan, tetapi jangkauannya selalu terbatas karena banyak faktor. 

Mudik, dalam batas tertentu, bisa menjadi mekanisme sosial yang membantu proses peningkatan kapasitas masyarakat desa. 

Perantau membawa pengetahuan, jaringan, dan kadang modal kecil yang dapat memicu aktivitas ekonomi lokal. 

Ancaman mudik ekstraktif Mudik strategis tidak melulu membawa dampak baik bagi masyarakat kampung. 

Kalau tidak diantisipasi dengan baik, bisa muncul tipe mudik pemicu persoalan yang tidak sederhana. Tipenya disebut mudik ekstraktif. 

Tidak sedikit kasus di mana kejadian mudik justru berujung pada pelepasan aset vital masyarakat kampung, terutama tanah, kepada pemudik. 

Ketika tanah dijual kepada pemudik—karena terdesak situasi—yang dilepaskan bukan hanya sebidang lahan, tetapi juga bagian dari masa depan ekonomi warga di kampung. Warga desa yang memiliki kebutuhan ekonomi mendesak menjual tanah mereka kepada pemudik. 

Uang hasil penjualannya digunakan untuk keperluan konsumsi—biaya renovasi rumah atau kebutuhan sehari-hari. 

Dalam waktu tidak terlalu lama, uang itu habis. Sementara tanah yang dijual telah berpindah kepemilikan secara permanen. Akibatnya, masyarakat kehilangan alat produksi yang sebelumnya menjadi penopang kehidupan mereka. 

Sementara itu, ketika hasil penjualan aset jangka panjang tidak diubah menjadi investasi produktif baru, yang muncul adalah kemiskinan kultural berkelanjutan. 

Paradoksnya sangat jelas, yaitu aset strategis hilang, tetapi tidak lahir aset produktif pengganti. 

Karena itu, jika mudik strategis akan didorong sebagai momentum membaca peluang ekonomi kampung, maka diperlukan kesadaran yang lebih dalam agar tidak berubah menjadi mudik ekstraktif. 

Investasi para pemudik di desa seharusnya tidak berubah menjadi proses konsentrasi kepemilikan aset yang justru melemahkan masyarakat lokal. 

Diperlukan model “investasi mudik” yang memungkinkan masyarakat desa tetap menjadi bagian dari pertumbuhan ekonomi. 

Perantau membawa modal sekaligus membawa perspektif baru, tapi masyarakat desa tidak sampai kehilangan aset vital (tanah). 

Alih-alih menjual tanah, warga desa dapat masuk dalam skema kemitraan dengan perantau. 

Dengan memanfaatkan program pemerintah melalui Koperasi Merah Putih—sekadar contoh—masyarakat dapat membentuk koperasi tanah yang mengelola lahan warga secara kolektif dengan menawarkan investasi kepada pemudik. 

Salah satu upaya penting yang perlu dipertimbangkan adalah bahwa pemerintah desa sebenarnya dapat membuat peraturan desa (Perdes) yang melindungi tanah strategis tertentu. 

Misalnya, pembatasan penjualan lahan pertanian strategis, kewajiban musyawarah desa sebelum penjualan lahan tertentu, dan prioritas pembelian oleh warga desa atau BUMDes. 

Langkah ini bukan melarang transaksi, tetapi mengendalikan dampaknya terhadap struktur ekonomi desa. Secara taktis, Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) dapat berperan sebagai pengelola tanah strategis agar tidak jatuh sepenuhnya ke tangan pihak luar. 

BUMDes membeli lahan strategis dengan skema saham desa atau lahan dikelola untuk usaha strategis (agrowisata atau pasar desa), sehingga aset desa tetap berada dalam kendali kolektif masyarakat. 

Mudik tidak sekadar perjalanan pulang sekelompok masyarakat, tetapi harus menjadi pertemuan antara masa lalu dan masa depan. 

Koneksitas antara nostalgia dan perhitungan ekonomi. Kampung bukan sekadar tempat kita berasal. Kampung adalah ruang masa depan yang menunggu untuk dipikirkan bersama.

Penulis adalah Pengajar pada Program Studi Hukum Tata Negara UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Sumber: kompas.com

NATO Tolak Bantu Amankan Selat Hormuz, Trump Kembali Mencak-mencak: Pengecut!

By On Sabtu, Maret 21, 2026

Presiden AS, Donald Trump

JAKARTA, KabarViral79.Com - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump mengecam keras minimnya dukungan yang diberikan negara-negara NATO kepada AS dalam perang melawan Iran, khususnya mengamankan jalur Selat Hormuz

Trump menyebut, sekutunya di NATO itu sebagai pengecut. 

"Tanpa AS, NATO hanya macan kertas," ujar Trump dalam unggahannya di Truth Social dilansir dari Channel News Asia (CNA), Jumat, 20 Maret 2026. 

Diketahui, Selat Hormuz telah diblokade Iran sejak negara itu diserang AS dan Israel pada 28 Februari silam. 

Penutupan di jalur perdagangan minyak dunia ini membuat kelangkaan dan naiknya harga minyak. 

Trump kemudian meminta sekutunya di NATO untuk turun tangan dalam mengamankan jalur Selat Hormuz dari Iran. Namun, keinginan dari Trump itu tidak digubris oleh para anggota NATO. 

"Sekarang pertempuran itu telah dimenangkan secara militer, dengan bahaya yang sangat kecil bagi mereka, mereka mengeluh tentang harga minyak yang tinggi yang terpaksa mereka bayar, tetapi tidak mau membantu membuka Selat Hormuz, manuver militer sederhana yang merupakan satu-satunya alasan tingginya harga minyak. Sangat mudah bagi mereka untuk melakukannya, dengan risiko yang sangat kecil," tulis Trump. 

"Para pengecut dan kita akan mengingatnya," imbuhnya. 

Dilansir dar AFP, Jumat, 20 Maret 2026, Inggris, Prancis, Jerman, Italia, Jepang, dan Belanda mengatakan pada Kamis, 19 Maret 2026, bahwa mereka siap berkontribusi pada upaya yang tepat untuk memastikan jalur aman melalui Selat Hormuz. 

Kelompok tersebut mengatakan mereka menyambut baik komitmen negara-negara yang terlibat dalam perencanaan persiapan, dan mereka mengutuk dengan keras serangan baru-baru ini oleh Iran terhadap kapal-kapal komersial tak bersenjata di Teluk. 

Namun Italia, Jerman, dan Prancis kemudian menjelaskan pada Kamis, 19 Maret 2026 bahwa mereka tidak berbicara tentang bantuan militer langsung, melainkan inisiatif multilateral potensial setelah gencatan senjata. (*/red)

Saat Tak Semua Bisa Pulang di Hari Idul Fitri: Kisah Sunyi dari Tenda Pengungsian Kantor Bupati Bireuen

By On Jumat, Maret 20, 2026

Memasuki lebaran Idul Fitri, warga masih menempati tenda pengungsian di halaman kantor Bupati Bireuen.  

BIREUEN, KabarViral79.Com Besok, Sabtu, 21 Maret 2026, gema Idul Fitri akan menyapa. Pendopo terbuka, open house digelar, senyum dan hidangan tersaji untuk para tamu yang datang bersilaturahmi. 

Namun di halaman Kantor Pusat Pemerintahan Kabupaten Bireuen, suasana yang berbeda justru terasa. Di sana, puluhan warga masih bertahan di bawah tenda. 

Yang satu bersiap menyambut tamu, yang lain masih menunggu kepastian. Yang satu merayakan kemenangan, yang lain masih berjuang dengan kehilangan. 

Malam itu, angin berembus pelan, menyusup di sela-sela tenda darurat yang berdiri seadanya. Di atas tikar tipis, beberapa anak terlelap, tubuh kecil mereka berusaha berdamai dengan dingin. Di dekatnya, para ibu tetap terjaga-diam, memandangi langit yang tak pernah benar-benar menjanjikan apa-apa. 

Sudah sembilan hari mereka bertahan di tempat itu. Jauh dari rumah yang dulu mereka sebut tempat pulang. Banjir tak hanya merenggut dinding dan atap, tapi juga rasa aman sesuatu yang tak mudah digantikan oleh terpal dan tiang seadanya. 

“Yang kami butuhkan bukan penjelasan panjang, tapi kepastian,” ucap seorang ibu pelan, sambil memeluk anaknya yang terbangun karena dingin malam. 

Kalimat itu sederhana, tapi menggambarkan kelelahan yang dalam lelah menunggu, lelah berharap. 

Siang hari menghadirkan wajah yang berbeda. Suara-suara mulai meninggi. Para pengungsi, bersama sejumlah warga lainnya, berdiri di depan kantor Bupati. Mereka tidak datang membawa kemarahan semata, tapi harapan yang terus mereka jaga. 

Namun yang datang sering kali hanya penjelasan yang berulang. Tentang kewenangan yang berada di pusat, tentang prosedur yang harus dilalui, tentang data yang masih diverifikasi. Sementara waktu terus berjalan, tanpa jeda. 

Memasuki lebaran Idul Fitri, warga masih menempati tenda pengungsian di halaman kantor Bupati Bireuen. 

Di sisi lain, pemerintah merasa telah berupaya. Hunian sementara disebut telah disiapkan. Proses verifikasi data telah dibuka. 

Sebagian pengungsi memilih tetap bertahan di tenda. Bukan karena menolak bantuan, melainkan karena keraguan yang belum terjawab. Mereka takut berpindah tanpa kepastian, takut kembali terjebak dalam ketidakjelasan yang sama. 

“Kami sudah capek pindah-pindah. Kami ingin tahu, kapan semua ini benar-benar selesai,” kata seorang pria paruh baya, menatap kosong keramaian di sekitarnya. 

Hari-hari terus bergulir mendekati Lebaran. Di banyak tempat, orang-orang mulai menyiapkan baju baru, kue khas, dan rencana mudik. Rumah-rumah dibersihkan, meja makan dipenuhi hidangan. 

Namun di Bireuen, sebagian warga justru masih berkutat dengan tenda, genangan, dan ketidakpastian. 

Di sudut tenda, seorang anak bertanya polos kepada ibunya, “Kita Lebaran di sini, ya?” 

Sang ibu terdiam. Tak ada jawaban. 

Barangkali, yang paling menyakitkan bukan hanya kehilangan rumah, melainkan ketika harapan perlahan memudar, digantikan oleh perasaan bahwa suara mereka tak benar-benar didengar. 

Di tengah gemerlap perayaan Idul Fitri, ada mereka yang masih bertahan dalam sunyi. 

Bahwa suatu hari nanti, mereka benar-benar bisa pulang. Dan ketika hari itu tiba, mungkin Lebaran akan kembali terasa utuh—bukan sekadar perayaan, tapi benar-benar tentang kembali ke rumah. (Joniful Bahri)

Naikkan Tarif Secara Sepihak, Bus Damri Diduga Lakukan Pungli

By On Jumat, Maret 20, 2026

 


Lebak, KabarViral79.ComBus Damri rute Serang–Sawarna diduga menaikkan tarif ongkos secara sepihak. Dishub dinilai tutup mata, sementara kondektur diduga “main mata”. Bus Damri Serang–Sawarna via Rangkasbitung–Gunung Kencana–Malingping diduga menaikkan tarif yang melebihi dari tarif yang seharusnya.

Dimana arus mudik pada tanggal 15–17, dengan tarif Serang–Gunung Kencana sebesar Rp60 ribu, Serang–Malingping Rp80 ribu, dan Serang–Sawarna Rp90 ribu, sebagaimana dilihat dari informasi yang beredar.

Namun, kondektur bus Damri diduga menaikkan tarif melebihi dari tarif yang seharusnya, yakni menjadi Rp90 ribu dari rute Serang–Malingping.

“Ini adanya dugaan indikasi pungli terhadap penumpang yang tidak tahu tarif yang sebenarnya. Ini salah satu bentuk kebobrokan dari Dishub yang tidak memberikan informasi publik terhadap tarif-tarif bus Damri,” papar Dika, Koordinator Gerakan Mahasiswa Perubahan (GMP).

“Sehingga ada dugaan kuat penaikan harga yang bisa dimainkan oleh kondektur. Kami meminta adanya informasi publik atau transparansi tarif bus Damri sehingga penumpang tidak lagi dibodohi,” lanjut Dika kepada awak media, Kamis (19/3/2026).

“Terutama bus Serang–Sawarna yang diberangkatkan pagi pukul 06.16 WIB dari Serang menuju Sawarna. Ini bentuk evaluasi dan kontrol sosial untuk menghindari dugaan-dugaan pungli,” tutup Dika.

Menag Ajak Seluruh Umat Bertoleransi Meski Tanggal Lebaran 2026 Berbeda

By On Jumat, Maret 20, 2026

Menag Nasaruddin Umar saat menyampaikan Konferensi Pers hasil Sidang Isbat 1 Syawal 1447 Hijriah, di Jakarta, Kamis, 19 Maret 2026. 

JAKARTA, KabarViral79.Com - Menteri Agama (Menag), Nasaruddin Umar mengajak masyarakat menjadikan momentum Idul Fitri 2026 sebagai sarana memperkuat persatuan dan solidaritas umat di tengah perbedaan penetapan 1 Syawal 1447 Hijriah di masyarakat. 

Ia menekankan pentingnya menjaga stabilitas sosial demi mendukung terciptanya Indonesia yang damai dan sejahtera. 

"Kami mengimbau seluruh umat Islam Indonesia untuk senantiasa menjaga ketenangan, keamanan, ketertiban, dan kebersamaan selama masa Lebaran tahun ini,” kata Menag Nasaruddin saat Konferensi Pers Sidang Isbat, Kamis malam, 19 Maret 2026. 

Menurutnya, Idul Fitri tidak hanya menjadi momen kemenangan setelah menjalani ibadah puasa, tetapi juga kesempatan untuk mempererat tali silaturahmi dan memperkuat persaudaraan antar sesama. 

"Mari kita jadikan Idul Fitri sebagai momentum untuk memperkuat umat, menyambut Idul Silaturahmi, dan menjaga stabilitas sosial sebagai bentuk kontribusi kita dalam membangun Indonesia yang damai dan sejahtera,” tuturnya. 

Dalam kesempatan tersebut, Nasaruddin juga menyampaikan ucapan selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1447 Hijriah kepada seluruh umat Islam di Tanah Air. 

"Sebagai Menteri Agama dan mewakili pemerintah, saya menyampaikan selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1447 Hijriah. Mohon maaf lahir dan batin,” ujarnya. 

Ia juga mengingatkan pentingnya sikap toleransi di tengah perbedaan waktu pelaksanaan Idul Fitri di masyarakat. 

Dia meminta umat Islam saling menghormati, khususnya bagi yang masih melanjutkan ibadah puasa hingga 30 hari. 

“Kepada rekan-rekan kita yang mungkin akan beribadah lebih dahulu, kami mohon agar tetap bertoleransi terhadap saudara-saudaranya yang masih melanjutkan puasa hingga 30 hari,” ujar Nasaruddin. (*/red)

Gubernur Andra Soni Tinjau RSUD se-Tangerang Raya, Pastikan Layanan Kesehatan Tetap Prima

By On Jumat, Maret 20, 2026

TANGERANG, KabarViral79.Com - Gubernur Banten, Andra Soni meninjau kesiapan pelayanan kesehatan di sejumlah Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) di wilayah Tangerang Raya menjelang libur Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah

Peninjauan tersebut meliputi RSUD Kota Tangerang Selatan, RSU Kabupaten Tangerang, dan RSUD Kota Tangerang, pada Kamis, 19 Maret 2026. 

"Kami ingin memastikan pada masa Lebaran, masyarakat tetap terlayani dengan baik. Alhamdulillah, RSUD tidak pernah menolak pasien selama fasilitas tersedia. Jika ruangan penuh, pasien akan ditangani di IGD sambil mencari alternatif tanpa membiarkan pasien mencari rumah sakit sendiri,” ujar Andra Soni di RSUD Kota Tangerang. 

Untuk mendukung pelayanan selama libur Lebaran, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Banten, Ati Pramudji Hastuti menyebutkan, pihaknya telah menyiagakan Posko Kendali Utama Kesehatan di tingkat Provinsi hingga Kabupaten/Kota. 

"Ada 94 posko lapangan di delapan Kabupaten/Kota. Kami juga mengaktifkan layanan 24 jam untuk seluruh Puskesmas di wilayah Provinsi Banten,” ujarnya. 

Posko tersebut tersebar di jalur mudik, pelabuhan, bandara, stasiun, terminal, dan tempat-tempat wisata. 

Dalam kunjungannya, Andra Soni menyempatkan diri menyapa para pasien dan tenaga kesehatan yang bertugas. 

Ia mengapresiasi dedikasi tenaga medis yang tetap melayani masyarakat meski menjelang hari raya Idul Fitri. 

Dia juga menginstruksikan seluruh Kepala Daerah dan Aparatur Sipil Megara (ASN) di Banten untuk terus memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat. 

Pada peninjauan pertama di RSUD Kota Tangerang Selatan, Andra Soni yang didampingi Walikota Benyamin Davnie berdialog dengan pasien di ruang hemodialisis (cuci darah). 

Di sela kunjungan tersebut, Gubernur Andra Soni bersama Ketua Tim Penggerak (TP) PKK Provinsi Banten, Tinawati Andra Soni, turut membagikan paket sembako kepada pasien. 

​Selanjutnya, di RSU Kabupaten Tangerang, Andra Soni didampingi Bupati Muhammad Maesyal Rasyid menyemangati para pasien, salah satunya Yose Rizal (68) yang mengaku telah menjalani 417 kali proses cuci darah. 

Di lokasi yang sama, Tinawati meninjau Poliklinik Kesehatan Ibu dan Anak serta memberikan dukungan kepada Siti Ratu (18), seorang ibu muda yang tengah melakukan inisiasi menyusui dini dengan metode kontak antarkulit (skin-to-skin). 

​Menutup rangkaian kunjungannya, Andra Soni bertolak ke RSUD Kota Tangerang bersama Walikota Sachrudin. 

Di sana, ia memantau fasilitas ruang rawat inap dan perawatan intensif, sembari berdialog dan memberikan dukungan moral kepada para keluarga yang tengah mendampingi pasien di ruang tunggu. (Welfendry)

Prabowo Nyatakan Akan Keluar dari BoP Jika Tidak Menguntungkan RI dan Palestina

By On Jumat, Maret 20, 2026

Presiden Prabowo Subianto. 

JAKARTA, KabarViral79.Com - Presiden Prabowo Subianto menjelaskan Indonesia bergabung dengan Board of Peace (BoP) setelah melalui pertimbangan matang dengan tujuan mendukung kemerdekaan penuh Palestina

Menurutnya, berada di dalam BoP bisa bersuara untuk membantu rakyat Palestina. 

Hal itu disampaikan Prabowo dalam diskusi bersama Jurnalis dan Pengamat yang digelar di Hambalang, Bogor, Jawa Barat (Jabar), Kamis, 19 Maret 2026. 

Prabowo menjelaskan, awal keterlibatan Indonesia dalam pembentukan BoP bermula pada 23 September, saat ia menyampaikan pidato di Sidang Umum PBB. 

Kala itu, ia menegaskan dukungan terhadap kemerdekaan Palestina sekaligus mendorong solusi dua negara (two-state solution). 

Usai sidang PBB, ia bersama tujuh pemimpin negara mayoritas Muslim dalam Group of Eight, seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Yordania, Turki, Pakistan, Qatar, dan Mesir, diundang oleh Presiden AS Donald Trump dalam sebuah pertemuan. 

Dalam pertemuan tersebut, Trump disebut meminta negara-negara itu untuk mendukung 21-point plan, yakni proposal untuk menciptakan perdamaian berkelanjutan di Gaza. 

Menurut Prabowo, rincian poin-poin tersebut dibacakan satu per satu oleh utusan khusus AS Steve Witkoff. 

Prabowo kemudian mendengarkan secara saksama proposal tersebut dan tertarik pada poin ke-19 dan ke-20, yang menjelaskan bahwa Palestina akan diberikan jalan untuk menjadi bangsa mandiri dan mampu menentukan masa depannya. 

Selain itu, ada pula poin bahwa AS akan memfasilitasi dialog antara Israel dan Palestina agar dapat hidup berdampingan secara damai. 

Prabowo menilai, isi proposal itu sejalan dengan pandangan Indonesia terhadap isu Palestina, bahwa perdamaian jangka panjang dapat dicapai melalui solusi dua negara. 

"Jadi, kita lihat ini (poin) 19 dan 20 ada peluang (untuk kemerdekaan Palestina) walaupun kita tahu ini sedikit. Akhirnya, kita berdelapan (pimpinan negara mayoritas Muslim) diskusi, kita dukung ini atau tidak? Akhirnya, dalam lobi-lobi kita bilang, kita dukung," tutur Prabowo. 

Selanjutnya para pemimpin itu menunjuk Emir Qatar Tamim bin Hamad Al Thani menjadi juru bicara mereka untuk menyampaikan kepada Trump bahwa negara-negara itu mendukung poin rencana tersebut. 

"We like your plan. But the problem is not us. The problem is Prime Minister Netanyahu of Israel," ujar Prabowo mengingat kembali momen itu. 

Beberapa saat setelah pertemuan tersebut, lanjut dia, muncul gagasan mengenai pembentukan BoP, yang sekaligus sudah diadopsi di dalam Resolusi Dewan Keamanan PBB 2803

Menanggapi perkembangan itu, kedelapan negara mayoritas muslim, yang kemudian disebut dengan Group of Eight, kembali berunding mengenai apakah perlu ikut serta di dalamnya atau tidak. 

Berdasarkan hasil perundingan, mereka menilai bahwa bergabung dalam BoP akan memberikan ruang yang lebih besar untuk memengaruhi arah kebijakan agar berpihak pada kepentingan Palestina. 

Hal ini, kata Prabowo, jauh lebih realistis dan konkret dalam memperjuangkan kemerdekaan Palestina daripada memilih untuk tidak bergabung dengan BoP. 

"Kalau kita di dalam, mungkin kita bisa pengaruhi dan membantu rakyat Palestina," ujarnya. 

"Kalau di luar (BoP), kita tidak bisa (memperjuangkan Palestina). Jadi, akhirnya kita putuskan, kita masuk," imbuhnya. 

Kendati demikian, Prabowo mengatakan bahwa Indonesia tak akan segan angkat kaki dari BoP jika hasil-hasil keputusannya tidak sejalan dengan kepentingan Indonesia atau Palestina. 

Bahkan, kata dia, Indonesia bisa saja keluar dari dewan tersebut tanpa perlu merundingkannya terlebih dulu dengan anggota Group of Eight lainnya. 

"Selama kita di dalam BoP bisa bantu perjuangan rakyat Palestina, kita akan berusaha. Begitu kita ambil kesimpulan tidak ada harapan dan kontraproduktif, kita menilai kita habis waktu, habis energi, dan tidak menguntungkan kepentingan nasional bangsa Indonesia, kita keluar," pungkasnya. 

Prabowo berharap, Indonesia dan anggota Group of Eight lain dapat berkontribusi positif bagi perdamaian jangka panjang di Palestina. 

"Jadi, saya menjalankan perjuangan bangsa Indonesia dari dulu. Kita selalu membela kemerdekaan Palestina," ujarnya. (*/red)

Tinjau Dua Pos Pam, Sekda Zaldi Sebut Arus Mudik Mulai Melandai

By On Jumat, Maret 20, 2026

SERANG, KabarViral79.Com - Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Serang, Zaldi Dhuhana memastikan untuk arus mudik Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriyah/2026 Masehi sudah melandai. 

Menurutnya, puncak arus para pemudik terjadi pada malam Rabu dan malam Kamis, 18 Maret 2026. 

Hal ini disampaikan Zaldi Dhuhana usai meninjau dua Pos Pengamanan (Pos Pam) pelayanan mudik hari raya Idul Fitri 1447 Hijriah, di Modern Cikande, Kecamatan Cikande, dan Pos Pam Ciujung, Kecamatan Kragilan, pada Kamis, 19 Maret 2026. 

”Kalau info dari Polri maupun Dishub (arus mudik) ini sudah sangat melandai, puncaknya kemaren malem Rabu dan Kamis sekarang sudah melandai,” ujar Zaldi Dhuhana di Pos Pam Ciujung. 

Mengenakan seragam Dishub, Sekda Zaldi didampingi Kepala Dishub Benny Yuarsa, Kepala Dinkes dr. Effrizal, Kepala Bakesbangpol Haryadi, dan Kepala Dinas Satpol PP Subur Prianto. Zaldi berharap, situasi arus mudik tetap kondusif hingga arus balik. 

"Diharapkan tetap, situasi tetap kondusif begitupun nanti ketika arus balik,” ujarnya. 

Zaldi juga mengatakan, Bupati Serang Ratu Rachmatuzakiyah, Wakil Bupati Serang Muhammad Najib Hamas juga sudah memantau Pos Pam. 

"Ibu Bupati, Pak Wakil, dan saya sudah bertugas, untuk Ibu Bupati di daerah tengah, Pak Wakil di daerah barat, dan saya wilayah timur,” ujarnya. 

Zaldi mengatakan, hari ini pihaknya memantau kesiapan dari Pos Pam maupun (Posyan Dinkes, dan semuanya sudah siap 100 persen aman. 

"Kita siap full mendukung Pos Pam dalam rangka pengamanan atau pun pelayanan arus mudik dan arus balik lebaran 1447 Hijriyah,” pungkasnya. 

Zaldi memastikan, untuk personil dalam melayani para pemudik baik dari Dinkes, PMI, Dishub, dan BPBD sudah mensupport penuh walaupun tidak berharap ada kejadian kejadian yang tidka di inginkan seperti kecelakaan atau lain sebagainya. 

"Namun kita harus tetap waspada,” tegasnya. 

Hal senada disampaikan Kepala Dishub Kabupaten Serang, Benny Yuarsa. Saat ini, kata dia, arus mudik sudah mulai melandai. 

"Arus mudik itu di Jalan Nasional Serang-Jakarta, Serang-Cilegon dan Serang-Pandeglang dan Anyer-Cinangka kondisi saat ini mulai melandai,” ujarnya. (*/red)

Hasil Sidang Isbat, Pemerintah Tetapkan Idul Fitri 1447 H Jatuh pada Sabtu 21 Maret 2026

By On Jumat, Maret 20, 2026

Menag Nasaruddin Umar saat menyampaikan Konferensi Pers hasil Sidang Isbat 1 Syawal 1447 Hijriah, di Jakarta, Kamis, 19 Maret 2026. 

JAKARTA, KabarViral79.Com - Pemerintah melalui Kementerian Agama (Kemenag) resmi menetapkan Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026. 

Hal tersebut disampaikan Menteri Agama (Menag), Nasaruddin Umar pada hasil Sidang Isbat (penetapan) 1 Syawal 1447 Hijriah, di auditorium HM Rasjidi Kemenag, Jakarta Pusat, Kamis, 19 Maret 2026. 

"Maka disepakati bahwa 1 Syawal 1447 Hijriah jatuh pada hari Sabtu, 21 Maret 2026 Masehi," ujar Menag Nasarudin dalam Jumpa Persnya. 

Sebelumnya, Tim Rukyat Hilal Kemenag mengatakan, 1 Syawal 1447 H jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026. Dengan demikian, kemungkinan Idul Fitri 2026 jatuh pada esok lusa. 

Hal itu diungkapkan Anggota Tim Rukyatul Hilal Kemenag, Cecep Nurwendaya dalam Seminar Sidang Isbat di Kantor Kemenag, Jakarta Pusat, Kamis  19 Maret 2026. 

Cecep mengatakan, ketinggian hilal di Provinsi Aceh telah memenuhi kriteria MABIMS, yakni minimum tiga derajat. Namun, kata dia, hilal tak memenuhi parameter elongasi minimum 6,4 derajat. 

"Sehingga tanggal 1 Syawal 1447 H secara hisab jatuh bertepatan dengan hari Sabtu Pahing tanggal 21 Maret 2026 M," kata Cecep. 

Sementara secara Rukyat, kata Cecep, ketinggian hilal di seluruh wilayah NKRI antara 0,91 derajat hingga 3,13 derajat dan elongasi antara 4,54 derajat hingga 6,10 derajat. 

"Di seluruh wilayah NKRI tak memenuhi kriteria visibilitas hilal atau Imkan Rukyat MABIMS. Oleh karenanya, hilal menjelang awal Syawal 1447 H pada hari Rukyat ini secara teoritis diprediksi tidak mungkin dirukyat," tuturnya. (*/red)

Gubernur Andra Soni Tinjau Pelabuhan Merak, Pastikan Arus Mudik Lebaran Lancar

By On Jumat, Maret 20, 2026

CILEGON, KabarViral79.Com - Gubernur Banten, Andra Soni meninjau kondisi arus mudik di Pelabuhan Merak, Kota Cilegon, sejak Rabu malam, 18 Maret 2026 hingga Kamis dini hari, 19 Maret 2026. 

Peninjauan ini bertujuan untuk memastikan kelancaran dan pelayanan optimal bagi pemudik menjelang Lebaran

​Dalam kunjungan tersebut, Andra Soni menyempatkan diri berdialog langsung dengan masyarakat yang hendak menyeberang melalui Pelabuhan Merak. 

Ia memberikan semangat dan mengimbau pemudik untuk selalu mengedepankan kehati-hatian selama perjalanan. 

​"Malam ini kami meninjau Pelabuhan Merak. Alhamdulillah, semua berjalan dengan baik. Mudah-mudahan para pemudik mendapatkan pelayanan terbaik," ujarnya. 

​Selain memantau fasilitas dan alur penyeberangan, Andra Soni juga menyapa serta menanyakan kondisi kesehatan para pemudik sebelum mereka naik ke kapal. 

​"Sehat-sehat, ya. Semoga sampai tujuan dengan selamat," ujar Andra Soni kepada para pemudik. 

Dia menegaskan bahwa keselamatan dan kenyamanan pemudik merupakan prioritas utama pemerintah selama periode mudik Lebaran. 

Oleh karena itu, ia berharap seluruh pihak terkait terus bersinergi memberikan pelayanan terbaik. 

​Gubernur Andra Soni juga mengimbau masyarakat untuk senantiasa menjaga kondisi fisik dan mematuhi aturan demi keselamatan bersama. 

​"Mudik aman, keluarga bahagia," pungkasnya. (Welfendry)

Mudik dan Tekanan yang Dinormalisasi

By On Kamis, Maret 19, 2026

Ilustrasi arus mudik sepeda motor. 

Oleh: Sasi Indudewi

Mudik selalu dibayangkan sebagai perjalanan pulang yang hangat, jalanan yang padat, rumah yang kembali ramai, dan meja makan yang penuh cerita. Namun, bagi banyak orang, pulang tidak selalu berarti tenang. Di balik senyum yang dipaksakan dan basa-basi yang terasa akrab, tersimpan kelelahan yang jarang diakui, kelelahan fisik sekaligus batin. 

Setiap musim Lebaran, jutaan orang bergerak menuju kampung halaman. Data beberapa tahun terakhir menunjukkan angka pemudik bisa melampaui 120 juta jiwa. Angka yang besar ini sering dibaca sebagai keberhasilan mobilitas dan kuatnya tradisi keluarga. 

Tetapi, jarang kita bertanya: berapa banyak dari jutaan itu yang pulang dengan hati yang benar-benar ringan? Perjalanan panjang, macet berjam-jam, jadwal yang tidak pasti, hingga tubuh yang dipaksa tetap terjaga, semua itu bukan sekadar persoalan teknis. 

Dalam kondisi lelah, seseorang menjadi lebih rapuh. Hal-hal kecil lebih mudah memicu emosi. Kata-kata sederhana bisa terasa menyakitkan. Dan dalam ruang keluarga, kerentanan itu sering kali bertemu dengan ekspektasi. 

Di banyak rumah, mudik bukan hanya soal pulang, tetapi juga soal “menjawab”. Menjawab pertanyaan tentang pekerjaan, tentang pasangan, tentang pencapaian hidup. Pertanyaan yang mungkin dimaksudkan sebagai perhatian, tetapi sering kali terasa seperti penilaian. 

Tidak semua orang pulang dalam kondisi “siap”. Ada yang masih berjuang, ada yang sedang kehilangan arah, ada pula yang sekadar ingin beristirahat dari kerasnya hidup di kota. 

Di titik inilah mudik berubah menjadi ruang yang ambigu. Yang awalnya diharapkan menjadi tempat pulang, tetapi bisa terasa seperti ruang ujian. 

Seseorang yang datang dengan harapan diterima apa adanya, justru dihadapkan pada standar-standar yang tidak selalu bisa dipenuhi. Kesehatan mental menjadi aspek yang sering terabaikan dalam dinamika ini. Kita terlalu fokus pada keselamatan perjalanan, yang tentu penting, tetapi lupa bahwa perjalanan batin juga membutuhkan perhatian. 

Padahal, berbagai survei menunjukkan bahwa tingkat kecemasan masyarakat meningkat dalam situasi sosial yang penuh tekanan, termasuk saat berkumpul dalam lingkar keluarga besar. 

Di sisi lain, kita juga perlu jujur bahwa keluarga sering kali tidak menyadari dampak dari cara mereka berkomunikasi. Budaya bertanya tanpa batas, memberi komentar tanpa empati, atau membandingkan satu anggota keluarga dengan yang lain masih dianggap hal biasa. Padahal, dalam banyak kasus, justru hal-hal inilah yang meninggalkan luka paling dalam. 

Mudik seharusnya menjadi ruang aman. Tempat di mana seseorang bisa kembali tanpa harus menjadi siapa-siapa selain dirinya sendiri. Namun, untuk sampai ke sana, dibutuhkan kesadaran bersama, bahwa setiap orang membawa beban yang tidak selalu terlihat. 

Solusinya tidak harus rumit. Bisa dimulai dari hal-hal kecil, tetapi mendasar. Pertama, menurunkan ekspektasi. Tidak semua mudik harus sempurna. Tidak semua pertemuan harus berjalan tanpa gesekan. Menerima bahwa kelelahan dan emosi adalah bagian dari perjalanan justru membantu kita lebih siap menghadapinya. 

Kedua, memberi ruang untuk jeda. Di tengah padatnya agenda silaturahmi, penting untuk menyediakan waktu istirahat, bukan hanya untuk tubuh, tetapi juga untuk pikiran. Sekadar menarik napas, berjalan sebentar, atau mengambil jarak dari keramaian bisa menjadi cara sederhana menjaga keseimbangan. 

Ketiga, mengubah cara bertanya. Keluarga perlu mulai belajar mengganti pertanyaan yang menekan dengan percakapan yang menguatkan. Daripada bertanya “kapan menikah” atau “sudah punya apa”, mungkin lebih baik bertanya, “apa yang sedang kamu jalani sekarang?” atau “apa yang bisa kami dukung?”. Perubahan kecil dalam bahasa bisa menghadirkan perbedaan besar dalam rasa. 

Keempat, menetapkan batasan pribadi. Setiap individu berhak menentukan sejauh mana dirinya ingin berbagi. Tidak semua pertanyaan harus dijawab. Tidak semua percakapan harus diikuti. Menjaga batas bukan berarti menjauh, tetapi bentuk menjaga diri agar tetap utuh. 

Kelima, mengembalikan makna mudik itu sendiri. Bahwa pulang bukan tentang menunjukkan keberhasilan, melainkan tentang merawat hubungan. Tentang hadir, bukan dinilai. Tentang diterima, bukan dibandingkan. 

Pada akhirnya, mudik adalah cermin. Yang memperlihatkan bukan hanya seberapa jauh kita pergi, tetapi juga seberapa dalam kita memahami satu sama lain. 

Jika selama ini mudik lebih banyak menguras energi daripada memulihkan, mungkin yang perlu diubah bukan tradisinya, melainkan cara kita menjalaninya. 

Sebab, pulang yang sesungguhnya bukan sekadar tiba di alamat yang sama, tetapi menemukan kembali rasa aman, di tengah orang-orang yang kita sebut keluarga.

Penulis adalah penulis biografi, novelis, kisah inspiratif, penari Bali. 

Sumber: kompas.com