-->

Berita Terbaru

Subscribe Here!

Enter your email address. It;s free!

Delivered by FeedBurner

Ketidakadilan dan Kekecewaan Kolektif Rakyat Vs Tuduhan Pion Asing

By On Minggu, Agustus 31, 2025

Iring-iringan pengemudi Ojek Online (Ojol) mengantarkan jenazah Affan Kurniawan ke TPU Karet Bivak di Jakarta, 28 Agustus 2025

Oleh: Jannus TH Siahaan

TRAGEDI 28 Agustus 2025 di Jakarta, menjadi pengingat yang sangat jelas untuk kita semua, terutama untuk pemerintah dan aparat keamanan, bahwa kehidupan mayoritas masyarakat Indonesia sedang tak baik-baik saja.

Demonstrasi buruh, yang diklaim tak ada kaitannya dengan tragedi Affan Kurniawan, adalah aspirasi formal para pekerja yang memang sudah jelas-jelas memiliki pekerjaan.

Sementara tragedi Affan Kurniawan terjadi di panggung kedua, di mana aspirasi pada panggung pertama (demonstrasi buruh) dianggap tak mewakili kepentingan para pekerja di sektor informal (ojek online) di satu sisi dan kepentingan masa depan generasi muda (mahasiswa dan anak sekolahan) yang kian tidak pasti di sisi lain.

Jadi, pergerakan agresif dan frontal yang sudah dimulai pada 25 Agustus lalu, lebih banyak mewakili kepentingan masyarakat yang memang benar-benar kecewa dengan institusi DPR dan aparat keamanan pada khususnya dan negara pada umumnya.

Kekecewaan tersebut tidak hanya lahir dari ketidakadilan sosial ekonomi secara faktual, tapi juga lahir dari persepsi ketidakadilan subjektif di kelompok masyarakat tertentu, yakni anak muda (mahasiswa dan siswa sekolah menengah bawah dan atas) dan pekerja informal (dalam konteks ini adalah komunitas pengemudi ojek online).

Sosiolog Jacquelien van Stekelenburg dan Psikolog Bert Klandermans; dua profesor berasal dari Vrije Universiteit Amsterdam Belanda, dalam kajiannya yang dituangkan di dalam buku “A Social Psychology of Protest: Individuals in Action" (2024), memasukkan faktor persepsi ketidakadilan ini ke dalam salah satu sebab utama yang memicu terjadinya protes sosial, selain faktor kapasitas mobilisasi kelompok dan faktor identitas sosial kelompok.

Ketiga faktor ini secara psikologis berjalin kelindan membentuk “collective grievances” atau kekecewaan kolektif dan bertransformasi menjadi gerakan protes massal.

Dalam konteks panggung kedua pada 28 Agustus 2025, ketiga faktor tersebut terpenuhi.

Faktor pertama, persepsi ketidakadilan sudah lama terbentuk di sebagian besar masyarakat Indonesia, baik karena beberapa kebijakan yang dianggap tidak proporsional dan adil maupun karena sikap para anggota DPR yang “private affluence oritented”, meminjam istilah dari John Kenneth Galbraith yang sempat saya bahas di tulisan terdahulu.

Kemudian persepsi ketidakadilan tersebut berbaur dengan rasa tidak suka kepada institusi kepolisian yang sudah terpendam sejak beberapa tahun ke belakang.

Mulai dari kasus Ferdy Sambo, kasus Kapolda yang ditangkap karena dituduh sebagai “bandar narkoba”, kasus polisi tembak polisi terkait perkara tambang emas ilegal di Sumatera Barat, tragedi di Stadion Kanjuruhan di Malang sampai pada masalah ketidakramahan aparat di dalam menangani berbagai demonstrasi sejak tahun 2019, dan banyak lagi lainnya.

Semua peristiwa tersebut menyatu di dalam ingatan publik, lalu menggumpal menjadi rasa tidak suka, dan berakhir dengan rasa ingin melakukan perlawanan terbuka.

Faktor kedua, identitas sosial kelompok di panggung kedua ini juga sudah lama terbentuk, yang berasal dari rasa senasib sepenanggungan secara sosial dan ekonomi.

Bekerja sebagai pengemudi ojek online, diakui atau tidak, adalah bentuk ‘keterpaksaan’ dari sebagian besar angkatan kerja kita.

Jika ada pekerjaan formal yang jelas status hukum dan jaminan ketenagakerjaannya, saya sangat yakin, kawan-kawan di komunitas ojek online akan lebih memilih bekerja di sektor formal alias tidak ingin menjadi pengemudi ojek online yang setiap hari ‘mengukur’ kilometer jalanan di bawah terik matahari, berjuang dengan polusi udara jalanan, basah kuyup kehujanan dan lain-lain.

Artinya, tuntutan serikat buruh yang disuarakan di panggung pertama, memang dianggap tidak mewakili kepentingan dan aspirasi kelompok pekerja informal, yang menginginkan diinisiasinya lapangan kerja baru seluas-luasnya di negeri ini oleh pemegang kekuasaan.

Aspirasi tentang kenaikan upah minimum di atas 8 persen, penghapusan outsourcing, pembatalan UU Cipta Kerja, dan seterusnya dan seterusnya, yang disuarakan oleh serikat buruh, sama sekali tak berarti bagi segmen pekerja informal di sektor transportasi ini, yang jumlahnya ratusan ribu di Jakarta dan jutaan di Indonesia.

Mereka tidak terhitung sebagai pekerja formal layaknya anggota serikat buruh di panggung pertama. Pun anak-anak muda dari sekolahan yang kemudian diikuti oleh organisasi-organisasi kemahasiswaan juga berada di dalam perasaan sepenanggungan yang sama, ikatan solidaritas yang sama, dan merasakan persepsi ketidakadilan yang sama pula.

Dua segmen anak muda ini dihinggapi oleh ketidakpastian masa depan sehingga akhirnya berusaha untuk menyesuaikan diri dan ikut serta di dalam kedua panggung protes yang ada, baik pada panggung serikat buruh maupun pada panggung kedua dari kelompok pekerja sektor informal.

Dan faktor ketiga, kapasitas mobilitas yang tinggi. Sebagaimana diketahui, komunitas pengemudi ojek online memiliki kemampuan mobilisasi yang tinggi.

Semua anggotanya memang diwajibkan untuk “melek” teknologi dan sensitif terhadap isu-isu yang berkembang di media sosial.

Selain itu, yang paling menentukan, adalah “seragam” atau jaket yang mereka pakai sehari-hari di satu sisi sebagai simbol pemersatu dan kepemilikan kendaraan roda dua di sisi lain, yang juga sangat krusial di dalam akselerasi pergerakan. Tak pelak, dua faktor terakhir ini sangat menentukan.

Sementara dari kelompok mahasiswa dan anak sekolah, meskipun tak diikat oleh satu seragam yang sama, sejatinya juga memiliki hal sama, karena generational solidarity.

Segmen mahasiswa rata-rata sudah memiliki kelompok sendiri dan telah terbukti sanggup berbaur di antara sesama kelompok mahasiswa selama ini di dalam berbagai aksi unjuk rasa yang sudah terjadi di Indonesia.

Anak sekolah juga sama, terbilang kurang kohesif, tapi memiliki “keberanian untuk berkonfrontasi” jauh lebih tinggi ketimbang senior-senior mereka, sehingga menjadi faktor penentu terjadi atau tidaknya konfrontasi di lapangan.

Keberanian anak STM dalam aksi tawuran sudah lama menjadi ikon segmen pelajar sekolah menengah tersebut.

Di sisi lain, kedua segmen ini juga sangat sensitif terhadap isu-isu yang ada, sangat cepat mendapatkan informasi, dan sangat cakap di dalam menyebarkan informasi ke dalam kelompok mereka sendiri melalui saluran digital.

Tak pelak, secara teoritik, aksi protes panggung kedua ini memenuhi syarat untuk terjadi dan memang berpotensi untuk berubah menjadi konfrontasi.

Dengan kata lain, di sini saya ingin menyampaikan bahwa tidak perlu mencarikan alibi bahwa aksi protes kali ini ditunggangi oleh pihak asing dan dilakukan oleh kaki tangan pihak asing di Indonesia.

Sebuah argumentasi yang berasal dari pakar intelijen yang menurut saya tak empiris dan asumsi tak berdasar.

Aksi protes yang belakangan semakin keras dan frontal, nyatanya memiliki basis ideasional, emosional, dan organisasional untuk terjadi, dengan atau tanpa ditunggangi pihak asing atau pihak luar angkasa sekalipun.

Jadi pihak-pihak tertentu yang terkait dengan kekuasaan tidak perlu mengerdilkan, apalagi melecehkan, pergerakan kawan-kawan dari komunitas ojek online dan adik-adik dari generasi muda kampus dan sekolahan, dengan menganggap mereka sebagai “pion asing”.

Apalagi sampai dikatakan ditunggangi, tapi tak sadar sedang ditunggangi. Sangat tidak etis, tidak apresiatif dan tidak sensisitif, bahkan blunder.

Jangan sampai ketidakmampuan kekuasaan dan para elite di atas sana untuk memahami “collective grievances” dari segmen pekerja informal, yang secara statistik tercatat sekitar 59 persen dari total tenaga kerja Indonesia, dan segmen anak muda yang kian linglung memikirkan masa depannya yang semakin tak pasti, mengubah seorang pejuang Almarhum Affan Kurniawan menjadi seorang Bouazizi.

Karena sejatinya secara komparatif, Affan Kurniawan, 21 tahun, sebagai korban yang tak berasal dari panggung utama, sejatinya adalah sosok yang secara kategoris mirip dengan Mohamed Bouazizi, 26 tahun, yang memicu Arab’s Spring di akhir tahun 2010-an lalu.

Affan Kurniawan bukanlah bagian dari pendemo aktif yang ikut “bertempur” dengan aparat di malam nahas itu. Semua orang mengetahui itu. Ia hanya “kebetulan” berada di lokasi di saat sedang menjalankan tugasnya sebagai anak muda yang bekerja di sektor informal, yakni sebagai pengantar makanan online dari komunitas pengemudi ojek online.

Ia sosok anak muda yang menjadi andalan pendapatan keluarganya. Namun, secara kolektif dan aspiratif, saya cukup yakin, Affan adalah bagian dari keluarga besar kelompok yang melakukan “pergerakan” di malam itu, di mana pesertanya memang banyak yang berasal dari kumpulan pengemudi ojek online.

Keberaniannya untuk melalui titik tempur di malam itu, menandakan bahwa Affan memang merasakan sedang berada di lokasi yang sama dengan teman-teman seperjuangannya di komunitas pengemudi online, meskipun Affan bukanlah peserta aktif yang melakukan perlawanan terhadap aparat.

Sementara itu, Bouazizi adalah seorang penjual buah yang telah lama menjadi tulang punggung keluarganya dan sangat frustrasi dengan kondisi kemiskinan, pengangguran, dan korupsi yang merajalela di Tunisia.

Setelah gerobak dan barang dagangannya disita, bahkan dikatakan ia sempat dilecehkan oleh polisi setempat, ia memutuskan pergi ke gedung pemerintahan terdekat untuk mengajukan pengaduan, namun tak mendapatkan tanggapan sepadan.

Sebagai bentuk protes, Bouazizi membakar dirinya sendiri di luar gedung pemerintah. Tak dinyana, tindakan Bouazizi viral di media sosial (Facebook), lalu memicu protes massal di Tunisia.

Bouazizi dianggap sebagai martir yang memicu gunung es kekecewaan publik di Tunisia meledak dan membuat pemerintahan Ben Ali yang telah bertahun-tahun memerintah di Tunisia dengan tangan besi lengser keprabon dalam waktu yang singkat.

Secara makro politik, dua figur ini tentu tidak bisa disamakan begitu saja. Indonesia jauh lebih demokratis dibanding Tunisia 15 tahun lalu.

Dan Affan berada di tengah-tengah pertunjukan demokrasi tersebut, di mana penyampaian aspirasi masih bisa didemonstrasikan sedemikian rupa, sebagai bagian dari pertunjukan kekecewaan kolektif (collective grievances) dari segmen masyarakat angkatan kerja produktif yang tidak berada di dalam pergerakan buruh beberapa jam sebelum tragedi terjadi.

Namun, Affan dan Bouazizi berada dalam konstelasi sosial ekonomi yang relatif sama yang akhirnya mengubah “collective grievances” menjadi sebuah gerakan agresif dan frontal. Logika situasinya tak jauh berbeda. Affan tak akan menjadi korban jika tak ada kendaraan Baracuda yang melindasnya.

Pun Bouazizi tak akan membakar diri, lalu menjadi martir untuk Arab’s Spring, jika barang dagangannya tak disita dan ia tak dilecehkan oleh polisi Tunisia.

Artinya, sama-sama ada faktor aparat di dalamnya, yang dianggap sebagai salah satu simbol kekuasaan negara.

Pendeknya, di sini saya tentu tidak sedang menakut-nakuti penguasa atau pemerintahan Indonesia dengan menyandingkan almarhum Affan Kurniawan dengan almarhum Bouazizi.

Yang ingin saya sampaikan adalah bahwa memang ada “collective grievances” di beberapa segmen masyarakat kita, yang saya yakin juga disimpan secara halus oleh mayoritas masyarakat Indonesia di dalam hatinya, terutama kelas menengah ke bawah.

Saya cukup yakin, kekecewaan kolektif ini tak diada-adakan, apalagi diciptakan oleh aktor asing, tapi riil, nyata, dan akan terus-menerus mencari peluang untuk meledak dengan berbagai cara dan bahasa.

Oleh karena itu, tegakkan supremasi hukum setegak-tegaknya atas kasus kematian Affan Kurniawan ini, lakukan semua yang perlu dilakukan untuk menghormati kematiannya, dan sikapi “kekecewaan kolektif” yang sudah menampakkan wajah riilnya ini dengan sikap dan kebijakan yang tepat.

Dengan kata lain, permintaan maaf saja sangatlah tidak cukup. Permintaan maaf dari Presiden, Kapolri, pejabat tinggi negara lainnya, termasuk dari para anggota DPR, tak ada artinya, jika tak ada perubahan mendasar yang menyasar “collective grievances” masyarakat banyak.

Janji Prabowo untuk menyatukan aset dan kekayaan bangsa di tangan negara harus segera berbuah menjadi distribusi kesempatan kerja dan pemerataan kesejahteraan ke semua elemen masyarakat Indonesia, bukan malah memperkaya para oligar dan orang dekat kekuasaan semata.

Janji 19 juta lapangan kerja dari Wapres Gibran Rakabuming yang sampai hari ini belum jelas juntrungannya, tapi videonya terus berkeliaran di media sosial generasi muda Indonesia, harus dibuat terang benderang di tataran operasional, jangan hanya menjadi pencitraan yang justru mempermainkan harapan jutaan generasi muda kita.

Tidak akan pernah ada persatuan dan kesatuan, jika masih banyak masyarakat Indonesia yang tertinggal di belakang, sementara segelintir pihak malah berjoget-joget dan berpesta pora di depan. Sungguh sangat tidak adil.


Penulis adalah Pengamat Sosial dan Kebijakan Publik.


Sumber: Kompas.com

Kapolsek Panggarangan Iptu Acep Komaridin Pimpin Apel Siaga di Mapolsek

By On Minggu, Agustus 31, 2025

 

Kapolsek Panggarangan Polres Lebak, Iptu Acep Komaridin, SH, saat memimpin apel siaga di halaman Mapolsek Panggarangan

Lebak, KabarViral79.Com – Guna menjaga kondusifitas kamtibmas wilayah, Kapolsek Panggarangan Polres Lebak, Iptu Acep Komaridin, SH, menggelar apel siaga bersama anggota di halaman Mapolsek Panggarangan, Minggu (31/8/2025).

Saat dikonfirmasi awak media ini, Kapolsek Panggarangan Iptu Acep Komaridin menyampaikan bahwa pelaksanaan apel siaga tersebut bertujuan untuk menjaga kondusifitas kamtibmas di wilayah hukum Polsek Panggarangan.

“Apel siaga ini dilakukan agar kita bisa mawas diri dengan kehati-hatian terhadap situasi saat ini, jaga diri, jaga mako, dan jaga kondusifitas kamtibmas di wilayah hukum Polsek Panggarangan,” kata Iptu Acep Komaridin.

Ia juga menghimbau kepada seluruh anggota agar tetap waspada dengan tetap memberikan pelayanan prima terhadap masyarakat.

“Dan saya menghimbau kepada seluruh anggota agar tetap waspada, serta melakukan pelayanan yang prima terhadap masyarakat,” tutupnya.

(Cup)

KSRB Desak Kejati Usut Dugaan Korupsi di Balai Kekarantinaan Kesehatan Kelas I Banten

By On Minggu, Agustus 31, 2025



Banten, KabarViral79.Com – Dugaan penyimpangan dalam pengelolaan anggaran Program Pencegahan dan Pengendalian Penyakit di Balai Kekarantinaan Kesehatan Kelas I Banten kembali mencuat. Berdasarkan hasil kajian, ditemukan adanya indikasi kuat praktik markup biaya perjalanan dinas, duplikasi kegiatan, hingga potensi kegiatan fiktif yang dinilai merugikan keuangan negara, Minggu, (31/8/2025).

Program yang menelan anggaran miliaran rupiah itu tercatat dalam Rencana Pelaksanaan Kegiatan (Rpk) Tahun Anggaran 2024. Hasil telaah sejumlah elemen masyarakat sipil menyebutkan adanya biaya transportasi yang dihitung berulang kali, pengadaan barang yang tidak transparan, serta laporan kegiatan yang tidak didukung bukti fisik.

Ketua Koalisi Suara Rakyat Banten (KSRB), Adi Muhdi, menyatakan bahwa indikasi korupsi ini tidak bisa dibiarkan. “Kami menduga telah terjadi penyalahgunaan anggaran dengan berbagai modus, mulai dari markup, perjalanan dinas berulang, hingga potensi kegiatan fiktif. Hal ini jelas mencederai prinsip transparansi dan akuntabilitas,” tegasnya.

Sekretaris KSRB, Fitra Riyadi, menambahkan bahwa pihaknya telah menyiapkan langkah hukum dan aksi massa sebagai bentuk tekanan publik. “Dalam waktu dekat KSRB akan melayangkan surat resmi ke Kejaksaan Tinggi (Kejati) Banten agar dilakukan penyelidikan mendalam. Selain itu, kami juga akan menggelar aksi unjuk rasa (unras) sebagai wujud protes terhadap dugaan ketidaksesuaian pengelolaan anggaran,” ujarnya.

Adi Muhdi menilai, jika persoalan ini tidak segera ditangani aparat penegak hukum, maka akan semakin memperburuk kepercayaan publik terhadap institusi pemerintah. Mereka mendesak agar Kejati Banten segera turun tangan melakukan audit investigatif serta memproses secara hukum jika terbukti terjadi tindak pidana korupsi.

“Ini bukan sekadar soal laporan keuangan, tetapi soal amanah rakyat. Setiap rupiah dari anggaran negara harus digunakan sebesar-besarnya untuk kepentingan masyarakat, bukan untuk memperkaya oknum tertentu,” pungkas Adi Muhdi. (*/red)

Kapolsek Panggarangan Polres Lebak, Hadiri Peringatan Maulid Nabi di Kampung Cidahu Desa Karangkamulyan

By On Minggu, Agustus 31, 2025

 

Kapolsek Panggarangan Polres Lebak Iptu Acep Komarudin bersama Bos Rimpung dan ketua MUI Kecamatan Cihara saat menghadiri Maulid Nabi di Kapung Cidahu Desa Karangkamulyan Kecamatan Cihara Kabupaten Lebak

LEBAK, KabarViral79.Com - Kepala Kepolisian Sektor (Kapolsek) Panggarangan Polres Lebak Iptu Acep Komarudin menghadiri peringatan Maulid Nabi besar Muhammad SAW 1446H yang diadakan oleh warga Kampung Cidahu Desa Karangkamulyan kecamatan Cihara Kabupaten Lebak Provinsi Banten, Minggu (31/8/2025).

Pada menghadiri Maulid Nabi tetsebut Kapolsek Panggarangan Iptu Acep Komarudin di dampingi oleh tokoh masyarakat Kampung Cidahu, Supar yang akrab disapa Bos Rimpung dan undangan lainnya.

Kapolsek Panggarangan Iptu Acep Komarudin terlihat khusyu dan serius mengikuti maulid Nabi tersebut pihaknya mengatakan” Alhamdulillah hari ini saya didampingi bos Rimpung serta undangan lainnya mengikuti acara memperingati maulid nabi besar Muhammad SAW,” ujarnya.

“Semoga dibulan yang penuh hikmat ini kita semua lindungi dan di karuniai rizki kesehatan oleh Allah SWT,” ungkap Kapolsek Panggarangan yang familiar ini.

Sementara Bos Rimpung mengucapkan Terimakasih kepada bapak Kapolsek dan anggota yang telah hadir di acara ini, semoga silaturahmi dan sinergitas antara Polri dan masyarakat tetap terjalin baik,” katanya.

Terpisah warga mengungkapkan kami merasa senang kegiatan memperingati maulid kang jeng Nabi Muhammad SAW turut dihadiri oleh bapak Kapolsek, mari kita dukung program-program pemerintah dan ciptakan kamtibmas agar terhindar dari hal-hal yang tidak diharapkan,” ungkapnya.

(Cup)

Wilayah Hukum Polresta Tangerang Kondusif, Masyarakat Tidak Perlu Khawatir Beraktivitas

By On Sabtu, Agustus 30, 2025

Kapolresta Tangerang, Kombes Pol Andi Muhammad Indra Waspada Amirullah

TANGERANG, KabarViral79.Com Kapolresta Tangerang, Kombes Pol Andi Muhammad Indra Waspada Amirullah memastikan wilayah hukum Polresta Tangerang kondusif. Oleh karenanya, kata dia, masyarakat tidak pelru khawatir saat hendak beraktivitas. 

“Alhamdulillah, situasi keamanan dan ketertiban masyarakat di wilkum Polresta Tangerang relatif aman. Jadi kalau masyarakat mau berkegiatan, silahkan, tidak perlu khawatir,” kata Indra Waspada, Sabtu, 30 Agustus 2025. 

Hal itu disampaikan Indra Waspada karena adanya pertanyaan dari beberapa pihak mengenai situasi Kamtibmas di wilayah hukum Polresta Tangerang.

Menurutnya, pertanyaan itu diajukan merujuk situasi terakhir di Jakarta dan beberapa daerah lainnya. 

Dia menegaskan, situasi di wilayah hukum Polresta Tangerang sejauh ini masih aman.

Pihaknya terus melakukan langkah-langkah bersama unsur Pemerintah Daerah dan unsur TNI untuk melakukan pendekatan ke berbagai kelompok masyarakat guna menjaga situasi agar tetap kondusif.

“Apabila ada perkembangannya situasi keamanan, maka kami akan secepatnya diinformasikan ke masyarakat,” pungkasnya.

Dia menambahkan, masyarakat juga diimbau segera melaporkan apabila mengetahui adanya peristiwa pidana atau hal-hal yang berkaitan dengan situasi Kamtibmas. 

“Alhamdulillah, sejauh ini situasi masih aman dan terkendali. Namun senantiasa waspada, jaga diri, keluarga, dan harta benda. Mari, sama-sama kita jaga daerah kita,” tutupnya. (Reno)

UNIKI Bireuen Gelar POMABA 2025, Sambut 1.598 Mahasiswa Baru

By On Sabtu, Agustus 30, 2025

Pembina Yayasan UNIKI Bireuen, Dr. H. Amiruddin Idris, SE, M.Si saat menyampaikan berbagai terobosan dan ketentuan di UNIKI, saat POMABA Tahun Akademik 2025/2026.  

BIREUEN, KabarViral79.Com Universitas Islam Kebangsaan Indonesia (UNIKI) Bireuen resmi menggelar Pekan Orientasi Mahasiswa Baru (POMABA) Tahun Akademik 2025/2026.

Acara pembukaan berlangsung di Halaman Tengah Kampus Utama UNIKI, Sabtu 30 Agustus 2025, dan diikuti 1.598 mahasiswa baru dari 13 program studi pada 7 Fakultas.

Pembukaan ditandai dengan penabuhan rapai bersama Bupati Bireuen, H. Mukhlis, ST, diwakili Asisten I Setdakab Bireuen, H. Mulyadi, SH, MM, yang juga Ketua Ikatan Alumni UNIKI, menyampaikan sambutan tertulis Bupati.

“Menjadi mahasiswa bukan sekadar status sosial, tetapi tanggung jawab intelektual dan moral. Mulai hari ini tanamkan dalam diri bahwa ilmu yang kalian pelajari harus kembali untuk kebaikan daerah dan masa depan yang lebih baik,” ujar Mulyadi.

Ia menegaskan, mahasiswa memiliki posisi strategis sebagai calon pemimpin, inovator, pendidik, dan penggerak masyarakat. Atas nama Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bireuen, Mulyadi juga mengapresiasi kontribusi UNIKI yang konsisten melahirkan lulusan berkualitas serta berperan aktif dalam pembangunan daerah.

Pembina Yayasan UNIKI, Dr. H. Amiruddin Idris, SE, M.Si, menekankan pentingnya mahasiswa menjunjung kejujuran, kedisiplinan, dan akhlak mulia.

“Jangan cepat puas, keberhasilan dimulai dari disiplin dan niat baik,” pesannya.

Sebanyak 1.598 mahasiswa baru dari 13 program studi pada 7 Fakultas UNIKI Bireuen saat mengikuti POMABA Tahun Akademik 2025/2026. 

Sementara itu, Rektor UNIKI, Dr. Zainuddin Iba, SE, MM menyebut, POMABA merupakan langkah awal membangun karakter unggul mahasiswa.

“Mahasiswa UNIKI harus menjadi agen perubahan, memiliki intelektualitas, dan semangat kontribusi. Jangan hanya mengejar gelar, tapi jadilah pribadi yang berdampak bagi masyarakat,” tegasnya.

Wakil Rektor III UNIKI, Dr. H. Kamaruddin, S.Pd, MM, CRP, CRFM menambahkan, POMABA tidak hanya seremonial, melainkan wadah pembentukan karakter dan soft skills.

“Sejak awal kita tanamkan nilai kepemimpinan, tanggung jawab sosial, dan semangat kolaborasi,” jelasnya.

Rangkaian POMABA akan berlangsung beberapa hari ke depan dengan agenda pengenalan akademik, organisasi mahasiswa, pelatihan karakter, hingga sesi motivasi.

Kegiatan ini diharapkan menjadi fondasi kokoh bagi mahasiswa baru UNIKI dalam menempuh dunia perkuliahan dan berkontribusi bagi bangsa. (Joniful Bahri)

Jaksa Akan Banding Vonis Nihil Pidana, Aset Miliaran Milik Nyonya N Kasus TPPU Dirampas untuk Negara

By On Sabtu, Agustus 30, 2025

Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Bireuen saat menjatuhkan putusan terhadap terdakwa Nyonya N dalam perkara Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU), Jumat, 29 Agustus 2025. 

BIREUEN, KabarViral79.Com Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Bireuen menjatuhkan putusan terhadap terdakwa Nyonya N dalam perkara Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU), Jumat, 29 Agustus 2025.

Dalam amar putusannya, Hakim menyatakan terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melanggar Pasal 3 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan TPPU, namun hanya dijatuhi vonis pidana nihil.

Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Bireuen, Munayuhfrizal, SH, MH melalui Kepala Seksi Intelijen, Wendy Yuhfrizal, SH, MH menjelaskan meskipun tidak ada pidana badan, Majelis Hakim memutuskan untuk merampas sejumlah aset milik terdakwa untuk negara.

Aset yang dirampas meliputi sebidang tanah seluas 200 m² berikut rumah tinggal di Desa Lamcot, Kecamatan Darul Imarah, Kabupaten Aceh Besar, satu unit mobil Toyota Alphard tahun 2022, satu unit mobil Honda CR-Z tahun 2015, sebelas barang bermerk, serta uang Rp 23 juta di rekening BCA KCP Ponorogo.

Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Bireuen saat menjatuhkan putusan terhadap terdakwa Nyonya N dalam perkara Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU), Jumat, 29 Agustus 2025. 

Sementara itu, 16 bidang tanah lain milik terdakwa yang berada di Kabupaten Bireuen dan Aceh Utara dikembalikan. Atas putusan tersebut, Jaksa Penuntut Umum (JPU) menyatakan banding, sedangkan penasihat hukum terdakwa menyatakan pikir-pikir.

“Nyonya N sendiri saat ini masih menjalani hukuman seumur hidup berdasarkan putusan Mahkamah Agung Nomor 4117K/PID.SUS/2025 tanggal 7 Mei 2025, dalam kasus narkotika dengan barang bukti 52,5 kilogram sabu dan 323.822 butir pil ekstasi,” ungkapnya.

“Perkara TPPU ini merupakan pengembangan dari kasus narkotika sebelumnya,” sebutnya. (Joniful Bahri)

Polri Minta Maaf ke Komunitas Ojol dan Keluarga Affan Kurniawan

By On Sabtu, Agustus 30, 2025

Karo Penmas Divisi Humas Polri, Brigjen Trunoyudo Wisnu Andiko

JAKARTA, KabarViral79.Com Polri menyampaikan permohonan maaf kepada komunitas pengemudi Ojek Online (Ojol) usai seorang Ojol bernama Affan Kurniawan yang meninggal dunia usai dilindas Kendaraan Taktis (Rantis) Brigade Mobil (Brimob) saat aksi demonstrasi, pada Kamis, 28 Agustus 2025.

“Atas nama pimpinan, sekali lagi, Bapak Kapolri menyampaikan duka cita mendalam dan permohonan kepada seluruh masyarakat dan komunitas ojol. Dan, khususnya kepada keluarga almarhum saudara Affan,” kata Karo Penmas Divhumas Polri, Brigjen Pol Trunoyudo Wisnu Andiko kepada wartawan saat konferensi pers, Jumat, 29 Agustus 2025.

Dia mewakili Kapolri Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo menyampaikan permintaan maaf Polri kepada keluarga korban yang ditinggalkan.

Truno juga mengajak seluruh masyarakat untuk ikut mendoakan Affan Kurniawan dan agar keluarganya selalu tabah.

“Bersama-sama mari kita doakan semoga almarhum husnul khotimah dan semoga keluarga tetap diberikan kekuatan dan ketabahan,” ujarnya.

Diketahui, Affan Kurniawan merupakan seorang ojol yang tengah menjalankan tugasnya pada Kamis, 28 Agustus 2025.

Di tengah kerumunan massa aksi, Affan yang berada di kawasan Pejompongan, Jakarta Pusat, karena ingin mengantarkan makanan yang dipesan pembeli.

Namun, ketika hendak menyeberang jalan, Affan Kurniawan terjerembab ketika melihat sebuah kendaraan rantis berlapis baja yang bergerak cepat ke arahnya.

Tubuh Affan Kurniawan sempat tersangkut di roda mobil besi bertuliskan Brimob itu. Di tengah kerumunan massa, pengendara rantis justru menancapkan gas.

Affan Kurniawan pun meninggal dunia di tengah perjalanan menuju rumah sakit. Saat ini, tujuh orang polisi sudah ditangkap dan tengah menjalani pemeriksaan oleh Divpropam Polri.

Para polisi tersebut, di antaranya Kompol C, Aipda M, Bripka R, Briptu D, Bripda M, Baraka Y, dan Baraka J.

Proses pemeriksaan etik ini masih berlangsung, dan ketujuh orang anggota ini sudah ditahan dalam penempatan khusus (Patsus) di Divpropam Polri selama 20 hari ke depan untuk kebutuhan pemeriksaan. (*/red)

Affan Ojol Tewas Dilindas Rantis Brimob, Puan Desak Polisi Usut Tuntas dan Transparan

By On Sabtu, Agustus 30, 2025

Ketua DPR RI, Puan Maharani

JAKARTA, KabarViral79.Com Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Republik Indonesia (RI), Puan Maharani menyampaikan belasungkawa terhadap korban insiden driver Ojek Online (Ojol) dilindas mobil Kendaraan Taktis (Rantis) Brimob dalam aksi demo, pada Kamis, 28 Agustus 2025.

Dia meminta aparat penegak hukum mengusut tuntas insiden terhadap Affan Kurniawan ini.

“Dukacita mendalam atas jatuhnya korban meninggal dunia dalam demo semalam, secara khusus bagi driver ojek online bernama Affan Kurniawan. Semoga almarhum diterima di sisi Allah SWT,” ujar Puan kepada wartawan, Jumat, 29 Agustus 2025.

Puan meminta pihak kepolisian untuk mengusut peristiwa tersebut secara transparan. Ia ingin investigasi dilakukan secara menyeluruh.

“Tentunya polisi harus bisa mengusut tuntas insiden memilukan ini, dan harus dilakukan secara transparan,” pungkasnya.

Diketahui sebelumnya, sebanyak tujuh orang polisi ditangkap terkait insiden rantis menabrak driver ojol ini. Ketujuh polisi tersebut adalah Kompol C, Aipda M, Bripka R, Briptu D, Bripda M, Baraka Y, dan Baraka J.

Selain driver ojol yang ditabrak polisi hingga tewas, diketahui ada juga pengemudi ojek online yang terluka. Driver itu bernama Moh Umar Amarudin.

Puan mendesak korban yang terluka untuk diberikan perlindungan dengan maksimal. Ia meminta korban dirawat hingga sembuh.

“Korban-korban yang terluka saat aksi demo kemarin harus diberikan perlindungan sebaik-baiknya, dirawat hingga sembuh,” ujarnya.

Terkait aksi unjuk rasa yang belakangan didapat pihaknya, Puan memastikan DPR mendengarkan aspirasi masyarakat. Ia menyebut DPR RI akan berbenah.

“DPR mendengarkan dan memahami aspirasi masyarakat. Semuanya tentu akan ditindaklanjuti sesuai mekanisme yang ada. DPR memiliki komitmen untuk terus membenahi diri,” ucapnya.

“Dan bagi aparat kepolisian atau personel keamanan agar mengamankan aksi-aksi demo sesuai prosedur dan SOP, tanpa bertindak berlebihan, apalagi sampai melukai rakyat,” imbuhnya.

Diketahui sebelumnya, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo bertemu dengan pihak keluarga Affan Kurniawan, sopir Ojol yang tewas dilindas Rantis Brimob di Jakarta.

Kapolri menyampaikan dukacita yang mendalam ke keluarga korban dan berjanji akan mengusut tuntas insiden ini.

“Yang pertama saya mengucapkan belasungkawa dan dukacita yang sangat mendalam terhadap almarhum Affan dan tentunya kepada seluruh keluarga atas musibah yang terjadi,” ujar Jenderal Sigit.

Dia telah bertemu dengan keluarga almarhum Affan di RSCM. Ia menyampaikan permohonan maaf secara langsung kepada keluarga Affan.

“Tadi kami menyampaikan belasungkawa dan minta maaf, dari institusi kami atas musibah yang terjadi,” ucapnya. (*/red)

Prabowo Melayat ke Rumah Affan Kurniawan, Driver Ojol yang Tewas Dilindas Rantis Brimob

By On Sabtu, Agustus 30, 2025

Presiden Prabowo Subianto saat melayat ke rumah duka Affan Kurniawan di Jakarta, Jumat malam, 29 Agustus 2025. 

JAKARTA, KabarViral79.Com Presiden Prabowo Subianto melayat ke rumah duka pengemudi Ojek Online (Ojol) bernama Affan Kurniawan yang tewas dilindas Kendaraan Taktis (Rantis) Brimob, saat aksi penyampaian pendapat atau demonstrasi di Pejompongan, Jakarta Pusat, Kamis, 28 Agustus 2025.

Dalam kunjungannya, Prabowo menyampaikan duka cita terhadap keluarga Affan.

Diketahui, Prabowo tiba di rumah duka sekitar pukul 21.51 WIB.  Prabowo didampingi Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya.

Presiden Prabowo juga telah mengucapkan ikut berduka cita atas meninggalnya Affan Kurniawan.

“Saya atas nama pribadi dan atas nama pemerintah Republik Indonesia, mengucapkan turut berduka cita dan menyampaikan bela sungkawa yang sedalam-dalamnya,” ujar Prabowo.

Prabowo juga memastikan bahwa pemerintah Indonesia akan menjamin kehidupan keluarga Affan Kurniawan.

“Pemerintah akan menjamin kehidupan keluarganya dan akan memberi perhatian khusus kepada baik orang tuanya dan adik-adik, dan kakak-kakaknya,” pungkasnya. (*/red)

Kapolda Banten Brigjen Hengki Temui Massa Aksi Solidaritas Ojol Affan Kurniawan

By On Sabtu, Agustus 30, 2025

Kapolda Banten, Brigjen Hengki saat menemui massa aksi solidaritas Ojol Affan Kurniawan, di depan Mapolda Banten, Kota Serang, Jumat, 29 Agustus 2025. 

SERANG, KabarViral79.Com Massa pengemudi Ojek Online (Ojol) menggelar aksi di depan Mapolda Banten, Kota Serang, terkait tewasnya Affan Kurniawan, Jumat, 29 Agustus 2025.

Ketua Serikat Pengemudi Angkutan Roda Dua (Serdadu), Dody Munir meminta kasus tewasnya Affan yang dilindas mobil rantis Brimob diusut tuntas.

Ia meyakini Polri bisa adil dalam menangani kasus tersebut.

“Kami menuntut transparansi dalam pengusutan. Kami yakin dan percaya Polri dan Kadiv Propam Polri akan berlaku seadil-adilnya,” ujarnya.

Menurutnya, aksi yang digelar siang tadi dilakukan secara spontan. Ia menyebut Ojol di wilayah Serang, Cilegon, Lebak, dan Pandeglang memiliki solidaritas terkait kasus tersebut.

“Ini aksi dadakan, informasinya tadi pagi. Jadi ini murni solidaritas,” uja Dodi.

Sementara itu, Kapolda Banten Brigjen Hengki meyakinkan para driver Ojol bahwa kasus tersebut akan diusut secara transparan.

Saat ini, kata dia, Kapolri telah mengambil tindakan dan langkah cepat, tegas terhadap oknum personil yang diduga melakukan pelanggaran.

“Personil yang melakukan pelanggaran, sudah ditangani oleh Kadivpropam Mabes Polri,” ujar Hengki.

Hengki juga menegaskan seluruh proses akan dijalankan dengan serius, sesuai instruksi pimpinan Kapolri.

Hengki berharap, masyarakat, khususnya komunitas Ojol dapat menjaga kenyamanan di Banten.

“Jadi semuanya akan ditangani dengan serius, tegas, mengambil langkah-langkah terhadap pelanggaran. Harapan saya sebagai Kapolda Banten, mari kita jaga Banten, karena Banten adalah milik kita semua,” pungkasnya.

Hengki juga menyampaikan rasa duka yang mendalam atas kematiannya Affan Kurniawan, korban dalam peristiwa tersebut. 

“Kami dari keluarga besar Polda Banten turut serta berbelasungkawa, turut berduka cita atas meninggalnya saudara kami, Affan Kurniawan,” tutupnya. (*/red)

Affan Kurniawan Tewas Dilindas Rantis Brimob, Polresta Serang Kota Gelar Salat Gaib

By On Sabtu, Agustus 30, 2025

Polresta Serang Kota menggelar salat gaib untuk Affan Kurniawan, Jumat, 29 Agustus 2025. 

SERANG, KabarViral79.Com Jajaran Polresta Serang Kota menggelar salat gaib untuk pengemudi Ojek Online (Ojol) Affan Kurniawan yang tewas dilindas Rantis Brimob di Jakarta.

Kapolresta Serang Kota, Kombes Yudha Satria bersama jajaran juga turut mendoakan agar Affan meninggal dalam keadaan husnulkhatimah.

Salat gaib dilaksanakan di Masjid Nurul Hukkam, Mapolresta Serang Kota, Jalan Ahmad Yani, usai salat Jumat, pada Jumat, 29 Agustus 2025.

Selain salat gaib, doa bersama juga dipanjatkan agar Affan mendapat tempat terbaik di sisi Allah SWT serta diampuni segala dosa-dosanya.

Kombes Yudha Satria menyampaikan belasungkawa yang mendalam atas berpulangnya almarhum.

“Semoga almarhum Affan Kurniawan husnulkhatimah, diterima amal ibadahnya, dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan,” ujarnya.

Menurutnya, salat gaib yang digelar di Mapolresta Serang Kota merupakan bentuk solidaritas dari jajaran Kepolisian dan jemaah Masjid Nurul Hukkam kepada almarhum.

“Salat gaib ini merupakan bentuk kepedulian sekaligus doa bersama dari keluarga besar Polresta Serang Kota dan jemaah Masjid Nurul Hukkam, sebagai wujud solidaritas serta penghormatan terakhir bagi almarhum,” tuturnya.

Diketahui, Affan Kurniawan tewas usai dilindas kendaraan taktis (rantis) Brimob di kawasan Pejompongan, Jakarta Pusat, pada Kamis malam, 28 Agustus 2025. Rantis Brimob itu awalnya menabrak Affan.

Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo telah menyampaikan permohonan maaf kepada keluarga korban dan berjanji mengusut kasus tersebut secara transparan. Sebanyak tujuh anggota Brimob diamankan buntut peristiwa itu.

Presiden Prabowo Subianto juga menyatakan kekecewaannya terhadap tindakan personel Brimob yang menyebabkan Affan tewas.

Ia meminta kasus ini diusut tuntas dan pelaku dijatuhi hukuman sekeras-kerasnya. (*/red)

Hidup Ditindas, Mati Pun Dilindas

By On Sabtu, Agustus 30, 2025

Massa demonstrasi di depan Mako Brimob Kwitang, Jakarta Pusat, Jumat, 29 Agustus 2025. 

Oleh: Ari Junaedi

TRAGEDI gugurnya pahlawan keluarga berjaket dan berhelm warna “hijau” akibat tindakan brutal aparat berseragam “coklat” harusnya tidak boleh terjadi.

Affan Kurniawan, pengemudi ojek daring terjebak dalam suasana chaos di Pejompongan, Jakarta, Kamis malam (28 Agustus 2025).

Tembakan gas air mata dari polisi yang membabi buta kearah perkampungan penduduk di Kawasan Pejompongan membuat warga dan pengunjuk rasa – termasuk Affan – terjebak dalam lautan massa.

Sebagai pengemudi ojek daring, Affan pasti merasakan betapa sulitnya mendapatkan penghasilan halal di atas jalanan. Mengantar penumpang dan barang adalah tugasnya sehari-hari demi mendapatkan uang untuk makan.

Bukan Rp 3 juta per hari yang didapatkan. Bukan pula bebas penghapusan pemotongan pajak penghasilan karena setiap orderan yang masuk, ada jatah untuk aplikator.

Affan tidak mendapatkan tunjangan beras, bantuan listrik dan telepon seperti anggota Dewan yang memiliki bakat berjoget dan bersilat lidah.

Siapapun yang melihat berbagai versi video yang beredar terkait terlindasnya Affan di jalanan, sepertinya sepakat ada kesalahan prosedur penanganan aksi unjuk rasa oleh aparat.

Pengalaman saya meliput berbagai aksi unjuk rasa di berbagai belahan Tanah Air sepanjang 1997 - 2000-an, aksi brutal pengemudi kendaraan taktis (Rantis) berjenis Barracuda memang di luar akal sehat.

Prosedur standar membubarkan aksi unjuk rasa yang melewati batas waktu, biasanya menggunakan kendaraan water cannon agar konsentrasi massa terurai.

Selama aksi unjuk rasa mahasiswa dan buruh di pekan-pekan terakhir Agustus 2025 ini, aparat kepolisian begitu represif dan “ringan tangan”.

Profiling polisi yang humanis usai pemisahan Polri dari TNI ternyata tidak mengubah tabiat buruk dari kepolisian.

Polisi pun tidak bisa membedakan lagi mana jurnalis, pengunjuk rasa dan warga sipil biasa yang tidak terlibat dalam aksi demonstrasi. Semuanya dianggap setara sehingga penanganan massa menjadi bias.

Tragedi seperti di Pejompongan semalam, terus berulang dan tidak bisa menyadarkan polisi dan pemerintah bahwa pola pendekatan kekerasan hanya akan melahirkan gelombang perlawanan baru.

Gugurnya Affan menjadi “trigger” bagi aksi unjuk rasa susulan. Mereka yang semula apatis kini ikut turun ke jalan.

Di tulisan kolom saya sebelumnya, “Pesan dari Pati untuk Indonesia” (Kompas.com, 14/08/2025), saya menulis: Bisa dibayangkan di saat rakyat tengah gunda gulana karena kesulitan mencari lapangan pekerjaan di tengah semakin maraknya pemutusan hubungan kerja (PHK), semakin tingginya angka kriminalitas akibat pengangguran; timpangan penghasilan yang menimbulkan kecemburuan sosial; harga sembako yang semakin menggila dengan takaran yang rawan disalahgunakan; korupsi yang semakin merajalela setelah sebelumnya ramai dengan kejadian pemblokiran tabungan oleh PPATK dan kontroversi perampasan tanah, maka kenaikan pajak menjadi klimaks dari kejengahan rakyat terhadap kepengapan saat ini.

Belum lagi perisitiwa terkini: kepongahan sikap anggota DPR-RI yang nirempati terhadap penderitaan rakyat dan kasus penangkapan Immanuel Ebenezer alias Noel karena dugaan korupsi di Kementerian Ketenagakerjaan, menjadi amunisi baru dari pengunjuk rasa.

Saya khawatir jika Presiden Prabowo Subianto dan para pembantunya tidak tepat dalam mengambil langkah antisipatif dan pengambilan keputusan, aksi demonstrasi besar di Pati akan berlanjut dan terus bermunculan di berbagai daerah lain.

Kejadian Pati, Jawa Tengah dan Bone, Sulawesi Selatan serta ditambah lagi aksi represif aparat dalam penanganan aksi mahasiswa dan buruh akhir -akhir ini, hingga meninggalnya pengemudi ojek Affan Kurniawan hampir mirip seperti awal terjadinya fenomena "Arab Spring".

Fenomena jatuhnya berbagai rezim pemerintahan yang kuat akibat Arab Spring seperti rangkaian peristiwa revolusi dan protes yang terjadi di negara-negara Arab pada awal tahun 2010-an.

Protes yang bermula dari aksi bakar diri Mohamed Bouazizi di Kamis pagi, 17 Desember 2010 di Tunisia, menjadi pemicu awal gelombang protes di seluruh wilayah Tunisia.

Bouazizi marah karena alat timbangan yang dijadikan modal kerjanya sebagai pedagang kaki lima, disita polisi. Polisi menganggap Bouazizi adalah pedagang kaki lima yang liar karena berjualan tanpa izin di pinggir jalan.

Pengaduan Bouazizi ke kantor Gubernur di Sidi Bouzid tidak digubris. Bouazizi kecewa karena aspirasinya dianggap angin lalu. Karena kadung frustasi, Bouazizi memilih membakar diri sebagai tanda protes.

Tewasnya pedagang kaki lima yang dianggap musuh negara oleh polisi memantik kerusahan di berbagai daerah di Tunisia.

Akibatnya, Presiden Tunisia Zine El Abidine Ben Ali berhasil ditumbangkan setelah berkuasa selama lebih dari dua dekade.

Dari Tunisia, gelombang protes terus menjalar ke negara-negara Arab lainnya menuntut perubahan politik dan sosial, termasuk demokrasi, hak asasi manusia, dan perbaikan ekonomi.

Beberapa pemerintahan seperti di Mesir, Libya, Yaman dan Suriah berhasil digulingkan sebagai akibat dari gelombang protes ini, sementara yang lain mengalami perubahan signifikan dalam sistem politik.

Tewasnya Affan harus jadi pelajaran Presiden Prabowo Subianto untuk mengevaluasi kepemimpinan Listyo Sigit Prabowo di Polri.

Tragedi tewasnya ratusan penonton yang memadati Stadion Kanjuruhan, Malang, adalah salah satu contoh bukti kegagalan Kapolri Listyo Sigit Prabowo.

Matinya Suara Keadilan

Kelompok pengunjuk rasa dan komunitas pengemudi ojol yang kohesif ditandai dengan anggota yang saling solider, rasa memiliki yang kuat terhadap kelompok, dan bersedia bekerja sama secara efektif.

Massa yang marah usai melihat dan mendengar kejadian Rantis Brimob melindas Affan Kurniawan, sontak berkumpul tanpa komando mengepung Markas Komando Brimob di Kwitang, Kawasan Senen, Kamis dini hari hingga Jumat ini (28-29 Agustus 2025).

Tidak ada ketakutan menghadapi aparat bersenjata yang gemar menembakkan gas air mata ke arah massa.

Realitas sosial-politik yang terjadi sekarang ini merupakan cermin nyata dari dinamika yang terjadi sekarang ini.

Bagaimana rakyat tidak marah dan jengah jika ada anggota Dewan yang begitu mudah mengeluarkan kata “tolol” untuk para peneriak pembubaran DPR-RI.

Secara teoritis dan praksis, begitu muskil membubarkan DPR. Yang diminta rakyat adalah hargai perasaan dan pahami derita rakyat. Di saat rakyat seperti Affan Kurniawan kelimpungan mencari makan sehari-hari, anggota Dewan dan para pejabat pun masih tega berjoget.

Di saat rakyat membutuhkan keteladanan, masih ada pula Wakil Menteri yang bermental preman terminal.

Di saat rakyat butuh keteladanan, justru pemerintah malah mengobral penghargaan Bintang Mahaputra untuk sosok-sosok yang tidak memberikan keteladanan.

Di era kecanggihan teknologi seperti sekarang ini, ketika kelancaran sinyal seluler di sekitar Kawasan Senayan “diganggu” yang membuat sulit sejumlah stasiun televisi swasta menyiarkan secara live aksi-aksi unjuk rasa, publik masih mendapat asupan informasi dari media sosial. Netizen beralih rupa menjadi “DPR” yang sesungguhnya: Dewan Penyampai Realitas!

Pemerintahan represif di mana pun, selalu menganggap kritik adalah pembangkangan atau tindakan yang tidak cinta terhadap negara.

Pemerintah – apalagi aparat – tidak pernah mau mengerti kalau mengkritik pemerintah, termasuk kelakuan para anggota DPR yang memuakkan, adalah bentuk tertinggi dari rasa cinta dan kepedulian terhadap negara dengan semua instrumennya.

Andaikan negara adalah rumah kita bersama, apakah penghuni rumah tidak boleh menyampaikan keluh kesah adanya dinding rumah yang retak?

Apakah salah jika penghuni rumah mengingatkan adanya atap rumah yang bocor atau lantai rumah yang bocel?

Kita tidak mau rumah kita bersama runtuh dan hancur dimakan rayap korupsi yang menggerogoti seluruh kusen dan atap rumah.

Kita tidak ingin pengelola rumah kita bersama salah membelanjakan uang demi hal yang sia-sia.

Kepada Affan Kurniawan dan keluarga yang ditinggalkan, kami semua berhutang budi.

Dari Affan kita belajar arti kerasnya hidup di jalanan.

Dari Affan kami mengambil hikmah, keadilan harus terus disuarakan walau dilindas kepongahan aparat.


Penulis adalah Akademisi dan Konsultan Komunikasi.


Sumber: Kompas.com

Do’akan Driver Ojol Alm Affan Kurniawan, Kapolres Lebak Bersama OKP dan Komunitas Ojol Gelar Do’a Bersama

By On Jumat, Agustus 29, 2025

 


Lebak, KabarViral79.Com – Dalam rangka mendo’akan almarhum Driver Ojol, Affan Kurniawan, Kapolres Lebak Polda Banten AKBP Herfio Zaki, S.I.K., M.H. bersama Organisasi Kemasyarakatan Pemuda (OKP) Lebak dan Komunitas Ojek Online (Ojol) Lebak menggelar do’a bersama di Aula Sanika Satyawada Polres Lebak, Jumat (29/8/2025).

Kegiatan tersebut dihadiri langsung Kapolres Lebak AKBP Herfio Zaki didampingi Wakapolres Lebak Kompol Eddy Prastyo H, S.E., M.M., para Pejabat Utama Polres Lebak, Ustadz Deden, perwakilan OKP Lebak, pengurus komunitas Ojol Lebak, serta ratusan driver Ojol.

Dalam sambutannya, Kapolres Lebak menyampaikan rasa belasungkawa yang mendalam atas wafatnya almarhum Affan Kurniawan.

“Kami atas nama Pimpinan dan Keluarga Besar Polres Lebak mengucapkan turut berbelasungkawa yang sedalam-dalamnya atas wafatnya saudara kita, Driver Ojol almarhum Affan Kurniawan, di Jakarta. Semoga almarhum diterima di sisi Allah SWT dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan. Aamiin,” ujar Zaki.

Lebih lanjut, Kapolres menegaskan bahwa peristiwa ini menjadi bahan introspeksi bagi seluruh jajaran Polres Lebak dalam meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat.

“Kejadian ini menjadi koreksi sekaligus introspeksi bagi kami, agar ke depan kami dapat lebih baik lagi dalam melaksanakan tugas melindungi, mengayomi, dan melayani masyarakat,” imbuhnya.

Melalui kegiatan ini, Kapolres juga mengapresiasi sinergitas yang terjalin antara Polres Lebak, OKP, dan komunitas Ojol Lebak.

 “Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang hadir. Semoga dengan doa bersama ini, silaturahmi antara Polres Lebak dengan OKP dan komunitas Ojol semakin erat,” tutur Kapolres.

Acara ditutup dengan do’a bersama yang dipimpin oleh Ustadz Deden, diikuti seluruh peserta dengan khidmat untuk mendo’akan almarhum Affan Kurniawan.

(Cup)

Gerakan Pangan Murah Bidpropam Polda Banten Bersama Bulog, Masyarakat Merasa Terbantu

By On Jumat, Agustus 29, 2025

Bidpropam Polda Banten bersama Divisi Propam Polri serta Bulog saat menggelar Gerakan Pangan Murah, di depan Mako Polda Banten, Kamis, 28 Agustus 2025. 

SERANG, KabarViral79.ComBidang Propam Polda Banten bersama Divisi Propam Polri serta Bulog menggelar Gerakan Pangan Murah untuk masyarakat, di depan Mako Polda Banten, Kamis, 28 Agustus 2025.

Kegiatan tersebut bertujuan untuk membantu dan wujud kepedulian terhadap masyarakat untuk mendapatkan kebutuhan pokok (beras SPHP, telur, minyak goreng) yang berkualitas bagus dengan harga terjangkau, sekaligus mendukung program pemerintah dalam menjaga stabilitas pangan di masyarakat. 

“Beras SPHP dijual Rp 55 ribu rupiah per 5 kg. Sedangkan, 10 kg berasa dan 1 liter minyak goreng bonus telur 6 butir seharga Rp 125 ribu. Ini murah berkualitas dan sangat membantu kami, sering sering lah untuk acara begini,” kata Fatimah, salah satu masyarakat yang hadir dan ikut membeli.

Kegiatan tersebut mendapat sambutan positif dan antusias dari masyarakat. Acara ditutup pada pukul 09:00 WIB, karena stok habis.

Total komoditas yang terjual, di antaranya beras sebanyak 200 sak (per sak isi 5 kg), minyak goreng sebanyak 600 liter, telur sebanyak 4.500 butir. (gus/red)

Nanang Cs Jalani Sidang Perdana Kasus Pungli Kawasan Pancatama Cikande di PN Serang

By On Jumat, Agustus 29, 2025

Nanang Cs saat menjalani sidang perdana di PN Serang, Kamis, 28 Agustus 2025. 

SERANG, KabarViral79.ComNanang Nasrulloh selaku Direktur Utama PT Pancatama Putra Mandiri, dan kawan-kawan menjalani sidang perdana terkait kasus pungutan liar (pungli), di Ruang Sidang Sari Pengadilan Negeri (PN) Serang, Kamis, 28 Agustus 2025.

Diberitakan sebelumnya, Tim Subdit III Jatanras Direktorat Reskrimum Polda Banten berhasil menangkap tujuh juru parkir (Jukir) diduga pelaku pungli terhadap sopir angkutan barang di Kawasan Industri Pancatama, Kecamatan Cikande, Kabupaten Serang, Banten, pada Kamis, 08 Mei 2025. 

Penangkapan mereka berdasarkan laporan informasi ke Polda Banten Laporan Informasi Nomor: LI/27/V/2025/Ditreskrimum.

Dalam kesempatan itu, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri (Kejari) Serang, Fitriah, membacakan dakwaan secara bergiliran.

Dalam uraian dakwaan, disebutkan bahwa PT Pancatama Putra Mandiri sebetulnya merupakan pengelola parkir di kawasan tersebut. Namun, perusahaan tersebut tidak memiliki izin resmi dari Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kabupaten Serang.

Fitriah menuturkan, pungutan dilakukan kepada sopir yang hendak masuk kawasan dengan menggunakan karcis palsu yang disediakan seorang bernama Dadang, yang saat ini masuk Daftar Pencarian Orang (DPO).

“Bahwa terdakwa Nanang Nasrulloh bersama-sama dengan terdakwa lainnya sengaja menguntungkan diri sendiri atau orang lain secara melawan hukum, memaksa seseorang dengan kekerasan atau ancaman kekerasan untuk memberikan sesuatu,” ujar Fitriah.

Karcis tersebut dipatok dengan tarif antara Rp 25 ribu hingga Rp 100 ribu per kendaraan, tergantung jenis truk atau kontainer. Hasil pungutan disebut mencapai Rp 80 juta hingga Rp 110 juta per bulan.

Sebagian dana diserahkan kepada Dadang dan pihak lain yang buron, sementara sisanya digunakan untuk operasional serta upah petugas lapangan.

Menurut Jaksa, pungutan itu disertai praktik pemaksaan terhadap sopir. Salah satu korban, Fajar Ramdhani mengaku dipaksa membayar Rp 15 ribu oleh dua terdakwa, Suherman dan Regi, pada Mei 2025.

“Semua yang melintas harus membayar, jika tidak maka tidak diperbolehkan masuk,” ucapnya.

Atas perbuatannya, sembilan terdakwa dijerat Pasal 368 ayat (1) KUHP tentang Pemerasan jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP jo Pasal 56 ayat (2) KUHP.

Sidang dilanjutkan kembali dalam tujuh hari kerja mendatang. (*/red)

Paguyuban Desa Bersatu Tonggak Menuju Desa Sejahtera di Kabupaten Lebak, Ini Kata Anggota DPRD Lebak Samboja Uton Witono

By On Jumat, Agustus 29, 2025

 

Anggota DPRD Kabupaten Lebak Samboja Uton Witono

LEBAK, KabarViral79.Com-Kehadiran Paguyuban Desa Bersatu yang baru saja dideklarasikan di Kabupaten Lebak mendapatkan dukungan penuh dari berbagai kalangan. Salah satunya datang dari anggota DPRD Kabupaten Lebak, Samboja Uton Witono, politisi asal Lebak Selatan dari partai pengusung Gerindra.

Paguyuban ini dideklarasikan dalam sebuah acara besar yang dihadiri langsung oleh Gubernur Banten Andra Soni dan Bupati Lebak Muhamad Hasbi Jayabaya, baru-baru ini.

Menurut Samboja, keberadaan Paguyuban Desa Bersatu menjadi bukti nyata semangat kebersamaan para kepala desa di Lebak untuk membawa perubahan positif, khususnya dalam meningkatkan taraf hidup masyarakat desa. Ia menegaskan, paguyuban ini akan menjadi wadah sinergi sekaligus motor penggerak agar program pembangunan dari tingkat pusat, provinsi hingga kabupaten bisa terserap dengan baik di wilayah pedesaan.

 “Paguyuban Desa Bersatu ini bukan hanya simbol kebersamaan, tetapi juga cerminan keseriusan para kepala desa untuk membangun desanya. Dengan adanya paguyuban ini, saya yakin roda pembangunan di Lebak akan semakin terarah, sinkron dengan program pemerintah, dan yang terpenting bisa menyentuh langsung kebutuhan masyarakat,” ungkap Samboja.

Lebih lanjut, politisi Gerindra yang dikenal dekat dengan kalangan akar rumput itu menilai, melalui wadah paguyuban ini, kepala desa bisa saling bertukar gagasan, memperkuat jaringan komunikasi, sekaligus mencari solusi bersama atas berbagai tantangan yang dihadapi desa, terutama dalam bidang ekonomi, infrastruktur, dan pelayanan masyarakat.

Samboja juga menyoroti pentingnya kemandirian desa. Menurutnya, melalui kolaborasi dan dukungan program pemerintah, desa-desa di Lebak dapat terlepas dari keterpurukan ekonomi yang selama ini menjadi hambatan dalam peningkatan kesejahteraan warganya.

“Kita ingin desa-desa di Kabupaten Lebak bangkit, maju, dan sejahtera. Dengan adanya Paguyuban Desa Bersatu, saya optimistis semangat kolektif ini akan mampu membawa perubahan besar. Desa harus menjadi garda terdepan dalam pembangunan, karena di situlah mayoritas masyarakat kita tinggal dan beraktivitas,” tuturnya.

Kehadiran Gubernur Banten Andra Soni dan Bupati Lebak Muhamad Hasbi Jayabaya dalam deklarasi ini, kata Samboja, juga menjadi sinyal kuat bahwa pemerintah daerah dan provinsi memberikan dukungan penuh terhadap inisiatif kepala desa. Hal ini sejalan dengan visi pemerintah dalam mewujudkan desa yang mandiri dan berdaya saing menuju kesejahteraan masyarakat yang lebih merata.

Paguyuban Desa Bersatu sendiri diharapkan tidak hanya menjadi forum komunikasi, tetapi juga wadah aksi nyata dalam mendorong program pembangunan, mulai dari pemanfaatan dana desa, pemberdayaan masyarakat, hingga upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia di tingkat desa.

Dengan adanya dukungan penuh dari legislatif, eksekutif, hingga para kepala desa, keberadaan Paguyuban Desa Bersatu di Kabupaten Lebak diyakini akan menjadi momentum penting dalam memperkuat pembangunan desa yang berkelanjutan, serta menjawab tantangan zaman yang semakin kompleks.

(Cup/Uday)

Mobil Brimob Tabrak Pengemudi Ojol Hingga Tewas saat Unjuk Rasa, Kapolri Listya Sigit: Saya Mohon Maaf Sedalam-dalamnya

By On Jumat, Agustus 29, 2025

 


Jakarta, KabarViral79.Com - Beredar video di kalangan wartawan Markas Brimob Polda Metro Jaya digeruduk rombongan ojek online, Kamis (28/8) malam. Diduga hal tersebut imbas insiden kendaraan baracuda Brimob yang menabrak dan melindas pengunjuk rasa berjaket ojek online hingga tewas di kawasan Bendungan Hilir.

Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo meminta maaf atas insiden yang terjadi.

“Saya menyesali terhadap peristiwa yang terjadi dan mohon maaf sedalam-dalamnya,” tutur Listyo saat dikonfirmasi wartawan.

Menurutnya, petugas kepolisian telah mencari keberadaan korban dan memerintahkan Propam Polri untuk menindaklanjuti perkara tersebut.

“Saat ini kami sedang mencari keberadaan korban dan saya minta untuk Propam melakukan penanganan lebih lanjut,” jelas dia.

“Sekali lagi kami mohon maaf yang sebesar-besarnya untuk korban dan seluruh keluarga dan juga seluruh keluarga besar ojol,” lanjut Listyo.

Gojek melalui induk usah GoTo menyampaikan duka mendalam dan keprihatinan atas terjadinya insiden di Pejompongan.

“Doa dan simpati tulus kami sampaikan untuk korban serta keluarga yang terdampak. Saat ini kami terus melakukan investigasi dan berkoordinasi dengan pihak terkait untuk mendapatkan kejelasan identitas korban lebih lanjut,” kata Direktur Public Affairs & Communications PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO), Ade Mulya dikutip dari keterangannya di Jakarta, Kamis (28/8) malam.

Pihak GoTo juga mengimbau seluruh pihak untuk menjaga keamanan dan ketertiban hingga situasi kondusif.

“Kami akan terus menyampaikan informasi resmi apabila terdapat perkembangan baru terkait insiden ini. Kami juga mengimbau seluruh pihak untuk menjaga keamanan dan ketertiban sehingga situasi tetap kondusif.