![]() |
| Pemkab Bireuen resmi memulai pembangunan Rumah Hunian Tetap (Huntap) bagi warga korban banjir bandang di Desa Balee Panah, Juli. |
BIREUEN, KabarViral79.Com - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bireuen resmi memulai pembangunan Rumah Hunian Tetap (Huntap) bagi warga korban banjir bandang di Desa Balee Panah, Kecamatan Juli.
Pembangunan tersebut ditandai dengan peletakan batu pertama oleh Bupati Bireuen, H. Mukhlis, ST, bersama Tenaga Ahli Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letjen TNI (Purn) Dr. Suharyanto, Rabu, 7 Januari 2026.
Pada tahap awal, pembangunan difokuskan pada tiga unit rumah permanen milik satu keluarga korban banjir bandang, yakni M. Saiful Bahri, Zainal Abidin, dan M. Anwar.
Ketiga rumah tersebut hilang tanpa sisa akibat diterjang banjir bandang hebat yang melanda kawasan itu pada 26-27 November 2025 lalu.
Pelaksana Tugas Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bireuen, Doli Mardian menjelaskan, Huntap yang dibangun merupakan rumah permanen tipe 36 plus.
Setiap unit rumah dianggarkan sekitar Rp 60 juta yang bersumber dari bantuan pemerintah.
“Selain pembangunan rumah, setiap kepala keluarga juga menerima bantuan tambahan sebesar Rp3 juta untuk pembelian perabot rumah tangga,” ujar Doli di sela-sela peninjauan lokasi pembangunan.
Sementara itu, Keuchik Balee Panah, Muntazar, SE mengungkapkan bahwa banjir bandang tersebut menimbulkan dampak yang sangat besar bagi masyarakat setempat. Sedikitnya 59 unit rumah hanyut, sembilan rumah tertimbun lumpur, dan 25 unit rumah lainnya berada dalam kondisi terancam longsor.
Tak hanya itu, delapan unit usaha milik warga turut hanyut terbawa arus. Sejumlah fasilitas umum seperti jembatan, gedung PKK, serta Dayah Istiqamatuddin Babul Ilmi mengalami kerusakan parah. Puluhan ekor hewan ternak milik warga juga dilaporkan mati atau hilang akibat derasnya arus banjir.
Hingga kini, sebanyak 365 kepala keluarga atau sekitar 1.346 jiwa masih mengungsi di empat lokasi pengungsian, yakni Dusun Kayee Jatoe, Dusun Barona, dan Dusun Alue U. Banyak warga yang rumahnya masih berdiri memilih bertahan di pengungsian karena khawatir terhadap ancaman longsor susulan.
Kondisi trauma masih dirasakan warga, terutama mereka yang bermukim di kawasan rawan longsor. Pembangunan Huntap ini pun disambut dengan harapan besar oleh para pengungsi agar proses pembangunan dapat dipercepat.
Warga berharap sebelum bulan suci Ramadhan tiba, mereka sudah dapat menempati hunian yang layak, aman, dan permanen untuk memulai kembali kehidupan yang lebih baik pascabencana. (Joniful Bahri)
